News Video

Kampung Matfa Darussalam Didaulat Jadi Tempat Peringatan Bulan Bung Karno

Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sumatera Utara, menggelar peringatan 'Bulan Bung Karno', di Kampung Matfa

Editor: M.Andimaz Kahfi

Kampung Matfa Darussalam Didaulat Jadi Tempat Peringatan Bulan Bung Karno

TRIBUN-MEDAN.COM, LANGKAT - Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sumatera Utara, menggelar peringatan 'Bulan Bung Karno', di Kampung Matfa Darussalam, Langkat.

Kepala Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan Sumatera Utara, Idris Pasaribu mengatakan, acara tersebut merupakan peringatan hari lahirnya Pancasila, kelahiran putera sang fajar beserta wafatnya.

"Kami memilih Kampung Matfa ini karena di sinilah Bhineka Tunggal Ika. Di sini ada Batak, Jawa, Banjar, Nias, Aceh, Minang dan lainnya," kata Idris, Minggu (27/6/2021).

Menurut Idris, desa merupakan sumber kebudayaan. Kearifan lokal, masih tertanam kuat di banyak pedesaan.

Di Kampung Matfa, kata Idris telah menerapkan ajaran Bung Karno tentang musyawarah dan mufakat.

"Di sini makan bersama, menyelesaikan masalah bersama. Di sini juga bergotong royong," tambahnya.

Idris menuturkan, Kampung Matfa telah menjadi model desa yang mandiri dan berdaulat.

"Di sini sektor industri UMKM, pertanian, peternakan, perkebunan semuanya diusahakan sendiri oleh penduduk desa," imbuhnya.

Pantauan tribun-medan.com, hadir pada acara tersebut, Bendahara DPD PDI Perjuangan Sumut yang juga Anggota DPRD Sumut, Meriahta Sitepu, Sekretaris BKN PDI Perjuangan Sumut, Fatah Baginda Gorby Siregar beserta fungsionaris BKN lainnya.

Pada pagelaran tersebut juga ditampilkan pentas kebudayaan berupa tari daerah, pembacaan syair, puisi beserta salawatan.

Sementara itu, pemimpin berjulukan Kasih Sayang, Darussalam Langkat, Tuwan Imam mengatakan, desa merupakan benteng kebudayaan nasional terhadap serangan kebudayaan asing.

"Kita sudah melihat bahaya radikalisme karena kebudayaan asing dan ini sangat berbahaya," jelasnya.

Tuwan Imam mengatakan, persoalan bangsa ini adalah sulitnya untuk bersatu, mementingkan golongan, terlalu individualis nan kapitalistik.

"Padahal Bung Karno telah menganjurkan persatuan. Kita sudah dijajah sekian lama, tidak pantas kita untuk saling bermusuhan. Ingat, bagaimana perjuangan para pahlawan kita khususnya Bung Karno. Beliau (Bung Karno) mengatakan bahwa bangsa besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya," jelasnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved