Breaking News:

Warga Dairi Khawatir Tragedi Bendungan Jebol di Brazil 2019 Menimpa Dairi 

"Kami sebagai warga yang berada di lingkungan tambang sangat ketakutan," ujar Hutasoit.

TRIBUN MEDAN/KRISTEN EDI SIDAURUK
Hodwin Edward Hutasoit (kanan ujung) warga Lumban Hutasoit, Desa Pandiangan, Kabupaten Dairi menceritakan ke khawatirannya akan bahaya limbah PT DPM pada diskusi yang diselenggarakan aliansi tolak tambang PT DPM di Literacy Coffee, Rabu (2/6/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Edi Sidauruk

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Warga Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, menumpahkan kekhawatirannya terkait rencana pembangunan bendungan limbah perusahaan tambang PT Dairi Prima Mineral (PT DPM).

Hodwin Edward Hutasoit yang tinggal di Lumban Hutasoit, Desa Pandiangan, Kabupaten Dairi, mengatakan ia dan warga lain takut kejadian tahun 2019 yang menimpa masyarakat Brazil yang menelan korban sebanyak 270 orang akan terjadi pada masyarakat Dairi yang tinggal di sekitar tambang.

"Kami telah menyaksikan video hasil kajian ahli keselamatan bendungan internasional dari Dr Richard Meehan dan ahli hidrologi Dr Steve Emerman, bagaimana bendungan limbah di Brazil runtuh pada 2019, dan menelan korban 270 orang. Itu saya khawatirkan akan terjadi di Dairi," kata Hutasoit pada diskusi yang dilaksanakan Aliansi Tolak Tambang DPM, Kota Medan, Rabu (2/6/2021).

Menurutnya, Kabupaten Dairi berada di daerah patahan gempa yang berpotensi meruntuhkan bendungan limbah. Jika itu terjadi, limbah milik PT DPM kelak akan mengalir ke desa-desa hilir di sekitar pertambangan.

"Dairi berada di daerah patahan gempa. Belum lagi struktur tanah di bendungan limbah yang akan dibangun, yakni di Sopokomil, merupakan hasil letusan vulkanik Gunung Toba yang struktur tanahnya lunak. Kami sebagai warga yang berada di lingkungan tambang sangat ketakutan," ujarnya.

Ia mencontohkan kejadian tahun 2018 saat PT DPM masih melakukan tahap eksplorasi dan terjadi kebocoran limbah dan merusak persawahan dan kolam warga yang mengakibatkan gagal panen.

"Kebocoran limbah pada tahun 2018 bisa terulang. Dimana saat itu telah merusak tanaman sehingga sawah dan kolam masyarakat di sekitar pertambangan gagal panen dan ikan masyarakat pada mati karena sudah terkena limbah. Padahal itu masih tahap eksplorasi. Bagaimana kalau sudah beroperasi dengan  permanen," ujarnya.

Ia juga mengatakan pertanian di sekitar tambang sudah memberikan kemakmuran bagi mereka. Menurutnya, masyarakat di Kabupaten Dairi, khususnya di lingkar tambang, sudah bertani dari generasi ke generasi.

"Pertanian sudah memberikan kemakmuran. Di kabupaten Dairi, pendapatan daerah dari sektor pertanian sekitar 42 persen. Artinya itu penyumbang pendapatan tertinggi di kabupaten Dairi. Bukan pertambangan yang mau dimasukkan. Seharusnya pertanian yang ditingkatkan," tambahnya.

Ia berharap pemerintah Dairi berpihak pada keselamatan lingkungan dan warga di sekitar tambang. Baginya tidak ada alasan apapun yang lebih berharga selain keselamatan masyarakat sekitar tambang.

"Harapannya sebagai masyarakat apa yang di sampaikan masyarakat ini kepada pemerintah daerah dan pusat ditanggapi dan di hargai, karena apapun itu pembangunan lebih mengutamakan kepentingan dan keselamatan masyarakat di atas kepentingan apapun," kata Hodwin. (cr6/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved