Breaking News

Melihat Sejarah Budaya Di Museum Simalungun Siantar, Ada 975 Koleksi yang Bisa Dilihat

Museum mengalami perluasan pada tahun 1968, dari yang ukuran awal 8 x 10 meter menjadi 8 x 12 meter.

Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ ALIJA
Museum Simalungun yang ada di Siantar 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR-Rumah bolon berukuran 10 x 12 Meter di Jalan Sudirman, Kelurahan Proklamasi, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, menjadi titik di mana budaya Simalungun terangkum dalam sebuah museum.

975 koleksi tentang seluk beluk budaya Simalungun tersaji di sini.

Melansir dari data yang dimiliki Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Museum Simalungun berdiri sebagai keputusan 7 raja Simalungun, kepala distrik, tungkat, tokoh masyarakat dan pemerintah dalam sebuah pertemuan 'harungguan' yang diadakan pada 14 Januari 1937.

Baca juga: Ingin Vaksinasi Gratis, Warga Kecewa tak Boleh Masuk ke Lapangan Benteng

Museum Simalungun yang ada di Siantar
Museum Simalungun yang ada di Siantar (TRIBUN MEDAN/ ALIJA)

 

Museum kemudian dibangun pada 10 April 1939 dengan tambahan bantuan dari pemerintah kolonial Belanda sebesar 1600 gulden.

Seiring berjalannya waktu, museum terus mengalami perubahan.

Museum mengalami perluasan pada tahun 1968, dari yang ukuran awal 8 x 10 meter menjadi 8 x 12 meter.

Kemudian pergantian penyangga museum dari yang semula kayu menjadi beton pada tahun 1982.

Museum Simalungun memberi kesan wisata edukasi yang ringkas.

Lokasinya yang tak terlalu luas, membuat wisatawan tak perlu berlama-lama dan bersusah payah mengunjungi galeri per galeri di museum.

Untuk memasuki Museum Simalungun dengan tradisi khas layaknya memasuki istana raja, wisatawan akan melewati beberapa patung Pangulu Balang - patung manusia berukuran mini yang dulu ada di istana dan perkampungan masyarakat.

Baca juga: Daftar Harga HP Vivo Keluaran Terbaru Juni 2021, Mulai dari V21, HP Vivo Mulai 1 Jutaan

Patung Pangulu Balang
Patung Pangulu Balang (TRIBUN MEDAN/ ALIJA)

 

Patung Pangulu Balang ini menjadi pelindung raja lantaran dianggap sakti. Pangulu Balang dianggap bisa mendeteksi tamu/orang asing yang hendak menemui raja.

Setelah melewati Pangulu Balang, terlihat sebuah tempat mencuci tangan dan kaki serta jeruk purut, yang mana biasanya wajib dilakukan seseorang jika ingin ketemu raja.

Jangan lupa membunyikan lonceng sebagai tanda anda sudah siap menemui raja.

Adapun koleksi milik Museum Simalungun meliputi berbagai dimensi kehidupan masyarakat dahulu kala.

Mulai dari koleksi pakaian adat, etnografika (peralatan rumah tangga), koleksi keramikologis, koleksi numetika (uang kuno), naskah kuno tentang tradisi lokal, arkeologi, serta kerajinan tangan kayu berbagai bentuk.

Baca juga: Takut Seperti di Pulau Jawa, Ribuan Warga Tanjungbalai Berbondong-bondong Ikut Vaksinasi

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved