Breaking News

Pesawat Sriwijaya Jatuh

FAKTA TERBARU SJ182, ternyata Sebelum Kecelakaan Bagian Penting Pengontrol Pesawat SJ182 Rusak

FAKTA TERBARU SJ182, ternyata Sebelum Kecelakaan Bagian Penting Pengontrol Pesawat SJ182 Rusak

Editor: Tariden Turnip
Flightradar24
FAKTA TERBARU SJ182, ternyata Sebelum Kecelakaan Bagian Penting Pengontrol Pesawat SJ182 Rusak. Boeing 737-500 SJ182 

TRIBUN-MEDAN.COM - FAKTA TERBARU SJ182, ternyata Sebelum Kecelakaan Bagian Penting Pengontrol Pesawat SJ182 Rusak 

Meski Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum menemukan memori Cockpit Voice Recorder (CVR) atau rekaman kokpit untuk melengkapi flight data recorder (FDR), ada titik terang pemicu Sriwijaya Air SJ182,  yang menewaskan 62 orang penumpang dan kru.

Ternyata Sriwijaya Air SJ182 yang sudah berumur 26 tahun dan sempat dikandangkan 9 bulan dilaporkan mengalami kerusakan pada throttle otomatis (autothrottle).

Dilansir Reuters, Penyelidik KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan ada masalah pada sistem autothrottle Sriwijaya Air SJ-182 beberapa hari sebelum penerbangan menuju Pontianak.

"Ada laporan kerusakan pada autothrottle beberapa hari sebelumnya pada teknisi di log perawatan."

"Tapi, kami tidak tahu apa masalahnya," ujar Nurcahyo  kepada Reuters, Jumat (22/1/2021).

"Jika kami menemukan CVR (cockpit voice recorder), kami bisa mendengar diskusi antar pilot, apa yang mereka bicarakan dan kami akan tahu apa masalahnya," imbuh dia.

Nurcahyo menegaskan masih belum jelas apakah sistem autothrottle menjadi penyebab Sriwijaya Air SJ-182 mengalami kecelakaan.

Ia menyebutkan, pesawat diperbolehkan terbang meski sistem autothrottle tak berfungsi.

Pasalnya, pilot bisa mengendalikan pesawat secara manual.

Dilansir Wall Street Journal yang dikutip Reuters, berdasarkan sumber terpercaya, data flight data recorder (FDR) menunjukkan sistem autothrottle Boeing 737 Sriwijaya Air SJ182 tidak beroperasi secara baik pada satu mesin pesawat saat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (9/1/2021).

Namun reaksi kru Boeing 737 Sriwijaya Air SJ182 (Pilot Captaian Afwan dan First Officer Diego Mamahit), tidak  mematikan sistem autothrottle.

Rekaman FDR mengindikasikan pilot (Captaian Afwan) mencoba membuat throttle yang macet berfungsi.

Chasing (kotak) CVR Sriwijaya SJ182 yang ditemukan Tim SAR. Hingga saat ini model memori yang merekam percakapan pilot dan kopilot belum ditemukan
Chasing (kotak) CVR Sriwijaya SJ182 yang ditemukan Tim SAR. Hingga saat ini model memori yang merekam percakapan pilot dan kopilot belum ditemukan (tribunnews)

Dilansir situs aerotime.aero, seseorang yang akrab dengan proses investigasi mengungkapkan bahwa selama penerbangan SJ182 autothrottle menghasilkan lebih banyak daya dorong pada satu dari dua mesin jet.

Jika pilot tidak menangani dorongan yang tidak seimbang dari mesin dengan benar, mengatur daya dorong pesawat secara manual, pesawat dapat berbelok ke samping atau bahkan menghunjam secara tiba-tiba.

Sebelumnya KNKT mengatakan kedua mesin jet Boeing 737 Sriwijaya Air SJ182 hidup saat pesawat menghantam laut.

Berdasarkan percakapan dan komunikasi dengan ATC, pilot Captaian Afwan tidak melaporkan keadaan darurat dan tidak melaporkan adanya masalah teknis terkait pesawat sebelum menghilang dari radar.

Sementara itu, pihak Sriwijaya belum bisa mengomentari soal teknis yang menyangkut penyidikan, sebelum ada pernyataan resmi dari KNKT.

Pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ182 dikandangkan selama sembilan bulan, sejak 23 Maret 2020 hingga 18 Desember 2020.

Sejak mulai beroperasi setelah absen beroperasi, pesawat ini telah melakukan perjalanan selama 144 jam 20 menit selama sebulan terakhir.

sriwijaya air

Dari data Flightradar24.com, sejak 23 Oktober 2020 hingga 18 Desember, mesin pesawat sempat dipanaskan selama 10 kali; empat kali di bengkel Merpati Maintenance Facility di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, dan enam kali diterbangkan di sekitar bengkel hingga Jalan Raya Juanda.

Sehari sebelum penerbangan komersial pertama dilakukan setelah dikandangkan, pesawat ini sempat terbang rendah pada ketinggian 60 meter, pada 18 Desember 2020 sekitar pukul 18:00 WIB.

Penerbangan pertama setelah lama absen beroperasi adalah pada 19 Desember, dari Surabaya menuju Jakarta, menempuh perjalanan selama 1 jam 9 menit.

Keesokan harinya, pada Desember 2020, pesawat ini mulai sibuk terbang melayani enam rute: Jakarta-Pontianak-Jakarta-Pangkal Pinang-Jakarta-Yogyakarta-Jakarta.

Selama sebulan terakhir, pesawat ini melakukan perjalanan dari Jakarta ke Pontianak sebanyak 9 kali dan Pontianak ke Jakarta sebanyak 11 kali.

'Pesawat laik terbang'
Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson dan Kementerian Perhubungan melalui rilis resmi menjelaskan pesawat jenis Boeing 737-599 itu disebut laik terbang dan memiliki Seritifkat Kelaikudaraan atau Certificate of Airworthiness yang diterbitkan pada 17 Desember 2021.

Jefferson juga menjelaskan Sriwijaya Air telah menjalani audit keamanan dan keselamatan yang diselenggarakan oleh BARS (Basic Aviation Risk Standard) yang independen serta berlaku secara internasional sejak bulan Maret 2020.

Audit yang dilakukan BARS meliputi "keselamatan, kualitas sistem manajemen, manual operasi, lisensi dan data pelatihan awak penerbangan serta pengawasan terhadap pesawat dan suku cadang."

Sebelumnya Selasa (19/1/2021), KNKT merilis laporan awal terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182.

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan, Kapten Nurcahyo Utomo, mengatakan pihaknya telah berhasil mengunduh data-data dari flight data recorder (FDR).

Mengutip Kompas.com, data yang diunduh berisi 370 parameter dan 18 data penerbangan.

"Kami sampaikan bahwa data dari flight data recorder sudah bisa kami dapatkan, sudah berhasil diunduh dengan total 370 parameter, 27 jam dan atau 18 penerbangan, termasuk penerbangan yang mengalami kecelakaan," bebernya, Selasa.

Lebih lanjut, Nurcahyo mengatakan pihaknya masih mendalami data yang telah diunduh tersebut.

Ia menyebutkan pihaknya masih belum bisa menginformasikan hasil temuan lebih lanjut pada masyarakat.

Namun, Nurcahyo mengaku KNKT sudah menemukan beberapa petunjuk untuk mendalami investigasi jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu.

Investigasi tersebut, ujar Nurcahyo, dilakukan bersama tim dari Amerika Serikat berjumlah 11 orang.

Selain itu, KNKT juga dibantu tim investigasi dari Singapura, The Transport Safety Investigation Bureau (TSIB).

"Terdiri dari empat orang National Transportation Safety Board (NTSB), empat orang dari Boeing, dua orang dari Federal Aviation Administration (FAA), dan satu orang dari General Electric sebagai pembuat mesin pesawat," ungkap Nurcahyo.

"Berpartisipasi dalam investigasi kali ini juga dua investigator TSIB Singapura dalam hal ini berpartisipasi dalam sesuai dengan kerja sama negara-negara ASEAN," lanjutnya.

Terkait hasil investigasi awal, Nurcahyo mengatakan pihaknya akan mengumumkan 30 hari setelah kecelakaan terjadi.

"Kami berharap bahwa dalam 30 hari setelah kecelakaan, kami akan mempublikasikan laporan awal atau preliminary report."

"Dan apabila nanti prelimenary ini akan dipublikasikan kami akan menyampaikan kepada masyarakat luas," pungkasnya. (tribunnews/aerotime.aero)

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Dugaan KNKT, Autothrottle jadi Penyebab Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh, Macet saat Lepas Landas?

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved