Bakso Tumis Asal Asahan, Habis 300 Porsi Dalam 2 jam
Ide untuk membuat bakso tumis ini berawal dari spontanitas, ada seorang pelanggan yang memintanya untuk membuatkan menu yang tidak ada.
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, ASAHAN- Bakso merupakan makanan yang paling mudah di temui di Indonesia, terkhusus di Sumatera Utara.
Olahan daging yang dibentuk seperti bola ini biasanya di siram dengan kuah kaldu.
Namun beda di Kabupaten Asahan, menu yang khas dengan kuah kaldu dan bihun ini diracik oleh Yuslinawati (36) dengan cara menumisnya dengan bumbu-bumbu sehingga kuah menjadi kental dan pedas.
Warung sederhana yang menyatu dengan rumah ini, terletak di dusun IV, Kampung Sumber Agung, Desa Urung Pane, Kecamatan Setia Janji dan kini menjadi primadona di Kabupaten Asahan.
Bakso tumis buka setiap hari, pada pukul 16.00 wib. Bakso yang dijual dengan harga Rp 10-15 ribu perporsinya.
Baca juga: Seorang Maling Barang Pribadi Mahasiswi untuk Puaskan Nafsu Birahi Tinggalkan Pesan yang Tak Terduga
Buat kamu yang ingin merasai bakso ini, segera datang lebih awal, sebab dalam sehari Yuslinawati menjual bakso 300 hingga 400 porsi dan ludes dalam waktu 2 jam.
Yuslinawati menceritakan, ide untuk membuat bakso tumis ini berawal dari spontanitas, ada seorang pelanggan yang memintanya untuk membuatkan menu yang tidak ada.
"Warung saya ini sudah buka sejak 5 tahun lalu, kemudian ada seorang tetangga yang meminta saya untuk membuat menu baru. Karena spontan saya bilang saja kalau bakso tumis mau tidak," ujar Yuslinawati saat di jumpai www.tribun-medan.com- , Rabu(24/3/2021).
Lanjutnya, idenya tersebut sempat di tolak dan dinggap aneh. "Bakso kok ditumis," ujarnya menirukan sang pelanggan.
Baca juga: Bobby Nasution Akan Hadirkan Makanan Khas Etnik Medan di Program The Kitchen of Asia
Karena penasaran, akhirnya pelanggan tersebut memintanya untuk dibuatkan menu yang menurutnya aneh itu.
Namun, ia tidak menyangka ternyata pelanggan tersebut suka dan memposting di media sosialnya.
"Gatau, cuma dibuatkan aja. Eh besoknya banyak yang datang ke warung minta bakso tumis. Rupanya di upload ke Facebook," kataya.
Ia mengaku awalnya terkejut, karena proses pembuatan bakso tersebut terbilang tidak praktis dan memerlukan waktu.
"Inikan pakai proses pembuatannya. Jadi semakin menumpuk. Orang terus berdatangan seperti ada yang gerakan gitu," ujarnya.
Ia bersyukur, warungnya tersebut bisa ramai meskipun berjarak cukup jauh dari Kota Kisaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/bakso-tumis-khas-asahan.jpg)