TRIBUNWIKI

11 Situs Bangun Bersejarah di Siantar, Ada yang Sudah Berubah Bentuk

Kota Siantar memiliki situs bangunan-bangunan tua bersejarah yang masyarakat perlu ketahui.

Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNMEDAN/ Alija Magribi
Jerat atau Jorat, pemakaman keluarga Raja Sangnaualuh di Jalan Pamatang, Kelurahan Simalungun, Kota Pematangsiantar 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR- Kota Pematangsiantar merupakan kota terbesar kedua di Sumatera Utara (Sumut), setelah Kota Medan.

Kota satu ini menyimpan sejarah panjang, baik pada masa kerajaan maupun penjajahan.

Kota Siantar memiliki situs bangunan-bangunan tua bersejarah yang masyarakat perlu ketahui.

Melansir Pusat Kajian Sosial Budaya dan Sejarah LPPM Simalungun, tahun 2009 tercatat beberapa bangunan tua di Siantar - yang diteliti oleh Drs Hisarma Saragih, Drs Ulung Napitu dan Jalatua Hasugian, MH.

Baca juga: Promo Terbaru ibis Styles Medan Pattimura, Tawarkan Berbagai Makanan Khas Melayu untuk Berbuka 

Adapun daftarnya sebagai berikut :

1. Komplek Kerajaan Siantar

Rumah Batu, Istana Kerajaan Siantar yang akhirnya ditempati penjajah Belanda
Rumah Batu, Istana Kerajaan Siantar yang akhirnya ditempati penjajah Belanda (TRIBUNMEDAN/ Alija Magribi)

Komplek Kerajaan Siantar berada di Kelurahan Pematang Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan.

Tepatnya berada di tepi Sungai Bahbolon.

Sejumlah bukti sejarah menunjukkan lokasi ini pernah menjadi Istana Kerajaan Siantar.

Di sini, ada bangunan Pesanggrahan, Rumah Bolon sebagai istana utama kerajaan, pemakaman keluarga raja, dan Jerat Partongah.

Lokasi yang tiap tahun menjadi tempat ziarah Pemko Siantar memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pematangsiantar.

Diperkirakan situs bangunan di Komplek Kerajaan Siantar ini sudah ada jauh sebelum Raja Terakhir Sangnaualuh lahir pada tahun 1857.

2. Pengadilan Negeri Pematangsiantar

Kantor Pengadilan Negeri Pematangsiantar berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No.5 dibangun pada masa Kolonial Belanda sekitar tahun 1904.

Ketika dibangun, gedung berarsitektur Eropa ini masih dimanfaatkan sebagai Kantor Asisten Keresidenan Belanda.

Baru pada tahun 1934, gedung ini dijadikan sebagai tempat penyelesaian perkara atau Kerapatan Na Bolon - yang menjadi cikal bakal Kantor Pengadilan Negeri.

3. RSUD Dr Djasamen Saragih

RSUD Djasamen Saragih
RSUD Djasamen Saragih (HO)

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Pematangsiantar didirikan pada tahun 1911 pada masa Kolonial Belanda.

Bangunan RSUD masa kini telah mengalami perubahan drastis dibanding bentuk pertama kali saat dibangun. 

Nama rumah sakit kemudian berganti menjadi Dr Djasamen Saragih Pematangsiantar pada 23 April 2007 berdasar SK Menkes No 515/Menkes/SK/IV/2007.

Dr Djasamen Saragih sendiri merupakan putra pertama Simalungun yang berhasil menjadi dokter dan pernah mengabdikan dirinya di RSU Pematangsiantar.

4. Masjid Raya Pematangsiantar

Masjid Raya Pematangsiantar didirikan pada tahun 1911 yang dipelopori oleh Penghulu Hamzah, Tuan Syeh H. Abdul Jabbar Nasution, dr M. Hamzah Harahap dan Dja Aminuddin.

Lahan dari masjid ini merupakan hibah dari Raja Sangnaualuh pada tahun 1910.

Ketika awal berdiri, konstruksi bangunan masjid terbuat dari tiang kayu berdinding papan serta beratapkan daun nipah.

Di awal-awal, masyarakat Siantar menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Godang (Masjid Besar) dan adapula yang menyebutkan Masjid Jami. 

Masjid kemudian mengalami renovasi mulai tahun 1927 dengan dana masyarakat.

Sampai saat ini, masjid yang berlokasi di Jalan Sipirok, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat, terus mengalami perubahan dari bentuk awalnya.

Baca juga: Gerak Cepat Camat Medan Tembung Dukung Program Bobby Nasution, Normalisasi Selokan Kelurahan

5. Gereja HKBP Pematangsiantar

Pada tahun 1907, Pemerintah Kolonial Belanda memindahkan pusat pemerintahannya dari Perdagangan Tomuan ke Pematangsiantar.

Seiring kebijakan tersebut, Pendeta Dr.LL Nommensen memindahkan Pendeta Edward Muller dari Pematang Bandar ke Pematangsiantar, pada tahun yang sama.

Di Siantar, mengingat banyaknya warga jemaat yang akan mengikuti kebaktian setiap Minggu, didirikanlah bangunan gereja di Jalan Gereja No.23, Kelurahan Kristen, Kecamatan Siantar Selatan pada tahun 1910.

Selanjutnya secara bertahap, sejak tahun 1927 gereja ini mengalami pemugaran terus menerus seiring pesatnya perkembangan HKBP di Kota Pematangsiantar.

Baca juga: Kerap Mimisan, Widuri Bagikan Tips Pertolongan Pertama untuk Mimisan: Tiba-tiba Udah Merah

Adapun beberapa bangunan lainnya yaitu : 

6. Stasiun Kereta Api Pematangsiantar (Berdiri Tahun 1915)

7. SMA Negeri 4 Pematangsiantar (Berdiri Tahun 1917 bersamaan dengan SMP Negeri 1 Pematangsiantar)

8. Jembatan di Jalan MH Sitorus, Jalan Diponegoro, dan Jalan Sudirman (Berdiri Tahun 1920-an)

9 Balai Kota Pematangsiantar (Berdiri 1920)

10. Taman Hewan Pematangsiantar (Berdiri 1936)

11. Museum Simalungun (Berdiri 10 April 1939)

Baca juga: Paula Verhoeven Hamil Lagi saat Pandemi Covid-19, Takut Imun Turun, Begini Kisah Mereka

Kepada Tribun Medan, Kamis (25/3/2021) peneliti Jalatua Hasugian mengatakan tempo dulu, Kota Pematangsiantar merupakan pusat aktivitas masyarakat Kolonial Belanda.

Alhasil banyak situs bangunan bersejarah yang tinggal sampai saat ini, meskipun banyak yang berubah bentuk.

"Dulu sekeliling Siantar ini perkebunan. Jadi aktivitas masyarakat dan pemerintahan dilakukan di sini. Saat ini banyak yang sudah berubah bentuk seiring perkembangan zaman," ujar sejarawan yang juga dosen di Prodi Sejarah Universitas Simalungun ini.

(tribun-medan.com/Alj Magribi)

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved