Kerja 24 Jam di Jalur Tol Kualanamu, 36 Pekerja Belum Terima Gaji Hampir 3 Bulan
Pekerja PT A Club Indonesia ngeluh karena sudah tidak gajian 3 bulan lamanya, padahal bekerja 24 jam
Penulis: Indra Gunawan | Editor: Array A Argus
TRIBUN-MEDAN.COM,DELISERDANG-Para pekerja dari PT AA Club Indonesia bekerja 24 jam di jalur tol Kualanamu-Tebingtinggi.
Mereka bertanggungjawab mengevakuasi setiap kendaraan (diderek) yang mengalami mogok atau kecelakaan di jalur tol.
Meski bekerja 23 jam, nyatanya para pekerja sudah tiga bulan tidak gajian.
"Siapa yang tahan kalau enggak gajian-gajian. Jangankan yang berumahtangga, yang lajang saja pun ngeluh," kata seorang pekerja, minta namanya tidak dimuat, Minggu (22/8/2021).
Baca juga: Beredar Video Bajing Loncat di Tol Belawan, Polda Sebut Petugas Rajin Patroli
Pekerja itu bilang, mereka belum dibayar sejak bulan Juni 2021 kemarin.
"Yang jelas perusahaan sudah terhutang sama kami dua bulan, dan ini sudah mau tiga bulan enggak gajian karena tinggal beberapa hari lagi bulan Agustus," katanya.
Karena tak ada kejelasan, para pekerja ini mengancam akan mogok kerja.
Hal itu dilakukan guna membuka mata pimpinan perusahaan, bahwa para pekerja cukup menderita akibat tidak gajian.
"Gaji kami bukannya besar kali, cuma Rp 2,5 juta. Itupun kotor, karena bersihnya cuma Rp 2,3 juta," kata pekerja tersebut.
Baca juga: Merebak Kabar Ardi Bakrie Kabur dari Panti Rehab, Sampai Kecelakaan di Jalan Tol
Rencananya, mereka akan mogok kerja di pos pintu tol Pagar Jati Lubukpakam Senin, (23/8/2021).
"BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan kami pun tak kami pegang sampai sekarang. Padahal tiap bulan dipotong Rp 200 ribu," katanya.
Pekerja PT AA Club Indonesia sengaja meminta identitasnya disembunyikan dulu karena takut kalau perusahaan memberikan sanksi.
Mereka menyebut sebagai rekanan dari PT Jasa Marga Tollroad Operator (JMTO), harusnya perusahaan bisa memperhatikan kesusahan yang dialami oleh pekerja.
Baca juga: KRONOLOGI Wanita Terapis Bekam Tewas Dibunuh Temannya, Pelaku Kubur Korban di Lahan Kosong Bawah Tol
Selama ini banyak keluhan yang dirasakan karena untuk Tunjangan Hari Raya (THR) pun yang mereka terima tidak sesuai.
"Kami kerja sifatnya stanby, begitu ada kecelakaan meluncur ke lokasi. Satu shift 8 orang kalau di lapangan. THR tahun 2020 cuma dapat Rp 400 ribu, dan tahun kemarin cuma Rp 500 ribu. Kalau kami bilangnya bukan THR itu, tapi uang ucapan terima kasih saja mungkin," kata pekerja lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pekerja-pt-caa-indonesia.jpg)