Kedai Tok Awang
Martin Garrix tak Bisa Main Bola
Sinergi antara sepak bola dan musik mampu menghadirkan sesuatu sebelumnya tidak ada: emosional dalam benang merah keriang-gembiraan yang solid.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Jelang Euro 2020
SEJAK pagi dari Kedai Tok Awang terdengar suara Shakira. Dimulai Underneath Your Clothes, lalu Whenever, Wherever dan Loca yang masing-masing diputar lebih lima kali. Ocik Nensi ikut menyanyi tatkala Can’t Remember to Forget You mengalun. The only memory is us kissing in the moonlight, Oh-oh ooh oh, oh-oh ooh oh...
“Makjang, sejak kapan ocik suka Shakira? Agakku selama ini ocik cumak penggemar Siti Badriah dan Iis Dahlia,” kata Mak Idam.
Ocik Nensi tersenyum dikulum. “Macam mana, lah, ocik bilang, ya, Dam. Kalok ditanya sejak kapan, ya, udah lama juga. Tiap nengok Shakira ocik jadi teringat waktu muda dulu. Dibilang mirip-mirip kali, ya, enggak. Tapi ada, lah, sikit,” ujarnya.
“Aih, betulnya itu, Tok?” tanya Sudung menimpali sembari mengguit lengan Tok Awang yang sedang bermain catur dengan Lek Tuman. Tok Awang tak menjawab. Matanya tidak lepas dari papan. Buah putih yang dijalankannya sedang terdesak oleh serangan-serangan agresif Lek Tuman.
Can’t Remember to Forget You berlalu. Rihanna ikut berlalu. Namun Shakira masih di Kedai Tok Awang. Rabiosa, disusul Hips Don’t Lie, lalu La La La dan Waka Waka. Saat Waka Waka mengalun, serentak Mak Idam, Sudung, Ane Selwa, dan Lek Tuman bernyanyi. Pun Jek Buntal dan Jontra Polta yang baru tiba. Tsamina mina, eh eh, Waka waka, eh eh...
“Eh, kelen penggemar Shakira juga rupanya. Satu server kita kalok gitu,” ucap Ocik Nensi seraya tertawa. Ia memang tidak tahu bahwa Waka Waka, juga lagu yang ia putar sebelumnya merupakan lagu Piala Dunia. Waka Waka untuk Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, sedangkan La La La Piala Dunia 2014 di Brasil. Bahkan sebenarnya Hips Don’t Lie juga lagu tema –walau bukan lagu utama– di Piala Dunia 2006.
Kesimpulan Ocik Nensi perihal "satu server" tidak jadi pembahasan lebih lanjut. Namun Shakira dan lagu-lagu Piala Dunia yang dinyanyikannya menggiring percakapan ke soal yang memang belum pernah sekali pun disinggung oleh orang-orang di Kedai Tok Awang. Lewat telepon selularnya Sudung langsung melakukan pencarian di Google. Dia mengetik: 'lagu Piala Eropa 2020', dan muncullah lagu berjudul We Are The People.
“Siapa yang nyanyi, Dung?” tanya Jek Buntal.
“Martin Garrix. Sama Bono dan The Edge.”
"Bah! Band U2?" tanya Mak Idam pula. "Yang satu lagi siapa tadi? Giring? Calon presiden itu?"
Sudung tergelak. "Kok, lari ke calon presiden pulak. Garrix, Mak. Bukan Giring. DJ dari Belanda kalok tak silap aku."
"DJ?"
"Iya, Disc Jockey. Operator musik ajeb-ajeb."
UEFA telah merilis We Are The People melalui berbagai platform komunikasi massa audio dan visual sejak 14 Mei 2021. Ini merupakan kali kedua [secara beruntun] UEFA mempercayakan penggarapan lagu tema utama kepada musisi digital. Pada Euro 2016 di Perancis, lagu berjudul This One’s For You menjadi kerja kolaboratif penyanyi Swedia Zara Larsson dengan DJ kenamaan David Guetta.
Tidak hanya di Piala Eropa, sebenarnya. Lagu tema Piala Dunia edisi teranyar juga tak lepas dari garapan DJ. Bedanya, Thomas Wesley Pentz atawa DJ Diplo, tak tampil di depan. Dalam lagu berjudul Live It Up tersebut, tiga sosok yang dicuatkan adalah Nicky Jam, Era Istrafi, dan aktor kenamaan Hollywood yang juga seorang rapper, Will Smith.
