News Video
DIANGGRAP SAKRAL, Meriam Puntung Kerap Ditabur Bunga oleh Pengunjung Istana Maimoon
Meriam Puntung adalah jelmaan dari putra Raja Haru saat perang melawan Kesultanan Aceh sekitar Abad 15
TRIBUN-MEDAN.COM - Berkunjung ke Istana Maimoon tak lengkap jika tidak melihat Meriam Puntung.
Lokasinya hanya beberapa meter dari bangunan utama di Kompleks Istana Kesultanan Deli.
Meriam Puntung tidak terlepas dari sejarah kerajaan yang ada di Sumatera.
Sebelum Kesultanan Deli, sekitar Abad 15 sudah ada Kerajaan Haru.
Raja Haru mempunyai empat orang anak tiga putra dan satu putri.
Anak pertama bernama Tuan Mampang Yazid, anak kedua Tuan Putri Hijau, anak ketiga Tuan Mampang Khayali dan anak terakhir Tuan Mampang Sakti.
Terjadi peperangan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Haru sekitar abad ke 15-16.
Pertempuran ini dipiccu karena Tuan Putri Hijau tidak mau dipersunting Putra Kesultan Aceh.
Sehingga kerajaan Haru diserang oleh pasukan Kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Panglima Gocah Kalawang.
Sebelum berperang, Tuan Mampang Sakti terlebih dahulu bersumpah.
Sukmanya pun menyatu dengan meriam untuk memenangkan pertempuran.
Kerajaan Haru terus-menerus menembakkan meriam ke arah pasukan Kesultanan Aceh, akibatnya meriam panas lalu pecah.
Menurut informasi, sebagian besar meriam tersebut terlontar ke Labuhan Deli dan kini telah disimpan di Istana Maimoon.
Sedangkan bagian lainnya yang berupa moncong meriam, tercampak ke Desa Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo.
Hingga saat ini Meriam Puntung masih dianggap sakral.