Kedai Tok Awang
Saat-saat yang Bikin Berdebar
Di laga terakhir babak grup ini tentu semua tim yang masih memiliki peluang akan berjuang sampai "titik darah penghabisan"
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Matchday 3 Euro 2020
BABAK grup Euro telah memasuki laga-laga terakhir. Saat-saat yang genting dan bikin berdebar. Grup A telah menjalaninya. Hari ini, dan besok, giliran Grup B dan Grup C. Hanya Belanda dan Belgia yang betul-betul sudah aman ke 16 besar. Empat tim lain masih punya peluang yang sama untuk mendapatkan dua tiket tersisa. Plus dua dari empat potensi tiket sebagai peringkat ketiga terbaik.
Di Grup C, Ukraina dan Austria akan bentrok. Adapun di Grup B, Finlandia yang punya nilai sama dengan Rusia akan berhadapan dengan Belgia, sedangkan Rusia melawan Denmark yang sudah dua kali mengalami kekalahan.
Namun regulasi peringkat tiga terbaik membuat hitung-hitungan jadi lebih rumit. Kalah dua kali “semestinya” membuat Denmark masuk kotak. Dalam hal Grup B ini ternyata tidak. Belgia memimpin dengan enam poin dan selisih gol empat. Peringkat kedua Rusia, poin tiga dan selisih gol minus (-) dua. Dibawahnya Finlandia dengan nilai tiga dan selisih gol nol. Rusia berada di atas Finlandia dikarenakan regulasi head to head.
Anomali terjadi apabila Denmark menang dari Rusia dengan selisih gol di atas dua, dan di saat yang sama Belgia membenamkan Finlandia, juga dengan selisih lebih dari dua. Maka Denmark berpeluang lolos. Setidaknya untuk “mengadu nasib” di perebutan empat tiket peringkat tiga terbaik.
"Itulah, karena UEFA atas restu FIFA menambah jumlah peserta turnamen, jadinya yang agak ribet begini. Kalau dulu sebelum 2016, kan, gampang. Pokoknya yang lolos ke babak knockout itu yang peringkat satu dan dua saja. Peringkat tiga dan empat pulang. Selesai, enggak capek-capek awak ngitungnya," kata Jontra Polta sembari mencoret-coret buku kecilnya.
"Ah, harusnya ketua senang, lah. Makin rumit hitungan, kan, makin banyak juga yang pasang," ujar Ane Selwa menimpali.
"Enggak juga, Ne. Sudah agak payah sekarang karena corona-corona ini. Payah orang carik kerja, payah dapat duit. Daripada pasang dan kalah, orang tepikir mending, lah, duitnya dibelikan beras saja."
"Makanya, kau carik duit yang halal saja, Jon. Ini Si Sela sedang cari partner jualan jamu. Iya, kan, Sel?" sergah Ocik Nensi yang sejak tadi mengobrol dengan Tante Sela.
"Iya, Bang Jon. Aku mau buka lapak dekat pajak sana. Kebetulan ada yang modalin. Tapi untuk yang keliling rencanaku tetap. Mau kutambah pun dua kereta lagi. Kalok Bang Jon mau biar aku list satu, enggak kukasih orang lain," ujarnya.
"Aimak! Enggaklah, Tante. Bisa berkurang ketampanan awak nanti," ucap Jontra Polta sembari tersungut-sungut. Ane Selwa tertawa. Pun Lek Tuman, Sudung, Jek Buntal, dan Wak Razoki yang sedang bermain catur dengan Tok Awang. Mereka barangkali ikut geli membayangkan Jontra Polta jualan jamu.
Jon masih tersungut-sungut. Percakapan berlanjut. Belanda versus Makedonia Utara di-skip. Yang satu sudah lolos yang satunya lagi sudah terdepak. Hanya Lek Tuman dan Wak Razoki yang sempat menyinggung, menyebut Belanda, lewat performanya di dua pertandingan pertama, patut untuk dimasukkan ke dalam daftar unggulan. Jek Buntal tidak sepakat. Bilangnya, Grup C sesungguhnya kelewat enteng bagi Belanda. Dengan kata lain, menurut Jek yang diamini Ane Selwa, Ukraina dan Austria belum menjadi tantangan seutuhnya.
"Apalagi Makedonia Utara, ya," sambung Tok Awang tanpa memalingkan pandangannya dari papan catur. Skor 1,5-0,5, Tok Awang kini memegang buah putih dan mengawali langkahnya dengan pembukaan Gambit Raja.
"Kayaknya memang belum waktunya negara pendatang baru untuk bicara di Euro kali ini," katanya menambahkan.
"Eh, masih ada Finlandia, Tok," sahut Sudung. "Siapa tahu aja ada kejutan, kan."
Tok Awang menggeleng. Sudung diliriknya sekilas sebelum kembali fokus ke papan. "Kau tahu, Dung, Belgia itu enggak punya jalan untuk memilih-milih lawan di 16 besar. Cemana pun tetap juara grup orang itu. Jadi untuk apa kendorkan gas. Ya, gas terus, lah," ujarnya.
"Tapi, Tok, apa enggak sudah lolos itu Belgia mainkan cadangan-cadangannya?" tanya Ane Selwa.
Pertanyaan ini dijawab Wak Razoki. "Ne, walau pun Belgia nanti mainkan cadangannya semua, tetap menang orang itu. Enggak imbang. Udah jago kali, lah, Finlandia kalok bisa seri aja."
Lek Tuman agaknya belum puas atas jawaban Wak Razoki. "Eh, Wak Razoki jangan lupa. Nanti mainnya bukan di Belgia, tapi di kandang Finlandia. Ingat uwak Perancis semalam? Enggak ada yang jagokan Hungaria. Besar kali pun dikasih voor. Kenyataannya, Perancis hampir kenak letup."
"Ah, Perancis itu terlalu percaya diri. Jadi sok! Merasa sudah di atas angin mentang-mentang favorit nomor satu. Pas nengok Hungaria main kayak gitu, dan penontonnya juga banyak kali, baru terkejut. Untung tak kalah. Nah, kalok Belgia lain, Pak Kep. Dari awal turnamen mereka justru diragukan. Pemain pun jadi ada motivasi untuk membuktikan diri. Termasuk cadangan-cadangannya," ujar Wak Razoki.
Katakanlah begitu. Berarti, angin mengarah ke Rusia dan Denmark. Persisnya, bertiup relatif kencang ke Rusia dan cenderung sepoi ke Denmark. Bagi Denmark, pukulan atas musibah yang dialami sang playmaker memang terlalu keras. Sebelum masuk ke arena pertarungan Euro 2020, sejumlah skenario dan kemungkinan telah dipikirkan dan disiapkan, dan mereka sama sekali tidak siap bermain tanpa Christian Erikksen. Cadangan bagi Erikksen pastinya ada. Namun persoalannya adalah cara Erikssen menepi. Bukan cedera, bukan strategi, tapi situasi antara hidup dan mati.
Laga kontra Belgia semestinya dapat menjadi momentum kebangkitan. Sayangnya, mereka tetap tertekan, dan akhirnya kalah lagi. Apakah sekarang mereka bisa memanfaatkan peluang yang lebih kecil –bahkan sangat-sangat kecil– ini?
"Rusia enggak akan kasih kendor," kata Jek Buntal. "Ini soal marwah. Setidaknya kalok pun nanti gugur enggak di babak awal. Enggak malu-malu kali."
Terlepas dari marwah atau alasan lain yang sifatnya mirip, di laga terakhir babak grup ini tentu semua tim yang masih memiliki peluang akan berjuang sampai "titik darah penghabisan". Spartan sampai wasit meniupkan pluit tanda laga berakhir. Di Grup C, Ukraina dan Austria betul-betul bersaing sangat keras. Nilai mereka sama, selisih gol pun sama. Jika Ukraina ditempatkan di atas Austria, maka ini dikarenakan agresivitas gol mereka kala berhadapan dengan pimpinan klasemen Belanda. Austria gagal mencetak gol dan kebobolan dua kali, sebaliknya Ukraina mampu menyerangkan dua gol meski di sisi lain tiga kali jala gawang mereka digetarkan. Alasan lain, fairplay. Ukraina mendapatkan kartu kuning lebih sedikit (dua berbanding tiga).
"Kalok secara teknis imbang-imbang, lah, orang ini. Pemain-pemainnya pun rata-rata air. Enggak ada bintang yang terlalu menonjol. Lebih mengandalkan permainan kolektif," ujar Lek Tuman.
"Iya, memang imbang kekuatan, tapi aku agak lebih soor ke Ukraina," kata Tok Awang yang akhirnya memenangkan pertarungan dengan Wak Razoki. "Bukan karena pelatihnya Shevchenko, ya. Tapi dibanding Austria, kulihat Ukraina ini lebih tajam dan cepat. Enggak gampang nyerah juga. Ingat kelen pada lawan Belanda? Udah ketinggalan dua kosong, masih bisa dikejar orang itu. Karena sial aja akhirnya jadi kalah. Padahal tinggal lima menit lagi kalok tak silap pertandingannya, eh, malah kebobolan. Cumak hasil itu kayaknya kemudian jadi pelajaran bagi Shevchenko. Waktu lawan Makedonia lebih hati-hati mereka main," ujarnya.
Sudung, Jek Buntal, Ane Selwa dan Wak Razoki, bergantian memberikan analisis dan perkiraan. Hanya Jontra Polta yang diam. Ocik Nensi yang sedang menonton sinetron lepas berjudul 'Penjual Jamu Tampan Masuk TV dan Jadi Artis tapi Kemudian Lupa Anak Bini', menegurnya.
"Cemana, Jon, udah kau pikirkan lagi tawaran Si Sela tadi? Jangan lama-lama kau, nanti disambar orang."
Jontra Polta menggeleng. "Sorry, lah, Cik. Awak tak minat. Kalok ditawari jadi calon lakiknya tadi baru awak mau."
"Teringatku, kan, Cik, udah lama juga tante itu menjanda, kan? Apa memang enggak ada rencana dia cari lakik baru?” tanya Sudung pula.
Ocik Nensi menggeleng. "Nantilah ocik tanyakan. Cumak dari sekarang ocik kasih tahu, kalau pun iya, siap-siap, lah, kelen bersaing sama Wak Razoki. Gitu, kan, orang tua?"
Wak Razoki yang sedang menyeruput kopi tersedak. Lalu batuk-batuk. "Eh, kok, aku pulak," katanya di sela-sela batuk. "Hati-hati bercakap, Cik. Jangan sebar fitnah. Dosa. Ini, lah, jadinya kalok keseringan nonton Ikatan Cinta." (t agus khaidir)
Pernah dimuat di Tribun Medan
Senin, 21 Juni 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kombo-bola.jpg)