"Sebenarnya sejak kapan mulai ada lagu-lagu kayak gini? Ingatku, sejak sepak bola dunia dan Eropa mulai rutin ditayangkan di tivi kita, lagu Piala Dunia sudah ada," kata Jontra Polta.
"Kalau aku tak silap tahun 1966, Bang Jon," sahut Sudung. "Piala Dunia di Inggris. Selain lagu, di piala dunia ini juga mulai pakai maskot. Setelahnya, Piala Eropa ikut juga pakai lagu dan maskot."
Menurut Sudung pula, tahun 1966 itu sesungguhnya FIFA sekadar coba-coba. Mereka ingin melakukan terobosan baru agar kejuaraan ini lebih semarak dan mendapat perhatian lebih besar dari warga dunia. Mempertimbangkan universalitas, akhir musik yang jadi pilihan.
Ternyata hasilnya mengejutkan. Sinergi antara sepak bola dan musik mampu menghadirkan sesuatu sebelumnya tidak ada: emosional dalam benang merah keriang-gembiraan yang solid dan satu. Di luar lagu kebangsaan masing-masing, suporter yang datang dari negara mana pun akan menyanyikan lagu yang sama.
"Hmm..., iya. Betul yang kau bilang itu. Awak yang dari Indonesia aja, yang cumak bisa jadi penonton budiman, juga ikut semangat. Paling aku suka lagu Piala Dunia Italia tahun 1990. Sedap kutengok video klipnya," kata Jek Buntal.
"Ricky Martin, lah, Ketua. Itu yang paling mantap," sergah Tok Awang, lalu bernyanyi. Here we go! Ale, ale, ale! Go, go, go! Ale, ale, ale!
"Ocik Shakira, Tok Awang Ricky Martin pulak. Memang mantap kelen dua ini," seru Jontra Polta sembari tertawa.
“Eh, teringatnya, yang kita omongkan dari tadi, kan, lagu Piala Dunia semua. Cemana lagu Piala Eropa? Ada yang mantap, nggak?" tanya Ane Selwa. "Lagu Si Giring tadi pun belum pernah dengar aku."
"Putarkan dulu, Dung," ucap Lek Tuman. Percakapan soal lagu tema ini menghentikan sementara pertandingan catur dirinya dan Tok Awang. Posisi buah masih relatif sama kuat. Lek Tuman kehilangan dua gajah tapi berhasil menumpas kuda Tok Awang.
Sudung memutarkan We Are The People. Suara-suara digital elektrik racikan Martin Garrix terdengar. Lalu suara Bono diikuti sayatan gitar The Edge.
Out of the ruins of hate and war
Army of lovers never seen before
We are the people we've been waiting for
"Berat kali liriknya. Kurang menghentak-hentak juga. Kurang semangat. Aku jadi teringat lagu Simply Red di Piala Eropa 1996. Lupa aku judulnya, tapi liriknya berat dan agak melow-melow gitu. Makanya gagal Inggris jadi juara,” kata Mak Idam.
"Ada hubungannya itu?" tanya Mak Idam
"Ada, lah. Makin semangat lagunya, makin semangat pemainnya."
Ocik Nensi yang sedari tadi mendengarkan percakapan akhirnya menimpali. "Itulah kalau yang nyanyi lagu-lagu bola enggak bisa main bola."
"Maksud ocik siapa yang nggak bisa main bola?" tanya Mak Idam.
“Si Giring yang kelen bilang tadi, lah."
"Garrix, Cik. Martin Garrix."
"Iya, sama, lah, itu. Pasti nggak bisa dia main bola."
Sudung tergelak. "Macam mananya ocik ini. Tak mesti begitu, lah, Cik. Ini soal lagu. Bukan soal bisa enggak main bola. Ocik pikir Shakira bisa main bola?"
"Kok jadi kau larikan ke Shakira pulak?"
"Tadi lagu yang ocik putar, yang kami semua ikut nyanyi, itu, kan, lagu bola. Lagu Piala Dunia."
"Eh, iya? Tapi..., jangan salah kau, Dung. Kurasa bisa dia main bola. Diajarin sama lakiknya. Yakin kali aku. Percuma, lah, lakiknya jago."(t agus khaidir)
Pernah dimuat di Harian Tribun Medan
Edisi cetak Kamis, 10 Juni 2020
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/martin-garrix.jpg)