Viral Medsos
Ditendang hingga Terjatuh, Christina Simatupang Perawat RS Siloam Palembang, Alami Syok dan Trauma
Penganiayaan terhadap perawat di RS Siloam Palembang bernama Christina Simatupang berawal dari ayah pasien yang melihat tangan anaknya berdarah.
Penulis: AbdiTumanggor | Editor: AbdiTumanggor
Karena terlapor tidak senang karena menganggap korban tidak benar saat melepaskan infus di tangan anak terlapor.
Selanjutnya, terlapor marah dan kemudian memanggil korban untuk mendatangi kamar dimana tempat anak terlapor dirawat.
Korban kemudian menemui terlapor bersama teman korban lainnya.
Setibanya di kamar tempat anak terlapor dirawat, teman-teman korban disuruh terlapor untuk keluar meninggalkan korban sendirian.
"Namun teman korban tidak mau keluar," ujar Kompol Abdullah saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (16/4/2021).
Kemudian terlapor menanyakan bagaimana korban melepaskan selang infus di tangan anaknya.
Belum sempat korban menjawab terlapor langsung memukul muka sebelah kiri korban menggunakan tangannya.
Teman korban yang melihat aksi itu mencoba melerai, namun terlapor langsung mendekati korban dan kembali memukul muka korban menggunakan tangan kanannya.
Melihat keributan makin menjadi petugas keamanan di TKP mencoba melerai.
"Korban kemudian di bawa keluar, namun terjadi tarik menarik antara terlapor dan saksi hingga terlapor menarik rambut korban," katanya.
Kemudian korban berhasil keluar dan selanjutnya korban di bawa ke ruang emergency.
Akibat kejadian tersebut korban mengalami memar dibagian mata sebelah kiri, sakit bagian bibir dan perut.
Perawat yang Dianiaya Trauma berat
Perawat RS Siloam Palembang, Christina Ramauli Simatupang yang dianiaya keluarga pasien mengalami trauma hebat atas peristiwa Kamis 15 April 2021 itu.
Hingga kini Christina Simatupang masih menjalani perawatan atas luka memar, sakit di perut, serta traumatik.
Kondisi terkini Christina tersebut disampaikan Direktur RS Siloam Sriwijaya Palembang, dr Bona Fernando, Jumat (16/4/2021).
"Perawat sedang kami rawat, bukan saja menyembuhkan luka fisik, tapi juga psikisnya," kata Bona.
"Memang beliau (perawat) itu mengalami trauma yang cukup hebat," ungkapnya.
Dia menyebut sudah bicara tadi siang dengan perawat itu.
Kondisinya dia lihat sudah lebih baik dibandingkan kemarin, namun belum pulih.
"Kita berdoa, pelan-pelan nanti bisa berkerja kembali seperti biasa merawat pasien lagi," jelas dr Bona.
Untuk menyembuhkan psikis Christina Simatupang, ia mengatakan tim psikolog sudah diturunkan untuk membantu korban.
"Sejak kemarin tim psikolog kita sudah turun untuk menangani korban," jelasnya.
Dokter Bona juga berterima kasih atas support dan dukungan dari internal dan eksternal.
"Termasuk dari sesama profesi termasuk Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) baik dari kota, provinsi maupun pusat yang memberikan dukungan," terangnya.
Bona mengatakan semua permasalahan ini diserahkan kepada pihak kepolisian.
Pihaknya meminta agar diberikan ditindak secara tegas ke pria penganiayaan perawat perempuan itu.
Penganiayaan terhadap perawat di RS Siloam Palembang bernama Christina Simatupang berawal dari ayah pasien yang melihat tangan anaknya berdarah setelah infus dilepas.
Saat itu ia berencana membawa pulang anaknya.
Pria berinisial JT itu kemudian mencari perawat yang melepas infus tersebut.
Christina Ramauli Simatupang datang didampingi beberapa rekannya ke ruang perawatan anak itu.
Belum sempat memberi penjelasan tentang penyebab adanya darah itu, korban langsung ditampar oleh JT.
Selain itu pelaku juga menyuruh perawat tersebut agar bersujud memohon maaf kepada keluarganya.
Korban menuruti perintah itu, bersujud di hadapan keluarga JT yang emosi.
Tapi tanpa diduga JT melakukan serangan fisik kepada si perawat, menendang perawat perempuan itu.
Melihat situasi ini rekan-rekan seprofesi korban berusaha melerai.
Mereka menahan supaya JT tidak melakukan perbuatannya yang sama.
Penganiayaan yang dialami perawat berinisial CSR ini viral di media sosial.
Kronologi tersebut disampaikan oleh Kepala Sub Bagian Humas Polrestabes Palembang, Kompol M Abdullah, Jumat (16/4/2021).
Abdullah mengatakan kepolisian sudah melakukan pemeriksaan kepada sejumlah saksi atas peristiwa tersebut.
Polisi juga sudah mengambil bukti visum atas kekerasan yang dialami perawat tersebut.
"Korban mengalami luka memar di bagian mata kiri, bengkak di bagian bibir, dan perut terasa sakit," ungkapnya.
"Saksi akan diperiksa. Pelaku bisa dijerat pasal 351 tentang penganiayaan," terangnya.
(*/ Tribun-Medan.com)
Artikel ini diolah dari Sripoku.com dan Warta Kota
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/perawat-dipukul-keluarga-pasien.jpg)