Kedai Tok Awang

Makin Dekat ke Jalan Pulang

SATU cita-cita besar Inggris yang sampai sekarang belum kesampaian adalah memulangkan sepak bola ke “tanah airnya”.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
AFP PHOTO/Justin TALLIS/ROBERT GHEMENT
FOTO kombo pemain Tim Nasional Inggris Harry Kane (kiri) dan pemain Tim Nasional Ukraina Andriy Yarmolenko. Ukraina dan Ingris akan berhadapan di babak Perempat Final Euro 2020 di Stadion Olimpico, Roma, Italia, Minggu (4/7/2021) dinihari WIB. (AFP PHOTO/Justin TALLIS/ROBERT GHEMENT) 

SATU cita-cita besar Inggris yang sampai sekarang belum kesampaian adalah memulangkan sepak bola ke “tanah airnya”.

Begitulah Inggris selalu melempar klaim bahwa Inggris merupakan asal-muasal olahraga ini.

FOTO kombo pemain Tim Nasional Inggris Harry Kane (kiri) dan pemain Tim Nasional Ukraina Andriy Yarmolenko. Ukraina dan Ingris akan berhadapan di babak Perempat Final Euro 2020 di Stadion Olimpico, Roma, Italia, Minggu (4/7/2021) dinihari WIB. (AFP PHOTO/Justin TALLIS/ROBERT GHEMENT)
FOTO kombo pemain Tim Nasional Inggris Harry Kane (kiri) dan pemain Tim Nasional Ukraina Andriy Yarmolenko. Ukraina dan Ingris akan berhadapan di babak Perempat Final Euro 2020 di Stadion Olimpico, Roma, Italia, Minggu (4/7/2021) dinihari WIB. (AFP PHOTO/Justin TALLIS/ROBERT GHEMENT) (AFP PHOTO/Justin TALLIS/ROBERT GHEMENT)

Meski klaim ini telah kerap mendapat bantahan; Bill Muray dalam The World Game: A History of Soccer menyebut, sesuatu yang mirip sepak bola telah dimainkan oleh orang-orang di era Mesir Kuno, Yunani, dan Cina (dibuktikan berbagai gambar di atas kulit binatang maupun ukiran di dinding batu), Inggris tetap bersikukuh.

Argumen mereka, sepak bola yang dimaksud adalah sepak bola sebagaimana yang dimainkan saat ini.

Sepak bola modern.

Sepak bola sebelas lawan sebelas dengan lapangan dan dua gawang, dan dengan bola yang bukan tengkorak kepala manusia.

Aturan ini memang ditetapkan di Inggris pada tahun 1863 –meski dalam satu artikel di L´Osservatore Romano, edisi 28 Juni 2010, disebut bahwa permainan yang mirip sepak bola modern sudah dimainkan orang-orang dari Suku Guarani di Paraguay pada 1793 atau 70 tahun sebelum klaim Inggris.

Namun katakan sajalah Inggris benar.

Katakanlah mereka memang “nenek moyang” sepak bola.

Maka sampai di sini akan mencuat ironi.

Betapa sebagai “penemu”, sebagai “nenek moyang”, atau pionir atau tanah air atau entah apalah namanya, Inggris tertinggal jauh dari negara-negara yang justru lebih belakangan mengenal sepak bola.

Inggris baru satu kali menjuarai Piala Dunia dan bahkan belum pernah sekali pun menyentuh laga puncak Piala Eropa.

“Makanya Inggris tu bolak-balik sebut ‘Football Coming Home’. Sepak bola pulang ke rumah. Cumak masalahnya, slogan aja.  Enggak pulang-pulang jugak barang itu,” kata Jek Buntal.

“Lebih parah dari Bang Toyib berarti, ya, Mak?” ujar Mak Idam menyambung.

“Bang Toyib cumak tiga kali puasa tiga kali lebaran enggak pulang. Sepak bola enggak pulang ke Inggris dari tahun 1966. Udah setengah abad lebih.”

Setelah sejenak terjeda oleh rambasan gitar Mak Idam yang ternyata dengan agak canggih disambut Tante Sela (seturut gaya Jessica Bunga alias Jebung [... Bang Toyib kenapa tak pulang-pulang, anakmu, anakmu, panggil-panggil namamu...] yang katanya ditontonnya berulangkali di YouTube), percakapan mengenai Inggris berlanjut lagi.

Sepak bola Inggris berada di titik nadir pada medio 1980-an sampai awal 1990-an.

Stadion-stadion yang buruk; tua dan tidak memenuhi standar keamanan.

Suporter-suporter perusuh.

Hooliganisme menyebar dan merasuki hampir semua klub.

Nyaris tiap pertandingan berkesudahan dengan kerusuhan.

Mobil-mobil dibakar.

Fasilitas-fasilitas publik dibakar dan dirusak.

Dan entah berapa banyak nyawa melayang.

Satu yang terparah adalah kerusuhan yang dipicu suporter Liverpool [berdasarkan penyidikan polisi] pada final Piala Champions kontra Juventus di Stadion Heysel, Brussel, Belgia, tahun 1985.

SUPORTER Liverpool dan Juventus bentrok pada laga yang mempertemukan kedua tim di Final Piala Champions 1985 di Stadion Heysel, Brussel, Belgia. (Empics sport)
SUPORTER Liverpool dan Juventus bentrok pada laga yang mempertemukan kedua tim di Final Piala Champions 1985 di Stadion Heysel, Brussel, Belgia. (Empics sport) (Empics sport)

Atas tragedi ini, UEFA melarang seluruh klub Inggris dari semua kasta untuk bermain di semua kompetisi Eropa.

Lalu The FA, asosiasi sepak bola Inggris, melakukan langkah revolusioner.

Banyak pihak dilibatkan.

Pemerintah, perusahaan-perusahaan swasta nasional, sampai investor asing.

Kompetisi yang kolot diubah jadi modern.

Pada 20 Februari 1992, Premier League lahir, diikuti kompetisi-kompetisi di bawahnya, dan sejak itu, perlahan tapi pasti, wajah sepak bola Inggris tak lagi identik dengan keberingasan dan kebrutalan dan kecentangprenanangan.

Berganti wajah yang cemerlang, dan elite.

“Kalok ingat-ingat cemana kompetisi bola di Inggris dulu, rasa-rasanya enggak terbayang orang itu bisa jadi lebih paten dari Serie A dan La Liga. Sama Jerman pun dulu kalah jauh,” ucap Ane Selwa.

Lek Tuman tertawa.

“Betul kali itu, Ne. Masalahnya, Inggris ini, kan, cumak kompetisinya aja yang paten. Klub-klubnya paten. Kaya-kaya. Kalok tak silap, ada lima klub Inggris yang masuk daftar klub paling kaya di dunia. Juara Liga Champions jangan tanya. Pernah sampek sama-sama orang itu yang main di final. Juara Liga Europa juga sering. Tapi tim nasionalnya enggak. Lebih banyak kalahnya dari menangnya. Kayak dibilang Mak Idam tadi. Udah setengah abad lebih enggak pernah juara. Udah lebih-lebih PSMS kutengok.”

Tidak ada yang menyambut kalimat Lek Tuman soal PSMS.

Bukan semata lantaran apa yang diucapkannya memang betul [PSMS baru 36 tahun tidak juara], bukan juga karena Sudung datang dan sekonyong-konyong bilang ada isu berkembang Jerinx SID mau duel di Octagon lawan Iko Uwais gara-gara adu bacot dengan warganet di akun Instagram Stevi Item, tapi disebabkan revisi pernyataan Mak Idam bahwa kemungkinan Gareth Southgate lebih pintar dari kelihatannya.

FOTO kombo Pelatih Tim Nasional Inggris Gareth Southgate (kiri) dan Pelatih Tim Nasional Ukraina Andrey Shevchenko. (AFP PHOTO/LEE SMITH/Frank AUGSTEIN)
FOTO kombo Pelatih Tim Nasional Inggris Gareth Southgate (kiri) dan Pelatih Tim Nasional Ukraina Andrey Shevchenko. (AFP PHOTO/LEE SMITH/Frank AUGSTEIN) (AFP PHOTO/LEE SMITH/Frank AUGSTEIN)

“Kayak Rowan Atkinson. Tahu kelen siapa dia, kan. Mister Bean. Johnny English. Kelihatan dongok, kan, padahal sebenarnya pintar. Sarjana teknik elektro dia itu,” katanya.

Lek Tuman tertawa lagi.

Kali ini lebih keras.

Sudung, Jek Buntal, Ane Selwa, juga ikut tertawa.

Pun Tok Awang yang sedang membantu Ocik Nensi memasak mi instan pesanan sejumlah anak muda yang sejak tadi riuh membicarakan formasi CPNS.

“Yang kelewatan, lah, Mamak,” kata Lek Tuman di sela tawa.

“Masak Southgate mamak samakan dengan Mister Bean. Macam dongok kali, lah, dia mamak bikin.”

“Mantap strateginya itu, Mak,” sambung Jek Buntal pula.

“Terutama pas lawan Jerman. Pernah mamak nonton film tai-chi? Nah, Southgate pake jurus itu. Sengaja dibikinnya lambat main Inggris. Dibiarin orang itu Jerman nyerang. Jerman ngerasa mereka di atas angin, enggak sadar justru sedang kepancing. Cerdik itu, Mak. Masih tak mamak akui jugak?”

Inggris menyingkirkan Jerman secara tegas dan terukur.

Gareth Southgate memberi bukti dia mampu meracik strategi mumpuni.

Mampu memberi porsi tugas yang pas dan berdaya tohok maksimal kepada pemain-pemainnya.

Maka seharusnya tidak ada masalah bagi Inggris dalam menghadapi Ukraina di laga Perempat Final Euro 2020 nanti.

Ukraina yang kini dilatih legenda mereka Andriy Shevchenko secara umum boleh dibilang tak lebih baik dari Jerman.

Tidak terlalu istimewa. Sebagaimana gaya permainan negara-negara pecahan Soviet lain, Ukraina mengandalkan fisik dan kecepatan, dengan serangan-serangan dari sayap yang tajam.

“Tapi kalok enggak hati-hati bisa rusak Inggris ini. Tengok, lah, Swedia kemarin. Sakit kali kalahnya. Menit 120, sikit lagi mau habis perpanjangan waktu, eh, bobol,” kata Sudung.

Tok Awang yang baru saja mengantarkan pesanan para calon pelamar CPNS ikut nimbrung.

“Southgate harus wanti-wanti dua bek sayapnya. Luke Shaw, sama siapa namanya itu? Trippier, ya? Jangan ke-soor-an naik, overlapping, pulangnya nunggu becak. Ngeri-ngeri kali umpan silang pemain Ukraina itu soalnya. Gol kedua ke gawang Swedia, kelen tengok, lah. Bebelok bolanya kayak Marquez ngelibas tikungan. Kalok enggak hati-hati, Southgate enggak bisa antisipasi, ya, siap-siap, lah, Inggris-nya aja yang coming home. Yang pulang. Football-nya enggak,” katanya.

Dari meja seberang, Ocik Nensi yang sedang berselancar di TikTok bersama Tante Sela, menyeletuk dengan nada suara kencang.

“Teringatnya, kok, enggak pernah kelihatan lagi Si Marquez di Timnas Spanyol? Semalam pun tak main, kan? Sedang cedera atau udah pensiun dia?”

Sudung langsung menyambung.

“Udah pensiun, lah, Cik. Ke mana aja, Ocik, sampek bisa enggak tahu berita besar. Barengan Michael Jordan waktu itu pensiunnya.”

“Eh, Jangan kau tokoh-tokohi aku, ya, Sudung. Michael Jordan pulak kau bilang. Kau pikir aku enggak tahu dia pemain golf.”

(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved