Breaking News:

News Video

Sempat Dinobatkan Pesantren Ramah Anak, Status Ramah Anak Pesantren Darul Arafah Terancam Dicabut

Meninggalnya FWA yang diduga menjadi korban penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia oleh seniornya Pesantren Darul Arafah

Penulis: Fredy Santoso | Editor: Bobby Silalahi

Laporan Wartawan Tribun-Medan/Fredy Santoso

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Lembaga Perlindungan Anak Deli Serdang meminta agar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak mencabut status pesantren ramah anak yang sempat dinobatkan oleh kementerian pada 2019 lalu.

Menurut Ketua LPA Deli Serdang, Junaidi Malik, ada kejanggalan saat lembaganya datang untuk mengkonfirmasi kasus meninggalnya FWA yang diduga menjadi korban penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia oleh seniornya APH.

Junaidi menyebutkan, pesantren terkesan menutup-nutupi kasus yang sedang mencuat ini.

Karena dianggap tidak koperatif, pihaknya akan segera menyurati Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak agar segera mencabut predikat tersebut.

Sebab, kata Junaidi, seharusnya tempat pendidikan menjadi tempat yang aman bagi para pelajar, namun saat ini menjadi tempatnya kekerasan.

Baca juga: LPA Deli Serdang Minta Polisi Usut Tuntas Kematian Santri di Pesantren Darul Arafah Raya

"Kami dari lembaga perlindungan anak, akan menyurati pihak kementrian dan permberdayaan perempuan dan anak untuk mencopot status pesantren ramah anak yang dinobatkan di Pesantren Darul Arafah pada tahun 2019," Kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak Deli Serdang Junaidi Malik, saat ditemui di Pesantren Darul Arafah Raya, di Desa Lau Bakeri, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (7/6/2021).

Junaidi menyebutkan, kejadian serupa bukan pertama kalinya terjadi di pesantren Darul Arafah Raya ini. Berdasarkan data yang diterima, sebelumnya pernah menerima laporan terkait adanya kekerasan serupa.

Meski tidak menyebabkan meninggal dunia, namun pihaknya sempat melakukan mediasi dengan pihak pesantren.

Lanjut Junaidi, pada saat itu pihak pesantren berjanji kasus serupa tidak terulang karena akan meningkatkan pengawasan.

"Sebelumnya pernah terjadi penganiayaan kakak kelas tetapi tidak meninggal dunia. Sudah sering terjadi. Untuk saat ini baru satu orang yang melapor dan kami mediasikan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi, dan pihak pesatren tidak akan membiarkan kejadian ini terjadi lagi," ucap Junaidi.

(Cr25/ Tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved