Geliat Bank Sampah di Kota Medan, Jadi Motor Penggerak Ekonomi Masyarakat di Tengah Pandemi

Pegiat bank sampah Sumatera Utara (Sumut) Armawati Chaniago mengatakan, pihaknya memiliki dana bantuan modal yang bisa disalurkan. 

Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang
Peresmian Bank Sampah New Normal di jalan Kenanga Raya gang Wakaf Medan, Kamis (25/3/2021). Bank Sampah  New Normal diharapkan bisa turut membantu menggerakkan perekonomian masyarakat. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bank Sampah  New Normal diharapkan bisa turut membantu menggerakkan perekonomian masyarakat.

Dengan pemilahan dan pengelohan sampah di Bank Sampah New Normal, akan menaikkan nilai sampah. 

"Sampah yang terpilah bisa dimanfaatkan kembali menjadi kreasi seperti tas dan sebagainya. Lagipula kalaupun hanya untuk dijual ke pengepul sampah yang terpilah akan bernilai ekonomis yang lebih tinggi," kata Direktur Bank Sampah Yasra Al Fariza seusai peresmian Bank Sampah New Normal di jalan Kenanga Raya gang Wakaf Medan, Kamis (25/3/2021). 

Ia mengatakan dengan hadirnya Bank Sampah New Normal ini bisa mengangkat perekonomian masyarakat.

Apalagi di saat pandemi Covid-19 banyak masyarakat yang tidak bekerja. Sehingga dengan wadah ini diharapkan bisa membantu perekonomian masyarakat di sekitar Kota Medan

"Masyarakat yang teredukasi dengan baiklah yang menyetorkan sampahnya yang sudah terpilah dari rumah ke bank sampah. Sehingga di bank sampah hanya menyeleksi untuk bisa dijual ke pabrik-pabrik dengan harga yang lebih tinggi," katanya

Bank sampah yang dikelola masyarakat diyakini juga bisa membantu Pemerintah Kota Medan mengatasi permasalahan sampah. Karena permasalahan sampah sebenarnya membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.

Sayangnya, dari sekitar 400 bank sampah yang beroperasi di Kota Medan. Namun saat ini hanya tinggal 40 bank sampah saja yang aktif menerima sampah dari masyarakat yang menjadi anggota. 

"Harapan kita, ini menjadi satu model yang bisa mengedukasi dan mengubah mindset dari masyarakat agar menjadi tahu dan mau untuk mengolah dan memilah sampah ini. Karena sebenarnya ini merupakan tanggung jawab semua manusia yang menghasilkan sampah," katanya. 

Ia mengatakan kunci sukses dari suatu bank sampah adalah kemauan dan tidak ada paksaan dengan berbagai alasan. Yang ada hanyalah kemauan dan mau melakukan aksi nyata. 

"Inilah yang membuat bank sampah bisa hidup. Apabila bank sampah hanya untuk ceremonial, itulah yang menyebabkan bank sampah tidak aktif. Kepengurusan yang baik dengan transparansi, itulah yang akan membuat bank sampah bertahan," katanya. 

Selain itu jumlah anggota juga akan sangat mempengaruhi bank sampah ini karena bank sampah berharap pengumpulan sampah ini sumbernya dari masyarakat. 

"Saat ini kita juga bekerjasama dengan beberapa perusahaan untuk bisa membantu pembiayaan seperti operasional dan lain sebagainya," katanya. 

Ia berharap semua bank sampah bisa berdiri sendiri dan tidak hanya berharap dari CSR saja. Tetapi dedikasi, keikhlasan bekerja dari anggotanya akan membuat Bank Sampah berjalan.

“Tetapi, untuk bisa mendapatkan dukungan perusahaan, maka yang menjadi kunci utama itu adalah konsistensi pengurus. Makanya kami selalu tekankan, agar pengurus bank sampah harus bisa berdiri di atas kaki sendiri,” tambahnya. 

Sebelumnya, pegiat bank sampah Sumatera Utara (Sumut) Armawati Chaniago mengatakan, pihaknya memiliki dana bantuan modal yang bisa disalurkan. 

“Tapi tentunya kita akan salurkan ke bank sampah yang memang aktif. Karena itu kami minta dukungan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan untuk ikut menyeleksi,” kata Arma. 

(sep/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved