Breaking News:

Ternak Babi Langka di Sumut

BREAKING NEWS, Populasi Langka, Harga Babi Diprediksi Kian Meroket di Kota Medan

Lilik menjelaskan langkah antisipasi itu pun kini masih sulit untuk dilakukan oleh peternak, terutama yang menggunakan sistem tradisional.

Int
babi 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Wabah African Swine Fever (ASF) yang menyerang ternak babi sampai saat ini masih menyebar di berbagai daerah, terutama Kota Medan.

Walhasil, virus yang sudah ada sejak akhir 2019 ini mengakibatkan harga babi yang menjulang tinggi. Kini, kenaikan harga babi bahkan capai Rp 130 ribu per kg di wilayah Sumatra Utara.

Menanggapi hal tersebut, Medik Balai Veteriner Medan Drh Lilik Prayitno Msi mengakui sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang cukup efektif untuk meredakan virus tersebut.

"Antisipasi yang bisa kami lakukan hanya dengan penerapan Biosecurity. Misalnya pembersihan sanitasi, pengendalian lalu lintas, dan isolasi," kata Lilik Prayitno saat diwawancara Tribun Medan di Literacy Coffee Jalan Jati II, Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Kamis (1/4/2021).

Lilik menjelaskan langkah antisipasi itu pun kini masih sulit untuk dilakukan oleh peternak, terutama yang menggunakan sistem tradisional.

Meskipun begitu, langkah antisipasi itu adalah satu - satunya pertahanan untuk pengendalian wabah dan mencegah penularan wabah ASF.

Dia mengatakan apabila suatu wilayah dilanda wabah secara berkesinambungan maka telah masuk ke level endemis. Artinya, kondisi dimana penyakit menyebar pada suatu wilayah dalam kurun waktu yang berlangsung lama.

Wabah ASF yang telah hadir sejak 2019 di Sumut pun dapar dikatakan pada level demikian. Sehingga virus tersebut telah berhabitat dan sangat perlu diwaspadai oleh seluruh peternak.

Untuk meminimalisir perluasan wabah itu, maka langkah Biosecurity harus betul - betul ditekankan. Jika tidak, virus itu akan menjadi ancaman yang berkepanjangan.

Dia pun menjelaskan upaya pemerintah untuk menanggulangi virus tersebut sudah cukup beragam. Mulai dari membentuk unit reaksi cepat pada akhir 2019 dan awal 2020.

"Tapi mungkin karena pertengahan 2020 wabah Covid-19 melanda, soal virus babi jadi tidak diprioritaskan. Pemerintah lebih fokus untuk menangani virus Corona karena langsung mengancam nyawa manusia. Makanya seluruh anggaran lebih mengarah pada penanganan Covid-19," ujarnya.

(cr9/tribun-medan.com) 
 

Penulis: Angel aginta sembiring
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved