Breaking News:

Seorang Wartawan di Deliserdang Dianiaya saat Meliput Penolakan Pemakaman Jenazah Covid-19

Ia hanya mengetahui dan merasakan pukulan yang bertubi-tubi mendarat ke tubuhnya yang saat itu, ia sendiri sudah dalam kondisi tak berdaya.

TRIBUN MEDAN / Muhammad Anil Rasyid
Warga Desa Ujung Serdang, Tanjung Morawa, Deliserdang, menolak pemakaman jenazah Covid-19 

TRIBUN-MEDAN.com, TANJUNGMORAWA - Seorang wartawan di Deliserdang mengalami penganiayaan saat melakukan liputan penolakan pemakaman pasien Covid-19.

Penolakan pemakaman pasien covid ini terjadi di Desa Ujung Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa, Rabu (21/4/2021) sekitar pukul 12.00 WIB.

"Setelah kita berangkat bahwa ada sahabat kita dari rekan media yang menjadi korban penganiayaan, kami menyesalkan kejadian tersebut," ujar Kapolsek Tanjung Morawa, AKP Sawangin, Kamis (22/4/2021).

"ara keluarga korban yang merasa emosi. Kita enggak sempat melihat kejadian tersebut, ketika ambulan sudah pergi, baru datang rekan kita ini. Di situ lah dia baru dianiaya," tambahnya.

AKP Sawangin pun meminta wartawan yang mengalami penganiayaan tersebut membuat laporan pengaduan di Polsek Tanjung Morawa.

"Kami sendiri siap menangani perkaranya dan kami akan pertemukan kedua belah pihak untuk diselesaikan secara kekeluargaan atau mediasi. Kalau tidak ada cara lain kami siap mengajukan perkara ini ke pengadilan," ujar Sawangin.

Bunyak yang menjadi korban penganiayaan saat meliput penolakan pemakaman Covid-19
Bunyak yang menjadi korban penganiayaan saat meliput penolakan pemakaman Covid-19 (Anil / Tribun Medan)

Informasi yang dihimpun, penganiayaan ini berawal dari keluarga yang tak terima diliput karena penolakan oleh warga sekitar, meski dikebumikan di kuburan tanah pribadi.

"Setelah kami cek, ada memar di pipinya dan sudah di ambil visum. Saat ini kita tengah mengumpulkan sejumlah saksi-saksi," ujar Sawangin.

Sementara itu, diberitakan sebelumnya, korban penganiayaan, Bunyak, tidak tau menahu situasi saat itu.  Ia hanya mengetahui dan merasakan pukulan yang bertubi-tubi mendarat ke tubuhnya yang saat itu, ia sendiri sudah dalam kondisi tak berdaya.

"Itu kan peristiwa. Jadi karena tuntutan profesi, saya rekam kejadian itu. Apalagi keluarga dari korban itu terlihat histeris. Nah saat saya rekam itulah ada perempuan yang tadi histeris, ngamuk-ngamuk ke aku karena direkam. Seketika itu pula tendangan dari belakang mendarat persis ke pinggang saya sampai saya tersungkur dan langsung disusul dengan pengeroyokan," ucap Bunyak.

(CR23/tribun-medan.com/tribunmedan.id)

Penulis: Muhammad Anil Rasyid
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved