Breaking News:

Aek Sipitu Dai, Dipercayai Sembuhkan Penyakit dan Temukan Jodoh Bagi yang Meminumnya

Selain dikenal karena keunikan tujuh rasanya, siapa sangka Aek Sipitu Dai juga dipercaya oleh masyarakat sekitar memiliki banyak manfaat.

TRIBUN MEDAN/M ANIL
DESTINASi wisata Aek Sipitu Dai yang berada di Desa Limbong Mulana, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. 

TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR - Aek Sipitu Dai yang terdapat di Desa Limbong Mulana, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, merupakan tempat wisata yang memiliki keunikan tujuh pancuran air dengan rasa air yang berbeda-beda.

Selain dikenal karena keunikan tujuh rasanya, siapa sangka Aek Sipitu Dai juga dipercaya oleh masyarakat sekitar memiliki banyak manfaat.

"Masyarakat sekitar mempercainya air yang bersumber dari tujuh pancuran ini, bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dan yang minumnya belum menemukan jodoh, bisa dipertemukan," ucap Tamara Febiola, seorang pengunjung, Selasa (23/2/2021).

Selain itu, informasi yang di peroleh lainnya, keberadaan sumber mata air ini sangat kental dengan kisah legenda yang beredar di penduduk sekitar.

DESTINASI wisata Aek Sipitu Dai yang berada di Desa Limbong Mulana, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
DESTINASI wisata Aek Sipitu Dai yang berada di Desa Limbong Mulana, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. (TRIBUN MEDAN/M ANIL)

"Banyak versi kalau kita dengar-dengar. Ada yang mengatakan mata air ini berawal dari kisah Ompung Langgat Limbong. Generasi kedua dari Marga Limbong. Di mana pada saat itu, ia berusaha mencari sumber air. Setelah tak kunjung dapat, Ia pun berdoa," ucap Tamara.

"Setelahitu ditancapkan tongkat ke tanah sebanyak tujuh kali, sampai air keluar dari tanah. Jadilah inilah Aek Sipitu Dai yang dikenal sebagai tempat objek wisata sekarang," sambungnya.

Aek Sipitu Dai dalam beberapa tahun terkahir ini memang terus mengalami peningkatan sebagai tempat objek wisata.

Selain menjadi salah satu daya tarik wisata, mata air ini juga digunakan oleh penduduk sekitar untuk kebutuhan sehari-hari, terutama saat musim kemarau tiba.

Sementara itu, bagi pengunjung yang berasal dari pusat Kota Medan yang ini mendatangi lokasi, akan melakukan perjalanan darat selama lebih kurang lima jam dengan jarak tempuh sekitar 192 kilometer. (cr23/tribun-medan.com/tribunmedan.id)

Penulis: Muhammad Anil Rasyid
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved