TRIBUN-MEDAN-WIKI: Uniknya Tradisi Mangure Lawik Sibolga

Satu di antara kawasan pesisir Indonesia, yakni Sibolga, Sumatera Utara, kawasan tersebut memiliki sebuah tradisi yang unik, seperti Mangure Lawik.

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN / HO
Tradisi Mangure Lawik pada masyarakat pesisir Sibolga 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Kemajemukan kebudayaan Indonesia tentunya melahirkan sebuah tradisi-tradisi yang unik. Baik itu sebuah tradisi adat istiadat dan tradisi masyarakatnya.

Apabila menilik satu di antara kawasan pesisir Indonesia, yakni Sibolga, Sumatera Utara, kawasan tersebut memiliki sebuah tradisi yang unik, seperti Mangure Lawik.

Warga Sibolga, Abdul Rasyid, mengatakan tradisi Mangure Lawik ini dilaksakan setiap tahun.

Mangure Lawik adalah acara budaya yang dilaksanakan dalam bentuk rasa wujud syukur.

Tradisi ini sudah ada sejak turun menurun hingga saat ini.

"Jadi tradisi itu biasanya bermakna sebagai memanjatkan doa untuk kelestarian laut. Mangure Lawik ini juga merupakan upacara tradisi masyarakat pesisir Sibolga dan Tapanuli Tengah. Jadi, kalau leluhur aku bilang, acara tradisi ini dilaksanakan ketika musim penangkapan ikan di laut," tuturnya, Sabtu (13/2/2021).

Warga Sibolga lainnya, Rahmi Utami, menjelaskan tradisi tersebut dilaksanakan ketika para nelayan akan memulai musim penangkapan ikan.

Biasanya tradisi ini dilaksanakan bersamaan dengan hari jadi Sibolga.

"Jadi ketagiatan Mangure Lawik ini juga dikenal sebagai tradisi Jamu Laut atau Kenduri Laut. Biasanya dilaksanakan acara ini di kawasan sibustak - bustak, Jalan Mojopahit Kota Sibolga," ujarnya.

Lanjutnya mengatakan, tetapi tradisi Mangure Lawik ini mulai jarang dilaksanakan.

Padahal acara ini sangat bagus untuk para nelayan, terutama sebagai promosi pariwisata Sibolga.

Keunikan dari tradisi ini, ialah menyertakan seekor kerbau.

"Jadi kerbaunya itu untuk disembelih. Dagingnya dimakan bersama-sama masyarakat, sedangkan kepalanya dihanyutkan ke laut," tuturnya.

Konon menurut orang tua zaman dahulu, kepala kerbau itu merupakan kurban persembahan supaya laut tidak lagi mencari korban dari manusia.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved