Breaking News:

Nelayan Sergai Resah, Nelayan Batubara Gunakan Pukat Trawl Saat Mencari Ikan

Semenjak Bupati baru ini kita lihat makin banyak jumlahnya dan makin terang-terangan saja orang itu. Kalau bisa diusirlah.

Penulis: Indra Gunawan | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN/ INDRA GUNAWAN SIPAHUTAR
NELAYAN di Pantai Bogak Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai berdiri diatas kapalnya dan berharap ada tindaklanjut yang dilakukan Pemerintah dan Polri terkait banyaknya pukat trawl saat ini, Minggu, (4/7/2021). (TRIBUN MEDAN/ INDRA GUNAWAN SIPAHUTAR) 

TRIBUN-MEDAN.com, SEIRAMPAH - Nelayan tradisional yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) meminta perhatian Pemerintah dan Polri terkait kondisi yang mereka alami saat ini. Para nelayan resah karena semakin hari semakin banyak nelayan dari Kabupaten Batubara yang menggunakan alat tangkap pukat trawl. Mereka khawatir jika tidak ada tindaklanjut atas masalah ini, ke depan nasib mereka yang akan terancam.

"Dua tahun lagi nyungkur (payah cari ikan) kami ini karena bakal nggak ada lagi ikan di perairan Sergai ini. Yang dari Batubara ini pakai pukat traw,  habis semua rumah ikan. Mereka bisa ke sini (perairan Sergai) karena di tempat mereka sudah rusak dan nggak ada lagi ikannya," ujar seorang nelayan, Khair Marpaung Minggu (4/6/2021).

Nelayan yang sehari-hari melaut dari perairan Pantai Bogak Kecamatan Teluk Mengkudu ini menyebut, dulu para nelayan yang memakai pukat trawl hanya melaut malam hari. Karena tidak pernah ada penindakan, sekarang mereka pun sudah berani dan terang-terangan melakukan pengrusakan di siang hari. Besar harapan mereka agar hal ini bisa ditindaklanjuti demi menyelematkan nasib nelayan kecil.

"Semenjak Bupati baru ini kita lihat makin banyak jumlahnya dan makin terang-terangan saja orang itu. Kalau bisa diusirlah. Kalau kita mana berani, sampan kita kecil. Karena besar sampan mereka ya bisa ditabrak kita. Sudah pernah kejadian seperti itu. Mereka itu jumlahnya banyak, bergerombol gitu," kata Khair Marpaung.

Para nelayan yang ada di Pantai Bogak ini berpendapat, saat ini Pemerintah maupun Polri seperti kurang perhatian. Meski aksi unjuk rasa meminta agar nelayan pukat trawl ditertibkan namun tidak ada tindaklanjut. “Jangan sampai ada bentrok dan jatuh korban dulu baru dilakukan tindaklanjut. Kalau jarak kami mencari ikan hanya di kejauhan sekitar dua mil saja dari pesisir pantai,” katanya.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pemkab Sergai, Sri Wahyuni Pancasilawati yang dikonfirmasi mengaku tahu dengan kondisi yang dialami oleh nelayan. Dikatakannya, pada saat zaman Kapolda masih dijabat Komjen Pol Agus Andrianto yang saat ini menjabat Kabareskrim Polri pernah dilakukan rapat bersama dengan Kepala-kepala daerah. Saat itu kesimpulan rapat adalah pihak Kabupaten Batubara berjanji untuk mengganti alat tangkap nelayannya yang memang dilarang sesuai ketentuan.

"Sampai sekarang nggak jalan memang ternyata. Apa mungkin kami yang marah-marah ke sana, nggak mungkin dong. Harusnya merekalah yang menjalankan apa yang sudah disampaikan dalam rapat itu. Dulu di Sergai juga ada pukat trawl sekotar 40 an tapi kenapa sekarang sudah nggak ada lagi dan habis. Kita bisa kenapa mereka nggak bisa," kata Sri.

Baca juga: PUKAT Trawl Marak di Serdang Bedagai, Kadiskanla Sri Wahyuni Angkat Bicara

Perempuan yang akrab disapa Yuyun ini mengatakan, dulu Sergai termasuk daerah yang paling tinggi untuk pengolahan ikan asin. Hal ini lantaran memang ada pukat trawl. Dampak dari pelarangan pukat trawl kemudian banyak ibu-ibu yang tidak bisa bekerja lagi untuk memproduksi ikan asin.

" Tapi itu dampak sementara saja. Nelayannya kita berikan lagi bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan makanya mereka tidak mengeluh. Soal pukat trawl ini peran Provinsi dan Polisi dibawah Pol Airud tapi tetap kita laporkan ke Provinsi terkait sudah marahnya pukat trawl ini," kata Yuyun. 

Perlu Penanganan Serius

KETUA Aliansi Nelayan Sumatera Utara (ANSU), Sutrisno mengatakan, saat ini nelayan di Sergai khususnya sangat resah dengan keberadaan pukat trawl ini. Keresahan itu karena saat melaut kadang mendapat ancaman. Disebut selama ini nelayan tradisional tidak bisa berbuat banyak karena jumlah nelayan menggunakan pukat trawl jumlahnya ada ratusan.

"Lebih dari 90 persen nelayan di Sergai ini nelayan tradisional makanya harus dilindungi. Kalau yang dari Batubara itu mereka bisa sampai 10 sampai 20 kapal. Saat bekerja, ada khusus satu kapal yang bertugas memantau kalau ada nelayan kita yang complain. Nggak segan itu mereka itu menabrak,"ujar Sutrisno.

Sutrisno mengatakan, saat ini di perairan Sergai sedang musim udang. Karena keberadaan pukat trawl dari Batubara, nelayan tradisional pun terganggu. Menurutnya, penyelamatan nelayan tradisional di Sergai perlu ada penanganan serius dari Pemerintah maupun Polri.

"Menurut saya, seperti tak ada skema penanganan yang serius. Kayak pemadam kalau sudah kebakaran baru dipadamkan. Cuma gitu aja. Proses pengawasan laut sangat lemah dan nggak ada wewenang kabupaten tapi provinsi,” kata Tris.(dra/tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved