Breaking News:

BI Sumut Optimistis Dorong Laju Inflasi hingga Akhir Tahun

Namun begitu, Soeko mengatakan bahwa laju inflasi juga akan tertahan dengan adanya penerapan PPKM darurat yang membatasi aktivitas penjualan.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
Tribun-medan.com/HO
Dokumentasi Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatra Utara Soekowardojo dalam kegiatan Bincang Bareng Media beberapa waktu lalu. (Tribun-medan.com/HO) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) memprediksi inflasi Sumatera Utara tahun 2021 akan meningkat dibandingkan tahun 2020.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Soekowardojo mengatakan bahwa Kenaikan tekanan inflasi seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian didukung percepatan program vaksinasi oleh Pemerintah.

"Beberapa industri seperti otomotif, horeka, dan penerbangan juga telah mulai beroperasi," ungkap Soeko, Senin (26/7/2021).

Dengan perkembangan tersebut, realisasi inflasi Sumut tahun 2021 diproyeksikan masih berada pada rentang sasaran nasional 3%±1%, dengan potensi bisa bawah.

Namun begitu, Soeko mengatakan bahwa laju inflasi juga akan tertahan dengan adanya penerapan PPKM darurat yang membatasi aktivitas penjualan.

"Pelaksanaan PPKM menjadi faktor penahan laju inflasi di samping optimisme aktivitas masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Selain itu, dampak penahanan lainnya dari keterbatasan aktivitas hotel, restoran, dan kafe saat ini ," ujar Soeko.

Sementara itu, jika dilihat dari bulan Juni 2021 lalu, Sumut mengalami inflasi sebanyak 0,03 persen. Persentase ini menurun dari periode sebelumnya yang mencatatkan inflasi 0,22 persen.

"Penurunan laju inflasi disebabkan penurunan harga aneka cabai didorong oleh melimpahnya pasokan terutama dari Aceh dan Batubara menyusul panen raya sepanjang bulan Juni," jelas Soeko.

Baca juga: 70 UMKM Sumut Ikuti Pelatihan Kelas Ekspor, BI Sumut : Kita Dorong Go Ekspor

Selain cabai, hal serupa terjadi pada bawang merah di tengah aktivitas panen raya di Jawa Tengah. Di sisi lain, ikan dencis menahan penurunan inflasi lebih dalam.

Pasokan ikan yang terbatas akibat aktivitas melaut nelayan yang terganggu karena tingginya curah hujan diprakirakan memicu kenaikan harga ikan dencis.

Soeko juga tak menampik bahwa PPKM Darurat juga turut menganggu distribusi bahan pokok dari berbagai daerah termasuk Kota Medan.

"Pelaksanaan PPKM di Jawa Bali dan Medan diyakini dapat mencegah loss pertumbuhan ekonomi di akhir tahun 2021. Penerapan PPKM berpotensi untuk menganggu distribusi pasokan bahan makanan. Sehingga perlu pengendalian inflasi," ungkap Soeko.

Namun begitu, Soeko menuturkan bahwa perkembangan harga pangan selama PPKM darurat terpantau stabil. Secara umum tingkat harga masih berada pada range rerata harga dalam tiga tahun terakhir.

Ada pun kenaikan yang terjadi selama periode pelaksanan PPKM masih dalam batas yang wajar.

"Stabilitas harga ini juga diperkuat dengan hasil survey aliran pasokan Bank Indonesia yang menunjukan aliran pasokan pada pedagang besar di Kota Medan masih relatif stabil serta kecukupan stok di gudang bulog untuk komoditas beras, minyak goreng, dan gula pasir," ucap Soeko.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved