News Video

Warga Sihaporas Adakan Tradisi Adat Agar Terhindar Virus Corona

Puluhan aktivis mahasiswa dari Kelompok Cipayung menghadiri acara tradisi adat batak yang diselenggarakan Lamtoras di Dusun Lumban Ambarita Sihaporas.

Penulis: Alija Magribi |

Kedua, Raga-Raga Na Bolak Parsilaonan, yaitu doa permohonan dan persembahan kepada Debata Mulajadi Nabolon melalui leluhur, yakni Ompu Mamontang Laut Ambarita. Ritual ditandai menyampaikan persembahan yang diiringi musik tradisional berupa gondang Batak. Acara berlangsung dua hari satu malam, diselenggarakan empat tahun sekali. Pesta adat Patarias Debata Mulajadi Nabolon diselenggarakan berselang-seling dua tahun dengan Raga-raga Na Bolak Parsilaonan.

Ketiga, Mombang Boru Sipitu Suddut, yaitu doa permohonan kepada Debata Mulajadi Nabolon melalui leluhur, yakni Raja Uti alias Raja Nasumurung dan Raja Sisimangaraja.

Ada persamaan atau kemirian tradisi Mombang Boru Parorot dengan Manganjab. Perbedannya, Mombang Boru Parorot diselenggarakan di baba harbanganni huta (di dekat gapura desa/kampung), sedangkan Manganjad dilaksanakan diladang/perhumaan. Ritual berlangsung satu hari, dan tanpa gondang.

Keempat, Manganjab adalah doa memohon kesuburan tanah dan keberhasilan pertanian, sekaligus tolak bala dari hama dan penyakit tanaman. Diselenggarakan di ladang/perhumaan setiap tahun, dulu, lazim saat boltok eme (padi bunting). Ritual berlangsung satu hari, dan tanpa gondang.
Setelah manganjab, lanjut tradisi robujuma atau panjang bekerja ke ladang selama 3 hari, lanjut robu harangan (larangan bepergian ke hutan) selama 3 hari. Kemudian, hari ke-7 diselenggarakan manangsang robu, yaitu membatalkan atau mengakhiri masa pantang, dengan mengadakan ritual doa di hutan.

Kelima, Ulaon Habonaran, doa kepada Debata Mulajadi Nabolon melalui Habonaran Ni Huta dan sampai pada Raja Sisimangaraja.

Keenam, Pangulu Balang Parorot ialah doa kepada Debata Mulajadi Nabolon, melalui penjaga kampung dan sahala hadatuaon.

Dan ketujuh, Manjuluk, suatu ritual doa kepada Debata Mulajadi Nabolon memohon perlindungan ata keberhasilan tanaman, melalui ritual di gubuk atau ladang. Diselenggarakan sesaat sebelum memulai bercocok tanam.

Tujuh ragam tradisi Batak Toba ini dilakukan Martua Boni Raja atau Ompu Mamontang Laut Ambarita sejak awal tahun 1800-an. Hingga saat ini, keturununannya, generasi ke-8 hingga 11 yang turun-temurun mendiami Desa/Nagori Sihaporas, Kecamatan Pamartang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tetap melanjutkan tradisi Ompu Mamontang Laut Ambarita.

Tentang Sihaporas
Desa/nagori Sihaporas, terletak di kawasan Danau Toba, berjarak kurang lebih 7 kilometer dari tepi danau, garis lurus dari Dolokmauli, dekat Sipolha.

Sihaporas berjarak sekitar 6 kilometer dari Jalan Raya Lintas Sumatera, tepatnya dari Simpang Aek Nauli - Sihaporas, sekitar 9 kilometer sebelum Kota Parapat dari arah Pematang Siantar.

Dahulu, desa Sihaporas masuk Kecamatan Siantar. Kemudian tahun 1980-an pindah wilayah administrasi Kecamatan Sidamanik. Lalu setelah reformasi, terjadi pemekaran menjadi desa sendiri, Nagori/Desa Sihaporas dan masuk Kecamatan Pamatang Sidamanik.

Nagori Sihaporas terdapat 5 kampung, yakni Lumban Ambarita Sihaporas, Sihaporas Bayu, Sihaporas Bolon dan Sihaporas Aek Batu serta Gunung Pariama.

Penduduk empat kampung yang terdapat nama Sihaporas umumnya adalah keturunan Martua Boni Raja Ambarita atau Ompu Mamontang Laut Ambarita yang menyeberangi Danau Toba, sekitar tahun 1800-an. Keturunannya kini sudah 11 generasi berada di Sihaporas. Mereka melestarikan adat Batak Toba.

Tanah adat Sihaporas dijajah Belanda, awal tahun 1913 untuk ditanami pinus. Penjajah mencaplok tanah dari keturunan generasi kelima Ompu Mamontang Laut, antara lain Ompu Lemok Ambarita, dan Ompu Ni Handur Ambarita.

Kemudian pada tahun 1916, penjajah Belanda menerbitkan peta enclave Sihaporas, dimana terpampang tiga nama areal yakni Sihaporas, Sihaporas Bolon dan Sihaporas Negeri Dolok.

Pada 9 Agustus 2019, Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) telah mendata, memverifikasi dan memberi sertifikat huta Sihaporas seluas 2.050 hektare.

Kontur tanahnya yang berada di jajaran pegunungan bukit barisan, cocok ditanami palawija seperti jagung, cabai, tomat, jahe, sayur mayur, hingga tanaman keras seperti enau, kopi, tuak, pinus, durian dan lainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved