Tangis Haru Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo usai Terima Gelar Doktor Honoris dari IPB

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo dianugerahi Doktor kehormatan atau Doktor Honoris Causa dari IPB

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
KOMPAS TV
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo dianugerahi Doktor kehormatan atau Doktor Honoris Causa (DHC) dari Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Selanjutnya, tahun 2010 Doni mengembangkan kebun bibit di Rancamaya. 100.000 bibit trembesi ditanam di wilayah Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dan DKI Jakarta termasuk di sepanjang Kota Kudus, Jawa Tengah.

Kemudian 100.000 bibit Sengon dibagikan secara gratis kepada masyarakat termasuk warga terdampak erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Setahun kemudian, saya mendirikan Paguyuban Budiasi di Sentul di lahan pinjaman milik alm. Ketut Masagung.  Budiasi kependekan dari Budidaya Trembesi, nama pemberian Bapak SBY, Presiden Republik Indonesia saat itu,” ujarnya.

Sampai hari ini Paguyuban Budiasi telah memproduksi lebih dari 20 juta pohon, terdiri dari 150 jenis pohon termasuk tanaman langka, yang dibagikan ke berbagai daerah termasuk Timor Leste.

Beberapa pejabat tinggi negara dan kepala daerah sempat berkunjung ke kebun bibit Budiasi, termasuk Bapak Jokowi, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta pada Januari 2014.

Tahun 2017, ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Maluku, sempat menyinggung soal kebun bibit. Presiden Jokowi juga meminta membuatnya di Maluku.

“Saya ingin menggarisbawahi mengapa saya tertarik dengan trembesi. Ketika bertugas di Paspampres mulai tahun 2001 dari era kepemimpinan Presiden Gus Dur, Ibu Megawati, hingga Bapak SBY, saya banyak berkunjung ke berbagai daerah. Saya amati, di sekitar bangunan pemerintah peninggalan Belanda, setidaknya ada tiga jenis pohon yaitu: Trembesi, Asam, dan Beringin,” jelasnya.

Diperkuat dengan hasil penelitian Dr. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan IPB, yang mengatakan bahwa pohon Trembesi adalah penyerap polutan terbaik. Satu pohon Trembesi yang lebar kanopinya telah mencapai 15 m, mampu menyerap polutan atau gas CO2 sebanyak 28,5 ton per tahun.

Pohon ini termasuk jenis tanaman “die hard”. Dapat tumbuh di tempat yang tandus dan di tempat yang lembab atau basah, di daerah tropis yang tumbuh hingga ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Oleh sebab itu sangat cocok untuk penghijauan kota.

Selain Trembesi, Doni juga membudidayakan pohon endemik langka Indonesia lainnya seperti Ulin, Eboni, Torem, Palaka, Rao, Cendana, dan Pule yang sudah sulit ditemukan.

“Pohon Palaka saya jumpai di Maluku. Usia pohonnya diperkirakan 400 tahun, dengan keliling banir sekitar 30 rentang tangan orang dewasa, dan ketinggiannya mencapai 40 meter,” katanya.

Demikian juga Pule yang ditemukan di Markas Lantamal Ambon. Diameter batangnya lebih dari 3 meter. Dengan ketinggian sekitar 30 meter.

“Pohon ini mungkin menjadi salah satu saksi sejarah kejadian gempa dan tsunami yang melanda Ambon pada tahun 1674 sesuai dengan tulisan Rumphius,” pungkasnya.

(*/tribunmedan.id/ Kompas.TV/ Kontan.co.id)

Baca Berita Menarik Lainnya di Sini

Artikel ini telah tayang di Kompas. TV dengan judul: Tangis Haru Doni Monardo usai Terima Gelar Doktor Honoris dari IPB Dan Kontan.co.id dengan judul: Cerita Doni Monardo soal tanaman, trembesi, hingga tugasnya sebagai Kepala BNPB

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved