TRIBUN-MEDAN-WIKI : Menyelisik Biara Sipamutung di Sumut
Satu di antaranya Biara Sipamutung, yang terletak di wilayah Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padanglawas, Minggu (3/1/2020).
TRIBUN-MEDAN.com - Sebagian orang Indonesia mengenal Jawa Tengah memiliki banyak candi terkenal. Namun, ada satu kawasan Sumatera Utara yang memiliki beberapa candi, yakni kabupaten Padanglawas.
Satu di antaranya Biara Sipamutung, yang terletak di wilayah Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padanglawas, Minggu (3/1/2020).
Dilangsir dari Badan Arkeologi Sumatera Utara, Biara tersebut disebut masyarakat Padanglawas kepurbakalaan yang berasal dari masa pengaruh Hindu - Buddha.
Kemudian di sebut dengan kata kata biara. Namun, pada hal seperti ini pada masyarakat di Jawa, disebut peninggalan sejenis dengan kata candi.
Hal ini bermaksud dalam pengertian umumnya adalah penamaan bagi semua bangunan peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Baik berupa pemandian kuna, gapura atau gerbang kuna, maupun bangunan suci keagamaan.
Selanjutnya, lokasi kepurbakalaan di Kabupaten Padanglawas ini terbagi dalam dua wilayah administratif.
Masing-masing wilayah Kabupaten Padanglawas ada seperti Biara Tandihat, Biara Aek Sisangkilon, dan Biara Sipamutung dan untuk Kabupaten Padanglawas Utara.
Seperti, Biara Bahal, Biara Pulo, dan Biara Sitopayan. Hal ini sebelum pemekaran di era otonomi, daerah dimaksud merupakan bagian wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Sementara, yang letaknya sekitar tiga kilometer dari Binanga, ibukota Kecamatan Barumun Tengah. Arealnya berada di antara tiga wilayah desa, yakni Desa Siparau Lama, Siparau Baru, dan Desa Siharbogoan.
Lalu diapit dua sungai, yakni Sungai Batang paneyang, yang berada 600 meter di sebelah barat dan Sungai Barumun sekitar 100 meter di sebelah selatan.
Selanjutnya, Bangunan Induk Biara Sipamutung selesai dipugar tahun 1998. Denah bangunan bata ini bujursangkar berukuran 11 meter x 11 meter, tinggi 14 meter.
Dari permukaan tanah, bangunan ini terdiri dari 247 lapis bata. Pola ikatan bata berselang - seling lebar panjang dengan menggunakan spesi adonan bata.
Ada dua kaki bangunan biaro. Kaki pertama berdenah bujursangkar 11 m x 11 m setinggi 3,1 meter. Umumnya perbingkaian yang digunakan adalah pelipit rata, pelipit sisi genta, dan pelipit padma.
Lantai dan tangga berada di sebelah timur. Lebar tangga 2,12 meter dan kedua ujung bawah tangga masing - masing dilengkapi makara berbahan batuan tufaan.
Lalu lebar lantai kaki pertama 6,04 meter yang berada pada lapis ke - 65. Kemudian di bagian pinggir sisi utara, selatan, barat, dan sebagian sisi timur terdapat pagar langkan berupa susunan bata yang dibentuk seperti buah catur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/biara-sipamutung-yang-terletak-di-wilayah-desa-siparau.jpg)