Bulu Tangkis Olimpiade
Harapan Final Indonesia di Ganda Putra Pupus, Kenapa Rekor Clean Sheet Minions dari Malaysia Putus
Minions tidak kalah karena sial dan kemenangan Malaysia bukan sekadar lantaran keberuntungan. Sebaliknya ini buah dari kalkulasi cermat dan matang.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUN-MEDAN.com, Medan - Ganda putra nomor satu dunia, Markus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukomulyo masuk lapangan dengan percaya diri. Di perempat final cabang bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar di Musahino Forest Sports Plaza, Tokyo, Jepang, Kamis (29/7/2021), mereka berhadapan dengan pasangan Malaysia, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik.
Lawan yang "empuk" sebenarnya. Kenapa? Rekor pertemuan mereka yang jomplang. Sampai sebelum laga Kamis pagi itu, Minions –julukan Markus dan Kevin– menang tujuh kali tanpa putus.
Ini laga kedelapan, dan rekor itu kelihatannya akan bertambah panjang tatkala mereka membukukan angka pertama dengan cara yang sangat meyakinkan: sambaran khas Kevin dengan backhand spin di depan net.
Namun rupa-rupanya angin segar terlalu cepat berembus. Sebab setelah itu itu pasangan Malaysia dengan cepat mencetak angka demi angka. Minions hanya sempat dua kali menyamakan skor, tanpa pernah bisa melewati.
Tidak hanya di set pertama. Situasi di set kedua pun sama sekali tak berubah. Mampu menyamakan skor di kedudukan 16-16, Minions kemudian gagal bergerak lebih jauh. Mereka kalah dua set. Telak! Rekor pun putus.
Pertanyaannya, kenapa bisa demikian? Minions tidak kalah karena sial dan kemenangan Malaysia bukan sekadar lantaran keberuntungan.
Sebaliknya ini buah dari kalkulasi cermat yang kemudian diaplikasikan secara cerdik dan matang oleh Flandy Limpele, pelatih ganda putra Malaysia, ke dalam strategi.
Minions dikenal dengan permainan cepat. Kevin si tangan petir menguasai area depan untuk menghasilkan arus serangan yang dieksekusi Markus.
Selama ini, meski sudah mengetahui metode ini, umumnya para pebulutangkis ganda putra dunia kerap gagal mengantisipasi. Melulu lantaran takut. Dalam hal ini takut melakukan kesalahan dalam bertarung melawan Kevin di depan net. Akibatnya, bola-bola pengembalian mereka justru jadi serba tanggung dan jadi santapan enak bagi Markus.
Bahkan jika ditilik, pasangan Jepang yang sering disebut sebagai "kryptonite" bagi Minions (istilah mengacu pada kelemahan karakter fantasi Superman, red), Hiroyuki Endo dan Yuta Watanabe, tetap tak berani bertarung di depan.
Mereka memilih jalan lain yakni beradu cepat dengan drive-drive silang yang tajam, berharap Markus dan Kevin melakukan kesalahan sendiri untuk menyerang balik. Mereka berhasil. Pasangan lain tidak.
Sampai pada laga kontra Lee Yang dan Wang Chi-lin di babak penyisihan grup. Lee dan Wang bermain agresif seperti biasanya.
Namun ada metode terapan yang sedikit berbeda dalam gaya mereka. Lee dan Wang secara bergantian memaksa Kevin Sanjaya untuk tidak berjarak terlalu dekat dengan net. Mereka menempatkan bola-bola yang membuat Kevin terpaksa mundur setengah langkah.
Tidak jauh memang, tetapi berdampak sangat nyata. Ketajaman sayatan bola Kevin di depan net berkurang. Di lain sisi, seringkali angkatannya jadi tanggung dan mudah disambar. Markus yang berada di belakang pun jarang mendapatkan bola-bola eksekusi yang bagus.
Flandy Limpele sepertinya mengadaptasi metode ini. Tujuh laga sebelumnya, sebagaimana kebanyakan pasangan-pasangan ganda putra di jajaran elite dunia lainnya, Aaron Chia selalu memaksa beradu kuat –dan beradu licin– dengan Kevin di depan net. Akibatnya jelas. Mereka jadi bulan-bulanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/minions-kalah1.jpg)