Kedai Tok Awang

Grup Neraka Cuma Hiperbola

Portugal didepak Belgia, Perancis ditekuk Swiss, dan Jerman bertekuk lutut dari seteru abadinya Inggris. Padahal ketiganya kandidat kuat juara.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/INA FASSBENDER/OLIVIER CHASSIGNOLE/ANDY RAIN
Foto kombo (searah jarum jam) kekecewaan suporter Belanda, Perancis, dan Jerman, usai tim mereka tersingkir di babak 16 Besar Euro 2020. 
  • Jelang 8 Besar Euro

AKHIRNYA, kejutan yang sungguh-sungguh kejutan menang benar-benar terjadi di Euro 2020. Tak tanggung. Empat tim yang berada di jajaran teratas sebagai favorit juara telah angkat koper. Padahal kejuaraan baru sampai di fase delapan besar.

Belanda sudah pulang. Pun Portugal, Perancis, dan Jerman. Tiga yang disebutkan terakhir, pada babak penyisihan grup sama-sama tergabung di Grup F, grup yang dengan gagah disebutkan sebagai 'grup neraka'.

Entah sejak kapan pengistilahan ini muncul dan mulai dipakai. Entah apa pula latar belakangnya, hingga kata 'neraka' yang berkecondongan pada kematian dan kehidupan setelah mati dan ketersiksaan dan kengerian, dikaitpautkan dengan sepak bola, wa bil khusus kompetisinya.

Namun di Euro 2020, kata 'neraka' ini pada akhirnya sekadar jadi kata hiperbola yang diolok-olok. Betapa tidak. Alih-alih menyiratkan kengerian, atau katakan sajalah penggambaran persaingan sengit menuju tangga juara, neraka grup F hanya menjadi semacam jalan pulang.

Satu per-satu mereka mengepak koper. Hongaria tentu saja. Disusul Portugal, lalu Perancis, dan yang teranyar Jerman. Portugal didepak Belgia, Perancis ditekuk Swiss, dan Jerman bertekuk lutut dari seteru abadinya Inggris.

"Kalok Portugal sebenarnya kemarin itu fifty-fifty. Lawannya Belgia, keras kali juga, kan. Jadi memang beda peluang antara menang sama kalah, ya, setipis kulit bawang," kata Jontra Polta.

Leman Dogol mengangguk. "Awak lihat pun gitu, Ketua. Imbang-imbang, lah, mainnya. Enggak jelek main Portugal itu. Malah kalok tak silap lebih banyak orang itu pun yang nyerang. Lebih banyak pegang bola, lebih banyak nendang ke gawang. Cumak, ya, memang serangan Belgia yang jadi gol. Itulah sepak bola. Yang main bagus belum tentu menang."

"Betul, setuju saya," ucap Zainuddin menyambung. "Portugal atau Belgia, siapa pun masuk, atau sebaliknya, siapa yang tersingkir, memang enggak terlalu mengejutkan sebenarnya. Beda sama Belanda, Perancis, dan Jerman."

Jek Buntal yang sedang menggenjrang-genjrengkan gitar mengikuti tutorial lagu Satru dari Denny Caknan yang ditontonnya di YouTube, cepat menyergah.

"Belanda udah kita bahas kemarin. Memang dongok Frank de Boer itu. Pas yang dibilang Mourinho. Kenak sama Ceko yang mainkan strategi paten bingung dia, enggak tahu mau bikin apa."

"Perancis cemana, Ketua?" tanya Leman Dogol. "Apa Si Deschamps itu sama dongoknya?"

Jek menggeleng. "O, enggak. Masalah Perancis bukan di Deschamps, tapi di pemain-pemainnya. Apa, ya? Kalok menurutku, arogan-arogan kali. Sok! Banyak gaya!"

"Aih, kok, jadi emosi gitu, Ketua? Selo, Ketua, nanti naik gula darah," seru Ocik Nensi dari meja seberang. Setelah sepekan terakhir menonton film-film di Netflix, hari ini ia kembali ke selera asal. Bersama Tante Sela, sinetron berjudul Aku Terpaksa Merebut Suami Sahabatku, ditonton sembari dibahas dengan tingkat keseriusan yang menggetarkan.

Ane Selwa yang sedari tadi serius menonton duel Tok Awang dan Wak Razoki di papan catur ikut menyeletuk.

"Ketua kalah berapa rupanya? Banyak? Memang agak lucu-lucu sekarang, Ketua. Unpredictable. Marvelous. Bukan cumak ketua aja, setahuku banyak yang lebih rusak."

Jek Buntal menggeleng lagi. "Enggak ada hubungannya ini sama kalah dan menang, Ne. Tengok, lah, pertandingan itu. Swiss jelas-jelas enggak lebih bagus. Serangan Perancis lebih tajam. Mereka bikin tiga gol, tapi sebenarnya bisa lebih banyak, bisa berlipat, cumak gampang aja dibuang-buang orang itu peluang. Apalagi Si Mbappe itu. Sampek ngamuk mamak Si Rabiot. Abis pertandingan didatanginya bapak Si Mbappe, direpetinya. Begadoh orang itu di stadion, ada yang rekam, masuk di Twitter dan TikTok. Jadi rame. Sudah, lah, kalah, eh, kenak bully pulak di medsos. Dua kali sial jadinya."

Jontra Polta, Leman Dogol, Zainuddin, dan Ane Selwa tertawa. Pun Tok Awang dan Wak Razoki. Sudung yang baru tiba di Kedai Tok Awang, baru saja mencecahkan bokong ke kursi, langsung menimpali.

"Bukan cumak Bapak Si Mbappe yang direpeti, Ketua. Mamak dan Bapak Paul Pogba jugak digasnya. Garang kali mamak Si Rabiot itu memang. Tapi, iya, lah. mau cemana lagi. Panas pulak hatinya. Mamak-mamak kalok lagi panas memang kayak gitu. Enggak heran."

“Oijang, cantek kali muncungmu bekicau, Sudung," sahut Ocik Nensi. "Mau kulaporkan kau ke Komnas Perempuan? Bak disuruh orang itu kau bayar utang. Baru seperempat yang kau bayar, kan? Sisanya kapan?"

Sudung segera mengunci mulut. Tok Awang terbatuk, lalu cepat-cepat meneguk kopinya yang tinggal separuh. Wak Razoki mengalihkan percakapan. Menyinggung laga Inggris versus Jerman.

"Menurut kelen, bagusnya permainan Inggris waktu menang sama Jerman itu? Kalok aku lihat enggak. Biasa-biasa aja. Lamban kali pun. Tapi ada pulak yang bilang, Inggris sengaja main kayak gitu supaya Jerman bingung dan enggak bisa berkembang."

Gareth Southgate memainkan 3-4-3 lagi, dengan Harry Kane sebagai target. Namun pilihannya di lini tengah agak tak biasa. Di sentral lapangan, dia menurunkan duet gelandang yang belum punya jam terbang tinggi di laga internasional. Declan Rice, asal West Ham United, baru 17 kali mengenakan kostum The Three Lions –julukan Tim Nasional Inggris. Kalvin Philip, pemain Leeds United, meski dari sisi usia lebih tua, lebih "culun" lagi. Dia baru delapan kali memperkuat Inggris.

"Saya sempat agak ragu waktu lihat line up Inggris itu," kata Zainuddin. "Apa bisa mereka mengimbangi Toni Kroos dan Leon Goretzka. Kan, MF, dua-duanya itu. Maksud saya, gelandang yang lebih ke bertahan. Kalau demikian, tentu, Jerman akan lebih leluasa menyerang. Eh, ternyata di lapangan jadi lain. Inggris memang jadi lamban, tapi Jerman malah ikut-ikutan lamban."

"Kalok gitu salah kali, lah, Mak Idam, semalam, ya," sebut Sudung. "Dibilangnya enggak ada pelatih Inggris yang cerdas. Secara enggak langsung, kan, mau dibilangnya kalok Si Southgate ini jugak enggak cerdas."

"Kupikir enggak juga," sahut Wak Razoki. "Bukan Southgate yang betul-betul cerdas, tapi Joachim Low yang enggak ada semangat lagi. Sudah bosan dia jadi pelatih timnas."

"Eh, bai de we, untuk perempat final nanti cemana, Mak Jon? Udah ada gambaran?" tanya Jek Buntal pada Jontra Polta. Jon tersenyum, lalu mengeluarkan buku kecilnya.

"Selo kelen, bursa efek belum buka. Udah hubar-habir semua ini dunia per-bola-an. Kalok Italia, Inggris, dan Belgia pun pulang, bakal makin enggak jelas lagi. Gini, orang sukak kejutan, tapi, jangan pulak, lah, sampek terkejut-terkejut kali. Paling jauh, ya, terkejut-terkejut jambu, lah. Belanda pulang, oke. Portugal, Perancis, Jerman pulang, yaaa.., masih oke, lah. Tapi, cak kelen bayangkan dulu, cemana, lah, nanti jadinya kalok di final itu yang main Swiss lawan Ukraina. Bisa ikut nangis Lord Rangga dan Aldi Taher,” katanya.(t agus khaidir)

Pernah dimuat di Harian Tribun Medan
Kamis, 1 Juli 2021
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved