Breaking News:

IPO Bukalapak yang Terbesar Sepanjang Sejarah, Dana yang Dikumpulkan Capai Rp 21,9 Triliun

Pertama kalinya sebuah perusahaan startup teknologi unicorn secara resmi mencatatkan sahamnya di BEI.

Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
m14/Yosia Margaretta
BUKALAPAK menggelar jumpa pers menjelang Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menjadi era baru bagi pasar modal Indonesia.  Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, pertama kalinya sebuah perusahaan startup teknologi unicorn secara resmi mencatatkan sahamnya di BEI.

"Selain itu, dengan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 21,9 triliun, menjadikan IPO Bukalapak sebagai yang terbesar dalam sejarah bursa saham di Indonesia," ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (6/8/2021).

Inarno berharap langkah BUKA ini akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan teknologi lain guna semakin meningkatkan kapitalisasi pasar modal tanah air.  “Kami menyambut Bukalapak ke dalam daftar ternama perusahaan publik di BEI. Momen ini merupakan sebuah tonggak sejarah dan era baru bagi BEI," katanya.

Inarno menjelaskan, BUKA menjadi perusahaan dengan minat investor terbanyak, tercatat sekitar 96 ribu investor berpartisipasi pada IPO perseroan. Saham Bukalapak langsung melesat 25 persen bertengger ke level Rp1.060 per saham pada momen pertama kali melantai di bursa. Mengutip RTIInfokom, asing terpantau melepas kepemilikan senilai Rp132,28 miliar.

Baca juga: Pengamat Nilai Harga Saham Bukalapak Melejit karena Banyak Investor Mau Cepat Untung

Sekadar informasi, Bukalapak menunjuk UBS AG Singapore Branch dan Merrill Lynch (Singapore) Pte. Ltd sebagai Koordinator Global Gabungan dan Agen Penjual Internasional (Joint Global Coordinators and International Selling Agents) untuk memasarkan IPO pada investor internasional.

Sementara itu, PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas ditunjuk sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek (Joint Lead Managing Underwriters).   Adapun Penjamin Emisi Efek adalah PT UBS Sekuritas Indonesia, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Ciptadana Sekuritas Asia, PT Investindo Nusantara Sekuritas, PT Lotus Andalan Sekuritas, dan PT Panin Sekuritas Tbk.

Sementara itu Direktur Utama Bukalapak, Rachmat Kaimuddin mengatakan dana yang terhimpun pada pembukaan saham perdana dan seterusnya akan digunakan untuk pengembangan layanan terutama di luar kota-kota besar dan yang masih tertinggal dalam hal teknologi. "Kami akan terus berusaha untuk menyediakan layanan yang lengkap bagi underserved segmen terutama yang berada di luar kota-kota besar dan yang masih tertinggal dalam mengadopsi teknologi," katanya.

Ada Euforia

DIREKTUR CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira melihat ada euforia berlebihan dengan melejitnya saham Bukalapak. Padahal saham perusahaan ini masuk ke dalam emiten berisiko tinggi bagi investor fundamental.

"Ada euforia yang berlebihan karena investor retail melihat Bukalapak salah satu unicorn yang valuasinya besar meskipun secara profit belum menghasilkan," ujar Bhima.

Menurut Bhima, investor tidak berharap pada dividen tapi pada kecepatan pertumbuhan harga saham. Di sisi lain kelas menengah ke atas sedang mencari aset yang keuntungan jangka pendeknya tinggi di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 di mana sektor usaha banyak yang terpukul. "Jadi ini fenomena psikologis pasar yang tertarik ke aset dengan pertumbuhan tinggi, spekulatif disaat ekonomi tertekan," tuturnya.

Bhima mencontohkan fenomena serupa pernah terjadi pada 1998 ketika krisis Asia. Saat itu, ucap Bhima, startup yang melantai di bursa saham dan akhirnya meledak menjadi dotcom bubble (gelembung internet). "Masalah investasi di saham yang spekulatif adalah myopic syndrome yakni investor hanya melihat sentimen jangka pendek, mau cepat cari untung tapi tidak melakukan analisis lebih mendalam," ucap Bhima. Padahal, menurut Bhima, seharusnya investor retail melihat historis, sehingga euforianya tidak berlebihan, tetap melihat prospek, kinerja dan tren jangka panjang. (Tribun Network/nas/van/wly)

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved