News Video

Akibat Sengketa dengan PT TPL, Jusman Simanjuntak Mengalami Luka di Bagian Wajah

Ia masuk ke lokasi pertikaian untuk menyampaikan kepada masyarakat Natumingka agar pulang sebab kondisi semakin runyam.

Penulis: Maurits Pardosi |

Akibat Sengketa dengan PT TPL, Jusman Simanjuntak Mengalami Luka di Bagian Wajah

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE - Seorang kakek yang juga bagian dari masyarakat adat Natumingka Jusman Simanjuntak (75) beberkan penyebab luka di bagian wajahnya.

Ia bercerita dengan lugas bahwa awal bentrok tersebut setelah pihak PT TPL hadir di lokasi sengketa dan berencana menanam pohon eukaliptus pada Selasa (18/5/2021).

Masyarakat tahu akan rencana pihak TPL tersebut dan melarang pihak TPL, penanaman pohon eukaliptus sempat terhenti.

"Sewaktu karyawan PT TPL masuk ke lapangan, ternyata perdebatan acara menanam memang sempat terhenti. Itulah makanya kami beralih ke jalan. Sesudah di jalan, ada acara mediasi. Sesudah itu, timbul lagi perdebatan soal kepemilikan hak atas lahan tersebut," ujar Jusman Simanjuntak pada Rabu (19/5/2021).

Sebelum istirahat berlangsung yang disertai dengan makan, ia menceritakan bahwa pihak PT TPL menghubungi pihak Kehutanan. Dalam penuturannya, pihak Kehutanan mengatakan bahwa lahan tersebut sah dikelola oleh PT TPL karena telah memiliki izin.

"Setelah istirahat, ada makan. Maka, secara mendadak ada dorong-mendorong. Sebelumnya, pihak TPL masih menelepon pihak Kehutanan. Jadi kami masih omong sama Pak Kehutanan dan pihak Kehutanan mengatakan bahwa sah-sah saja pihak TPL mengelola areal Natumingka karena mereka ini punya HGU," sambungnya.

Walaupun demikian, ia mempertanyakan terkait status lahan tersebut. Pasalnya lahan tersebut diklaim sebagai tanah ulayat atau masuk dalam tanah masyarakat adat Natumingka. Ia mengatakan secara tegas bahwa masyarakat Natumingka tidak pernah sepakat bahwa lahan tersebut diberikan kepada pihak PT TPL.

"Tapi, saya sebagai saksi hidup menyampaikan bahwa kami masyarakat Natumingka tidak pernah sepakat bahwa Natumingka jadi lahan TPL. Itulah makanya kami selalu ngotot melarang pihak TPL menanami lahan itu sesuai dengan Surat Menteri pada tanggal 12 Agustus 2019," sambungnya.

Lalu ia mengambil tempat untuk istirahat. Bahkan, ia masih sempat berkoordinasi dengan para keluarga yang ada di perantauan terkait sengketa yang terjadi. Ia menceritakan bagaimana kondisi di lapangan.

Pihak keluarganya yang ada di perantauan pun meminta mereka untuk kembali ke rumah masing-masing sebab suasana sedang tidak kondusif. Ia mengatakan bahwa hal yang paling dikhawatirkan adalah jatuhnya korban jiwa.

"Setelah ada beberapa menit kemudian, saya istirahat disitu ada tenda-tenda, lantas ada acara dorong-mendorong. Tapi saya terus koordinasi dengan keluarga di luar di perantauanlah," terangnya.

"Macam mana lah ini, sudah brutal lah situasi ini. 'Ya daripada korban kalian, silahkan tinggalkan aja areal itu. Pulang, pulang kalian. Saya merasa prihatin melihat semua anak kami dan adik-adik kami, kasihan kami nanti bahwa ada nanti yang sampai meninggal dunia. Saya prihatin kalau ada yang sempat meninggal," sambungnya.

Ia masuk ke lokasi pertikaian untuk menyampaikan kepada masyarakat Natumingka agar pulang sebab kondisi semakin runyam.

"Lantas saya masuk ke ranah yang ada dorong-mendorong itu dan saya bilang 'untuk masyarakat Natumingka silahkan pulang, kita tidak sanggup mengimbangi keadaan ini. Kita bukan buang-buang nyawa di sini. Tapi masyarakat Natumingka selalu ngotot sebab kalau kita meninggalkan ini, berarti kita mengalah. Saya tidak berpikiran seperti itu," terangnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved