Kedai Tok Awang
Jalan Terjal Dua Juara
Permainan Portugal belum berubah. Tetap Ronaldo sentris. Persoalan muncul ketika Ronaldo mandek. Portugal ikut rusak. Seperti laga melawan Jerman.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Euro 2020
- Portugal vs Perancis
KATA juluk yang disematkan para peramal bola untuk Grup F Euro 2020 benar-benar terwujud. Iya, grup ini memang "neraka". Sampai menjelang laga ketiga, belum satu kontestan pun yang memastikan tiket ke babak 16 besar. Pun sebaliknya. Belum ada yang harus mengemas koper untuk pulang.
Perancis sementara di posisi pertama dengan torehan empat poin. Disusul Jerman dan Portugal masing-masing tiga poin, dan Hongaria satu poin. Hongaria belum tersisih lantaran jika mereka menang di laga penghabisan kontra Jerman, paling tidak, tiket sebagai peringkat tiga terbaik bisa diperoleh. Bahkan bisa saja langsung lolos apabila di laga lain, Perancis mengandaskan Portugal.
Dengan demikian Perancis akan mengemas poin tujuh, Hongaria empat, Jerman dan Portugal tiga. Jerman "mengadu nasib" untuk tiket peringkat tiga terbaik, sedangkan Portugal, sang juara bertahan, terdepak.
"Bisa nggak skenario kayak gini terjadi? Agak-agakku kelewat ajaib, lah, ya. Terutama untuk Hongaria. Entah pesta kayak mana lagi orang itu kalok betul terjadi. Kemarin aja pas seri lawan Perancis perasaan udah kayak juara dunia selebrasinya," kata Leman Dogol.
Mak Idam tergelak. "Eh, Jangan mamak tanya kayak gitu. Nanti dibilang Tok Awang lagi, semua mungkin, yang tak mungkin Timnas Indonesia jadi macan Asia. Cemana mau lawan Jepang atau Korea atau Iran, atau katakanlah Australia, lawan Vietnam aja udah tekincit-kincit," ujarnya.
Tok Awang yang sedang membantu Ocik Nensi merajang bawang menyahut. "Itu, kan, soal semalam, Dam. Kalok yang dibilang Si Leman ini setuju saya. Hongaria bisa menang lawan Jerman kayaknya peluangnya satu banding seratus, lah. Bak kata Asmuni dulu, hil yang mustahal. Di atas hal yang mustahil lagi itu."
"Tapi bisa seri orang itu sama Perancis, Tok," ucap Sangkot menimpali. "Bisa seri lawan Perancis berarti bisa juga, lah, orang itu menang lawan Jerman. Kan, Perancis menang sama Jerman. Kalok dilihat dari peringkat pun lebih rendah Jerman dari Perancis."
"Ah, sejak kapan ada matematika dalam sepak bola? Kau ini macam baru kemarin aja nonton bola, Kot. Betul Hongaria bisa seri sama Perancis, tapi itu bukan karena mereka bisa mengimbangi. Kau catat, ya. Seri tapi tidak imbang. Ngerti, kau, kan? Kualitas Perancis tetap jauh lebih tinggi dari Hongaria, tapi akhirnya pertandingan seri karena pemain-pemain Perancis kelebihan percaya diri. Pas nengok Hongaria ngotot, dan penontonnya juga ramai kali, barulah tekejut badan orang itu. Kebobolan pulak. Makin panik. Untung, lah, tak sampai kalah."
"Jerman pasti main lebih hati-hati," kata Lek Tuman menyambung. "Paling nggak, mereka bisa jadikan Perancis conbar; contoh barang, iya, kan. Gitulah jadinya kalok sepele."
Paparan Tok Awang dan dukungan Lek Tuman membuat percakapan perihal Hongaria dan peluangnya versus Jerman selesai. Entah semua sepakat entah diam-diam masih bertahan dengan keyakinan sendiri, yang jelas, tak ada yang mencoba membantah tatkala Jontra Polta menyebut, dari statistik yang disusunnya berdasarkan jumlah pemilih Jerman dan Hongaria di buku kecilnya, Pasukan Der Panzer –julukan Tim Nasional Jerman– unggul jauh. Bahkan berbandingnya pun terbilang sangat jauh.
"Ada beberapa yang tetap ke Hongaria. Aku kenal mereka. Ya, enggak kenal-kenal kali, lah. Kenal-kenal jambu. Memang keras pendirian dan prinsip. Kalok udah gitu, ya, gitu. Dua pemilu lalu tetap Prabowo pilih orang itu," katanya.
Percakapan pun sepenuhnya bergeser ke laga yang menurut Jontra Polta lebih penting: Portugal kontra Perancis. Laga dua juara. Yang satu juara Piala Eropa; juara bertahan, satunya lagi juara dunia. Dan sekarang, keduanya berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Namun dibanding Perancis, jalan Portugal sepertinya lebih terjal. Cristiano Ronaldo Sentris, tipikal permainan Portugal dalam kurun setidaknya sepuluh tahun terakhir belum bergeser sama sekali. Bagaimana pun bentuk serangan mereka, puncaknya akan selalu mengarah ke Ronaldo. Sudah sangat tertebak. Jika Ronaldo berada dalam top form, tak masalah. Benteng pertahanan sekuat apapun, bisa, dan terbukti pernah diruntuhkannya.
Persoalan muncul ketika Ronaldo mandek. Portugal otomatis ikut rusak. Seperti laga melawan Jerman kemarin. Terlepas dari gol cepat yang dilesakkannya, plus ambruknya mental Portugal lantaran dua bunuh diri dalam tempo hanya lima menit, pada laga ini Ronaldo boleh dikata tak banyak berbuat. Sekadar lari sana lari sini, menguras energinya –yang makin terbatas– untuk melepaskan diri dari kawalan. Pemain-pemain belakang Jerman secara bergantian berhasil melokalisir pergerakannya.
Sialnya, Pelatih Fernando Santos sama sekali tidak punya pilihan. Ronaldo masih ada, dan mau tak mau, suka tidak suka, inilah yang terbaik baginya.
"Mestinya Santos bisa memanfaatkan situasi. Ronaldo, seperti juga Messi, masih ditakuti. Ibarat kata ini, ya, kalok pun cumak main pakek satu kaki, satunya lagi sedang rengkak, tetap enggak bakal ada bek yang kelewat bengak untuk melepas orang itu. Tetap tempel sampek lengket. Kalok perlu pegang tali kolornya. Nah, di saat kayak gini, mestinya Santos menugaskan pemain lain untuk bergerak," kata Lek Tuman.
"Di Jerman kemarin ada Toni Kroos, Pak Kep. Udah hapal kali dia permainan Ronaldo macam mana. Pasti dibisikkannya itu sama bek-bek Jerman," ujar Leman Dogol pula.
"Kalok gitu lebih kaco, lah, Portugal ini lawan Perancis," sambung Sangkot yang kemudian diteruskan Mak Idam. "Iya, di Jerman cumak satu pembisiknya. Di Perancis dua. Varane dan Benzema. Kalok soal hapal-hapalan gerakan, kurasa Si Varane malah lebih hapal ketimbang Kroos. Sering berhadapan orang itu dalam latihan," katanya.
Arah pilihan Lek Tuman, Leman Dogol, Sangkot, dan Mak Idam sepertinya makin mengerucut ke Perancis. Jontra Polta kemudian menambahkan data-data yang membuat mereka merasa makin yakin. Bilang Jon, dari 27 laga sejak tahun 1926, Portugal hanya menang enam kali.
"Dua kali imbang, dan selebihnya, 19 kali, tebuntang mereka. Sembilan belas kali! Banyak itu," katanya sembari tertawa-tawa.
Tok Awang yang masih belum tuntas dengan bawang menyahut. "Iya, memang 19 kali kalah. Tapi jangan lupa kau, Jon. Tiga pertandingan terakhir, Perancis enggak bisa menang. Sekali seri dua kali kalah. Terakhir kalah di final Euro yang lalu."
"Makanya itu, Tok. Pertandingan ini ajang balas dendam," kata Jontra Polta di sela tawa.
Ocik Nensi yang sedari tadi diam akhirnya buka suara. "Ah, balas dendam, balas dendam. Siapa kali rupanya orang itu mau balas dendam? Marah Tuhan. Di dunia ini yang boleh balas dendam cumak Jacky Chan."(t agus khaidir)
Pernah dimuat di Harian Tribun Medan
Rabu, 23 Juni 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/foto-kombo-portugal-vs-perancis.jpg)