Breaking News:

Kolaborasi Ala Bobby Nasution

Dua Bulan Bekerja, Bobby Nasution Sudah Tangani 250 Titik Genangan di Kota Medan

Ia juga mengaku senang dengan progres kerja yang dilakukan pemerintah sekitar. Karena, kata dia,  lokasi tersebut rentan banjir.

Tribun Medan/HO
Wali Kota Medan Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu meninjau puluhan rumah yang terendam banjir di Jalan Jahe Raya, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan, Selasa (23/3/2021). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Sebanyak 250 titik genangan di Kota Medan berkurang usai pengorekan drainase massal di 21 kecamatan yang ada di Kota Medan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Medan, Zulfansyah Ali Syahputra mengatakan dari total 500 titik genangan yang ada, 50 persen di antaranya sudah berhasil ditanggulangi.

"Masih on progres terus, alhamdulillah saat ini genangan sudah berkurang kira-kira 50 persen, ya masih terus berupaya, dan berharap kesabaran dan dukungan dari masyarakat," kata Zulfansyah kepada tribun-medan.com, Jumat (9/4/2021).

Menurut Zul, ratusan titik genangan tersebut sudah terjadi bertahun-tahun di Kota Medan. Menurutnya, untuk dapat menyelesaikan genangan dalam waktu singkat membutuhkan pekerjaan ekstra.

"Titik genangan air yang terjadi hampir bertahun-tahun diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua bulan dengan bekerja siang dan malam. Artinya, Medan bebas banjir itu bukan satu mimpi," katanya.

Dari segi anggaran, kata dia, tidak ada anggaran khusus untuk normalisasi drainase. Pekerja yang dikerahkan adalah personel Petugas Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (P3SU) kecamatan dan Pekerja Harian Lepas (PHL) di Dinas PU.

"Ini hanya memanfaatkan alat berat Dinas PU, tenaga PHL Dinas PU bersama unsur P3SU kecamatan dan material sisa tahun 2020 yang ada pada Dinas PU. Tidak ada anggaran khusus untuk itu," terangnya.

Diketahui beberapa titik genangan yang dinormalisasi yakni di Jalan Rawe 1 Kelurahan Tangkahan Kecamatan Medan Labuhan, Jalan Marelan II Rengas Pulau, Jalan Sempurna Medan Denai, serta pengorekan parit Sulang Saling yang berada di lima kecamatan yang ada di Kota Medan.

Dari temuan di lapangan, kata Zul, penyebab penyumbatan drainase dan sedimentasi adalah karena banyaknya sampah yang ada di dalam parit.

Suasana jalan di depan rumah Fitri, Gang Tempirai, Jalan Panglima Denai, Kecamatan Medan Amplas sebelum normalisasi parit, Selasa (2/3/2020). Selama 15 tahun warga Gang Tempirai dan Gang Ambai, Jalan Panglima Denai, Kelurahan Amplas, Kecamatan Medan Amplas hidup bersama genangan air yang menutupi ruas gang. 
Suasana jalan di depan rumah Fitri, Gang Tempirai, Jalan Panglima Denai, Kecamatan Medan Amplas sebelum normalisasi parit, Selasa (2/3/2020). Selama 15 tahun warga Gang Tempirai dan Gang Ambai, Jalan Panglima Denai, Kelurahan Amplas, Kecamatan Medan Amplas hidup bersama genangan air yang menutupi ruas gang.  (Rechtin / Tribun Medan)

"Ada banyak sekali sampah di dalam saluran drainase, serta penutupan dan penyempitan drainase oleh warga. Untuk itu kami berharap masyarakat bisa menumbuhkan kesadaran untuk merawat drainase," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Rechtin Hani Ritonga
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved