Nasi Lemak Kamal, Makanan Legendaris Khas Tanjungbalai Yang Wajib Dicoba

Nasi lemak ini, memiliki porsi sedikit dengan varian lauk ikan teri sambal, udang ebi, dan ikan. Namun, di warung ini memiliki menu rahasia.

Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ ALIF
Pelanggan, Bustami Chipit memakan nasi lemak Kamal / Bentuk nasi lemak Kamal yang legendaris di Tanjungbalai  

TRIBUN-MEDAN.com, TANJUNGBALAI- Kota Tanjungbalai di kenal dengan kuliner unggulannya yaitu kerang.

Sehingga Kota Tanjungbalai di beri julukan si Kota kerang.

Selain kerang, Tanjungbalai juga memiliki kuliner khas, yaitu nasi lemak Tanjungbalai

Yang bikin makanan ini menjadi khas, rasa nasi yang kuat. Nasi yang di masak dengan santan dengan bungkusan daun pisang membuat penikmatnya tidak akan lupa dengan wanginya.

Baca juga: Dua Surat Alquran Paling Agung, Cahaya Istimewa untuk Rasulullah Muhammad

Salah satu warung legendaris yang menjual nasi lemak khas Tanjungbalai ini adalah warung nasi lemak Kamal yang terletak di di Jalan Julius Usman, Kecamatan Indrasakti, Kota Tanjungbalai yang biasa di bilang lorong pucuk.

Pasalnya, warung ini telah buka sejak tahun 1978. Usaha turun menurun ini sudah masuk ke generasi ke-3.

Nasi lemak ini, memiliki porsi sedikit dengan varian lauk ikan teri sambal, udang ebi, dan ikan. Namun, di warung ini memiliki menu rahasia dengan lauk ikan pari dan bebas memilih apa saja.

Untuk lauk ikan pari sendiri, kamu harus memesan jauh-jauh hari, karena tidak di sediakan.

Untuk harga, satu porsi nasi lemak dihargai dengan harga Rp 3 Ribu per porsinya, sedangkan menu ikan pari, dikenakan harga Rp 4 ribu rupiah.

Nasi lemak Kamal ini, bisa di bilang mirip dengan nasi kucing khas Yogyakarta karena usiannya yang sedikit namun nikmat untuk di santap.

Baca juga: Tak Nyesal Nikahi Mulan Jameela, Ahmad Dhani Senang Tiap Bangun Pagi Lihat Istri Seksinya Lagi Tidur

Namun, sang pemilik toko enggan mengatakan bahwa nasinya tersebut adalah nasi kucing.

Kalau orang luar Tanjungbalai dan Asahan yang makan kesini bilang ini nasi kucing. Karena porsinya sedikit.

Tapi kami enggak mau menyebut ini nasi kucing. Kalau nasi kucing itu kesannya memang yang makan kucing,” kata Yuni, generasi ketiga Nasi Lemak Kamal Tanjungbalai, Rabu (30/6/2021).

Ia menjelaskan sebutan nasi kucing tak diadopsinya dikarenakan ia ingin memiliki brand sendiri dan tak ingin ikut-ikutan.

Dalam pengajuannya, nasi ini dahulu dijual seharga Rp 50 pada tahun 1978, dan hingga kini Rp 3 Ribu.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved