Mabes Polri Diserang

Maksud Lone Wolf, Istilah Kapolri saat Mengungkap Terorisme di Mabes Polri

Umumnya, kata Tito, mereka belajar cara merakit bom atau merencanakan penyerangan melalui internet.

Tribun Medan/HO
ZA mahasiswa terduga teroris penyerang Mabes Polri 

TRIBUN-MEDAN.com - Kapolri Jendral Listyo Sigit mengungkapkan Za, wanita yang menyerang Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021) sore tadi adalah seorang lone wolf.

Sebenarnya, apa maksud Lone Wolf dalam sebuah kasus serangan teroris ini.

Penjelasan mengenai apa itu Lone Wolf sebenarnya pernah disampaikan Tito Karnavian saat dirinya masih menjabat Kapolri dulu.

Lone Wolf dalam kasus terorisme adalah segelintir orang yang beraksi sendiri untuk melakukan aksi teror.

Mereka dikenal sebagai lone wolf atau aksi perorangan yang terpapar ideologi radikal dan beraksi layaknya teroris.

Umumnya, kata Tito, mereka belajar cara merakit bom atau merencanakan penyerangan melalui internet.

Baca juga: Antisipasi Teror, Pengurus Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Pasar Merah Larang Jemaat Bawa Tas

ZA mahasiswa terduga teroris penyerang Mabes Polri
ZA mahasiswa terduga teroris penyerang Mabes Polri (Tribun Medan/HO)

"Mereka leaderless, mereka hanya baca internet dan terinspirasi," ujar Tito di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Senin (10/7/2017) seperti dikutip dari Kompas.com

Tito menyebut kasus pengibaran bendera ISIS di Polsek Kebayoran Lama dan penusukan polisi di Masjid Falatehan termasuk aksi lone wolf.

Karena mereka mendapatkan pengaruh radikal dari internet, maka perlu adanya penangkal radikal yang kuat di dunia maya.

"Menghadapi lone wolf ini yang harus diperkuat yakni kemampuan siber untuk mendeteksi website radikal dan chatting radikal, juga komunikasi radikal," kata Tito.

Saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), memiliki tanggung jawab untuk menyosialisasikan program kontraradikal agar masyarakat tidak terpapar paham aliran tersebut.

Sementara itu, untuk penguatan siber merupakan tanggung jawab penegak hukum dibantu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.

"Saya katakan perlu dibentuk kekuatan siber yang ada di Kemenkominfo, Polri, TNI, BIN, harus diintegrasikan untuk melawan yang menyebarkan paham radikal di internet," kata Tito.

Menurut Tito, banyak teroris yang terinspirasi dengan Aman Abdurrahman, pimpinan Jamaah Ansharut Daulah yang tengah menjalani masa hukuman di Nusakambangan.

Meski Aman terisolasi, ilmu yang dia miliki dan ajarannya sudah beredar luas di internet.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved