Lebih Murah dari Rafale yang Diborong Prabowo, Jet Tempur Siluman Ini setara F-35 yang Diimpikan RI
Checkmate lebih cepat, memiliki jangkauan lebih jauh, unsur silumannya lebih besar dan membawa lebih banyak persenjataan daripada F-35.
TRIBUN-MEDAN.COM - Jet tempur siluman terbaru Rusia Sukhoi CheckMate resmi diluncurkan Presiden Vladimir Putin dalam MAKS 2021 Air Show di Moskow, Selasa 20 Juli 2021.
BUMN Rusia Rostek dan United Aircraft Corporation (produsen jet tempur Sukhoi) mengklaim jet tempur siluman (stealth) CheckMate bermesin tunggal setara atau lebih unggul dari jet siluman F-35 Amerika yang pernah diimpikan Indonesia.
Amerika menolak menjual jet siluman F-35 ke Indonesia.
Namun Amerika menyetujui dua negara tetangga Indonesia, Singapura dan Australia mendapatkan pesawat generasi kelima tersebut.
Selain mengklaim kemampuan yang lebih hebat dari jet siluman F-35 milik Amerika dan sekutu dekatnya, ternyata harga CheckMate sangat murah.
Bahkan lebih murah dari jet tempur generasi 4.5 Rafale yang disebut-sebut sudah diborong Menhan Prabowo.
Baca juga: Produsen Jet Tempur Rafale Bertemu Anak Buah Prabowo, Indonesia Positif Beli 36 Jet Tempur Rafale?
Baca juga: HEBAT, Akhirnya Indonesia Punya Jet Tempur tak Terkalahkan F-15EX Dampingi Rafale Sukhoi dan F-16
Bos Rostec Sergey Chemezov mengatakan CheckMate dimaksudkan menjadi alternatif yang lebih efektif dan terjangkau untuk harga F-35, Gripen SAAB, dan Dassault Rafale Prancis.
Di pasaran jet tempur generasi 4.5 Gripen SAAB, dan Dassault Rafale Prancis mulai dari $60 hingga $90 juta.
Sedangkan F-35 banderol sekitar 77 juta dollar AS (Rp 1,1 triliun) hingga 100 juta dollar AS (Rp 1,4 triliun).
“Harga kami, saya harap, masing-masing antara $25 (Rp 363 miliar) dan $30 juta ( (Rp 436 miliar),” kata Chemezov.
Meski murah, Rostec mengklaim kemampuan CheckMate mengalahkan F-35.
Menurut Rostec jet siluman CheckMate dapat digunakan di hampir semua kondisi cuaca dan iklim apa pun dengan kecepatan hingga 1.8 march.
Checkmate memiliki jangkauan hingga 2.800 kilometer (1.740 mil) dan kapasitas muatan maksimum 7.400 kilogram.
Checkmate mampu lepas landas dari landasan pendek – tetapi tidak vertikal (seperti yang dilakukan F-35), dan dilengkapi dengan ruang senjata modular yang dapat dilengkapi dengan rangkaian lengkap rudal anti-pesawat, pod senjata, bom, dan peluru kendali.
Checkmate versi drone juga sedang dalam pengembangan.
Checkmate bermesin tunggal dengan sistem logistik terkomputerisasi - dijuluki 'Matryoshka'.
Dijadwalkan Checkmate menjalani uji terbang paling lama 2023, pembuatan prototipe hingga 2025, dan produksi awal 2026.
Namun, Sukhoi dan Rostec bersikeras Checkmate adalah "pada prinsipnya pesawat yang sama sekali berbeda."
“Ini adalah pesawat yang unik,” kata mereka kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa Checkmate lebih cepat, memiliki jangkauan yang lebih jauh, tanda radar yang lebih kecil, dan dapat membawa lebih banyak persenjataan daripada F-35.
CEO United Aircraft Corporation Yury Slyusar mengatakan analisis pasar memproyeksikan permintaan Checkmate sekitar 300 pesawat dari klien di Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.
Rostec dan United Aircraft Corporation membantah angka 75 yang dituliskan di badan Checkmate bukan lah indikasi jet tempur terbaru ini merupakan prototipe Su-75.
Perwakilan Sukhoi berdalih perusahaan menganggap angka-angka itu "beruntung."
Sebab hingga saat ini AU Rusia belum menandatangani kontrak pembelian jet baru CheckMate.
Samuel Bendett, seorang ahli militer Rusia di Center for a New American Security di Washington, DC, mengatakan CheckMate adalah pesawat tempur ekspor—pesawat tempur yang relatif murah yang ditujukan bagi negara-negara yang tidak diberikan Amerika membeli jet tempur siluman F-35.
“Sejumlah negara yang sudah bersahabat dengan ekspor militer Rusia mungkin berbaris untuk jet tempur canggih,” kata Bendett.
Saat ini hanya beberapa negara sekutu dekat Amerika yang mendapatkan F-35.
Dua tetangga Indonesia sudah mendapat F-35, yakni Singapura dan Australia.
Calon jet siluman kerja sama Korea Indonesia KF-21 Boramae baru akan uji coba terbang pertama tahun depan.
Sementara jet tempur siluman China J-31 yang ditujukan untuk ekspor, sembilan tahun setelah penerbangan pertama, belum mendapatkan pembeli dari luar negeri.
CheckMate akan melengkapi Su-57 bermesin ganda yang lebih besar, yang pertama kali terbang pada tahun 2010 dan saat ini sedang dalam produksi di pabrik Sukhoi di Timur Jauh, Rusia.
Su-57—pesawat siluman berat dan kompleks—tampaknya mahal.
Seberapa mahal tidak jelas, tetapi perlu dicatat bahwa F-35 yang lebih kecil, yang diproduksi Lockheed Martin sekitar 140 pesawat per tahun, berharga sekitar $100 juta termasuk mesinnya atau sekitar Rp1.4 triliun.
Rusia telah memesan 78 unit Su-57, tetapi produksinya lambat dan baru beberapa jet yang beroperasi.
Sehingga secara teori CheckMate dapat melengkapi Su-57 dan membantu Angkatan Udara Rusia untuk menerjunkan jet tempur siluman bermesin ganda dan bermesin tunggal.
Itulah yang dilakukan Angkatan Udara AS—memperoleh ratusan F-35 untuk melengkapi 180 atau lebih F-22 bermesin ganda. (russia today)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/harga-jet-tempur-checkmate.jpg)