TRIBUNWIKI

Sejarah Kerja Tahun, Ucapan Syukur Masyarakat Karo Atas Hasil Panen

Kegiatan tahunan ini, diketahui merupakan acara yang melambangkan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang didapat selama setahun terakhir.

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Ayu Prasandi
HO
Muda-mudi menari tarian khas Karo pada pelaksanaan kerja tahun atau merdang merdem, di Kecamatan Munte, beberapa waktu lalu. Kerja tahun merupakan ucapan syukur masyarakat Karo atas hasil panen. 

TRIBUN-MEDAN.com, KABANJAHE -Indonesia dikenal dengan beragam suku dan budayanya. Begitu juga dengan kebudayaan yang ada di masyarakat, yang sampai sekarang masih dijaga dan dilestarikan.

Bagi masyarakat suku Karo, salah satu kegiatan budaya yang sampai saat ini dilestarikan oalah kerja tahun atau yang disebut dengan Merdang Merdem.

Kegiatan tahunan ini, diketahui merupakan acara yang melambangkan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang didapat selama setahun terakhir.

Baca juga: Liga 2 2021 Ditunda, Manajemen PSMS Medan Berharap Pemain Tidak Patah Semangat

Seperti diketahui, mayoritas masyarakat yang tinggal di Kabupaten Karo tak terlepas dari aktivitas pertanian.

Pada perayaan ini, selain ucapan syukur juga terselip doa dan harapan agar hasil pertanian selama setahun ke depan kembali sukses.

"Kita tau Kabupaten Karo dikenal dengan kegiatan budayanya yang kental, salah satunya adalah kerja tahun. Di mana ini adalah bentuk syukur masyarakat atas hasil panen," ucap Kadis Pariwisata Kabupaten Karo Munarta Ginting, SP, Selasa (29/6/2021).

Berdasarkan informasi yang didapat, perayaan kerja tahun ini biasanya digelar di setiap desa-desa di Kabupaten Karo.

Pelaksanaan kerja tahun ini, juga digelar di waktu yang berbeda di setiap desanya.

Namun, seperti di Kecamatan Munte merayakan kerja tahun pada hari ke-26 beraspati medem kalender Karo yang biasanya jatuh di bulan juli.

"Di setiap desa itu berbeda-beda pelaksanaannya memang," ucapnya.

Pusat perayaan, biasanya di alun-alun atau biasa disebut los, semacam balai tempat perayaan pesta.

Baca juga: Presiden Jokowi Menanggapi Kritikan BEM UI yang Menyebutnya The King of Lip Service

Acara disitu dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron di mana muda-mudi yang sudah dihias dengan pakaian adat melakukan tari tradisional.

Perayaan tidak hanya dirayakan oleh penduduk kampung tetapi juga kerabat dari luar kampung ikut diundang menambah suasana semakin semarak.

Pada hari itu pekerjaan paling berat adalah makan. Karena setiap kali berkunjung ke rumah kerabat, aturannya wajib makan.

Dari berbagai informasi yang ada, pelaksanaan kerja tahun ini tidak hanya digelar pada satu hati saja. Bahkan, karena rasa suka cita masyarakat atas rezeki dari hasil panen pelaksanaan kerja tahun ini digelar berhari-hari, dan setiap harinya memiliki makna yang berbeda.

Hari pertama yang disebut cikorkor, merupakan bagian awal dari persiapan menyambut kerja tahun yang ditandai dengan kegiatan mencari kor-kor, sejenis serangga yang biasanya ada di dalam tanah.

Umumnya lokasinya di bawah pepohonan. Pada hari itu semua penduduk pergi ke ladang untuk mencari kor-kor untuk dijadikan lauk makanan pada hari itu.

Hari kedua, yang disebut cikurung, ditandai dengan kegiatan mencari kurung di ladang atau sawah. 

Kurung adalah binatang yang hidup di tanah basah atau sawah, biasa dijadikan lauk oleh masyarakat Karo.

Baca juga: TERBARU Aksi Kebrutalan KKB di Papua, 5 Orang Pekerja Bangunan Tewas dan Kepala Suku Luka-luka

Hari ketiga yang disebut ndurung, kegiatan mencari durung sebutan untuk ikan di sawah atau sungai. Pada hari itu penduduk satu kampung makan dengan lauk ikan.

Ikan yang ditangkap biasanya nurung mas, lele yang biasa disebut sebakut, kaperas, belut.

Hari keempat yang disebut mantem atau motong, yaitu satu hari menjelang hari perayaan puncak. Pada hari itu penduduk kampung memotong lembu, kerbau, dan babi untuk dijadikan lauk.

Hari kelima, manata yang artinya hari puncak perayaan. Pada hari itu semua penduduk saling mengunjungi kerabatnya.

Setiap kali berkunjung semua menu yang sudah dikumpulkan semenjak hari cikor-kor, cikurung, ndurung, dan mantem dihidangkan. Pada saat tersebut semua penduduk bergembira.

Panen sudah berjalan dengan baik dan kegiatan menanam padi juga telah selesai dilaksanakan.

Hari keenam, nimpa. Hari itu ditandai dengan kegiatan membuat cimpa, makanan khas Karo, biasa disebut lepat.

Tidak lengkap rasanya merdang merdem tanpa kehadiran cimpa. Untuk kecamatan lain di Tanah Karo kegiatan nimpa diganti dengan ngerires yaitu acara membuat rires yang dalam bahasa indonesia disebut lemang. 

Hari ketujuh disebut rebu. Hari tersebut merupakan hari terakhir dari serangkaian pesta enam hari sebelumnya.

Baca juga: 5 Pekerja Jembatan Penghubung Jalan Tol Trans Papua Ditembak Mati KKB, Kepala Suku Luka-luka

Pada hari tersebut tidak ada kegiatan yang dilakukan. Tamu-tamu sudah kembali ke tempat asalnya.

Momen yang melibatkan seluruh warga kampung tersebut biasanya juga dimanfaatkan muda-mudi sebagai ajang mencari jodoh.

Setiap acara merdang merdem biasanya dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron yaitu acara tari tradisional Karo yang melibatkan pasangan muda-mudi.

(cr4/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved