Sosok Parlin Sianipar, Memilih Pulang Kampung untuk Bangun Perpustakaan Gratis di Toba
Semangat muda di usia tua ini terlihat dengan kegigihannya memperhatikan kebutuhan anak di desanya.
Penulis: Maurits Pardosi |
TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – “Setelah sekian lama tinggal di daerah lain, saya pulang kampung dan bayar hutang bagi kampung halaman. Kini umur saya sudah 72 tahun dan setelah pensiun saya ingin nikmati masa tua sembari berbagi dengan masyarakat kampung saya,” ujar Parlin Sianipar, pendiri perpustakaan Anugerah Kasih yang berada di Desa Sihailhail Sianipar, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba pada Sabtu (27/2/2021).
Permulaan pulang kampung ke Desa Sihailhail Sianipar berawal dari permintaan kakaknya sendiri untuk memperbaiki rumah peninggalan orangtunya. Sebagai seorang pensiunan Departemen Pekerjaan Umum, yang kini menjadi PUPR, ia merenung apa yang harus ia lakukan di kampung halaman agar bisa menjadi alasan kembali ke kampung halaman.
Sebelum lanjut pada kegiatannya di kampung halaman, pria kelahiran 17 Juni 1949 ini menguraikan perjalanan pendidikannya. Ia memulai pendidikannya di kampung halaman hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 2 Soposurung. Selanjutnya, ia mengecap pendidikan ke sebuah SMA di Bogor lalu mengikuti perkuliahan di ITB. Dengan bermodalkan ilmu dari ITB, ia diterima sebagai pegawai di Departemen Pekerjaan Umum.
“Saya SD Negeri I Onan Raja Balige, terus saya lanjut ke SMP Negeri 2 Soposurung. Memang karena saya bungsu, mamak saya berpikir bahwa saya harus ke Jawa. Maka, SMA saya di Bogor, dan dari sana saya melanjut ke ITB untuk S1 dan S2. Saya pegawai Departemen Pekerjaan Umum. Saya pernah di Jambi10 tahun, terus wilayah saya di Irian di Indonesia Timur,” sambung Parlin Sianipar.
Sebagai pekerja yang masuk dalam kategori berhasil dan sukses, ia sama sekali tidak punya keinginan kembali ke kampung halaman. Walaupun, ia telah membantu banyak hal di kampung halaman, namun untuk kembali ke kampung halaman adalah hal sulit diterimanya. Ia sudah larut dalam kehidupan dan pemikiran Jakarta.
Keinginan pulang kampung itu muncul setelah memikirkan permintaan kakaknya, merenovasi rumah peninggalan orangtuanya. Pria yang mengganrungi pengolahan sampah ini mengisahkan bahwa panggilan jiwa itu tidak bisa ditolak. Pada tahun 2017, sebuah peristiwa nahas menimpa seorang bocah, diperkosa paman dan ayah kandungnya secara bergantian. Inilah mulanya, ia terpanggil tinggal di kampung halaman.
“Aku melihat betapa sadisnya perlakuan ayah dan paman yang mencabuli seorang gadis. Bertepatan dengan itu, saya sudah diminta merenovasi rumah ini. Akhirnya, dalam permenungan dan doa, saya memutuskan untuk tinggal di kampung. Memberikan perhatian khusus bagi anak-anak di Toba ini,” sambung Parlin Sianipar.
Sejak tahun 2017, setelah melanglangbuana puluhan tahun, ia ingin tinggal di Desa Sihailhail Sianipar. Mula-mula, ia merenovasi rumah orangtuanya dengan tetap mempertahankan rumah tua dan menambah bangunan lain. Rumah tua disatukan dengan bangunan baru dengan desain yang lebih modern.
Seluruh keluarga masih tinggal di Jakarta, namun ia seringkali kembali ke kampung halaman untuk melihat situasi rumahnya. Dan akhir-akhir ini, ia lebih memilih tinggal di kampung halaman daripada di metropolitan.
Kembali pada semangatnya memerhatikan anak, ia sendiri kini telah membangun sebuah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), lalu anak sekolah minggu, dan kini ia membangun sebuah perpustakaan bagi anak secara gratis.
Satu hal yang membuat ia betah tinggal di kampung halaman sambil menikmati masa tuanya adalah ia ingin membayar hutang budinya pada kampung halaman yang telah melahirkan dan membesarkannya sebagai pribadi yang gigih. Dalam perjalanan karirnya sebagai pegawai Departemen PU, ia bersama masyarakat desa membangun tali air untuk seluruh rumah di kawasan tersebut. Ia kisahkan bahwa ia tidak ingin masyarakat sekitar kesulitan mendapatkan air seperti sediakala, ketika ia masih anak-anak.
“Ketika kami anak-anak, kami kesulitan mendapatkan air karena alasan jarak rumah ke mata air sangat jauh. Nah, ketika saya kerja, saya masukkan air itu ke rumah dengan cara mengerjakan tali air di desa ini. Bukan hanya desa ini yang merasakan, banyak masyarakat hingga ke kawasan Kota Balige sana,” sambung Parlin Sianipar.
Di umurnya yang sudah tua, ia masih memiliki segudang mimpi agar masyarakat desanya benar-benar merasakan kesejahteraan. Selain mendirikan perpustakaan, sekolah minggu dan PAUD, ia juga sedang menggeluti pengolahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik ini diperkirakan menjadi pakan ternak.
Tanah yang dimikinya akan dijadikan sebagai tempat peternakan percontohan agar masyarakat tertarik melakukannya dengan melihat secara langsung. Pria yang dikenal berbagi ini tengah menggandeng sejumlah perantau berdarah Batak Toba di Jakarta untuk bergabung membangun kampung halaman di Toba.
Semangat muda di usia tua ini terlihat dengan kegigihannya memperhatikan kebutuhan anak di desanya. Sebagai seorang inspiratory bagi masyarakat sekitar, ia juga memiliki sikap kerendahan hati. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai “ompung” karena dituakan baik dari sikap maupun teladan hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/parlin-sianipar-saat-memperkenalkan-perpustakaan-yang-ia-dirikan.jpg)