Warga Sempakata Dilanda Banjir Bertahun-tahun, Lurah Dianggap Tak Pernah Peduli
Seorang warga bernama Marulam Pasaribu menjelaskan sampai saat ini tidak ada langkah konkret dari Kelurahan Sempakata untuk menanggulanginya.
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Warga Kota Medan mengeluh telah alami banjir sejak lima tahun lamanya dan belum ada penyelesaian dari kelurahan di Jalan Bunga Terompet, Sempakata, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Sumatra Utara.
Seorang warga bernama Marulam Pasaribu menjelaskan sampai saat ini tidak ada langkah konkret dari Kelurahan Sempakata untuk menanggulanginya.
"Bahkan perencanaan juga kita tahu. Sebelumnya kami juga sudah berapa kali mengadu tetapi tidak ada tanggapan," katanya kepada Tribun Medan, Kamis (15/4/2021)
Dia mengungkapkan alasan kelurahan ialah keterbatasan anggaran. Meski demikian, ia menilai upaya kelurahan untuk meminimalisir tidak tampak sampai saat ini.
"Sumber air itu berasal dari saluran belakang perumahan warga. Semalam itu sekitar 22.00 WIB itu hujan mulai reda dan banjir hanya semata kaki. Tapi setelah itu tiba - tiba air masuk sampai sepinggang orang dewasa kayak air bah," ujarnya.
"Makanya beruntung ada tanah kosong di pertengahan perumahan warga. Jadi bisa sedikit meminimalisir. Kita harap lurah, kepling, camat, dinas Pekerjaan Umum harus segera menanganinya," tambahnya.
Menurutnya, dahulu di Simpang Selayang terjadi banjir tapi sekarang tidak demikian. Pasalnya, gotong - gorong di sana sudah tidak ada sehingga arah air merembes ke kelurahan Sempakata.
Marulam menjelaskan ada beberapa drainase yang bermasalah di sekitar pemukiman warga menjadi sumber banjir. Misalnya keberadaan perumahan Mayfair Residance yang menembok sekelilingnya sehingga memperkecil drainase.
"Otomatis air yang ditampung dari luar itu tidak lewat dan dari pinggir langsung ke sini. Di Universitas Quality itu pun seharusnya ada saluran air tapi sekarang sudah tidak ada lagi," ujarnya.
Demikian dia menegaskan izin pembangunan di sekitar perumahan warga seolah tidak memikirkan dampak lingkungan yang terjadi.
"Makanya saluran dari daerah ini ke arah Ngumban Surbakti ini sudah banyak ditutup. Aturannya harus ada agar air yang tertampung di sini bisa tetap mengalir," sebutnya.
Seharusnya, lanjutnya, dibuat saluran drainase pengalihan baru agar dapat mengalir ke sungai Batuan dan lainnya.
Amatan Tribun Medan, bekas banjir masih menyelimuti perumahan pagi tadi. Pasalnya, masih berbekas lumpur di halaman rumah masyarakat.
Selain itu juga terlihat perkebunan yang berada di tengah - tengah pemukiman warga masih menyusahkan genangan air.
Di daun tumbuh - tumbuhan juga masih melekat bekas lumpur yang membuat hijau daun jadi kecoklatan.
Jalanan di sekitar perumahan tersebut pun tampak masih terdapat bekas genangan air. Sementara kantor lurah juga terlihat masih dibersihkan oleh petugas dari lumpur bekas banjir yang tersisa.
(cr8/tribun-medan.com)