Breaking News:

Warga Desa Kandibata Kabanjahe Tutup Paksa Aktivitas Proyek Pembangkit Listrik

Seratusan warga Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, menagih pelaksana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Hydro Micro (PLTHM).

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN/MUHAMMAD NASRUL
Warga Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, menutup paksa aktivitas pekerjaan di lokasi proyek PLTHM di Desa Kandibata, Jumat (24/9/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, KARO - Seratusan warga Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, menagih pelaksana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Hydro Micro (PLTHM) yang aktivitasnya dianggap merugikan masyarakat, Jumat (24/9/2021) sore.

Awalnya, dilakukan  mediasi atau musyawarah antara masyarakat dengan pihak proyek di Jambur Desa Kandibata. 

Dari proses musyawarah, perwakilan masyarakat kembali menjelaskan apa tuntutan mereka kepada pihak proyek. Namun, dari langkah musyawarah yang berlangsung secara alot ini tidak menemukan titik terang akan inti permasalahan ini. 

Setelah beberapa jam melakukan diskusi yang panjang, akhirnya diambil kesimpulan jika pihaknya proyek kembali meminta waktu selama satu minggu untuk membahas tuntutan masyarakat ini. Jawaban ini, tentunya menjadi pukulan bagi warga yang sudah menunggu selama sepekan terakhir. 

"Minggu lalu sudah ada persetujuan untuk meminta waktu. Sekarang minta waktu lagi. Seharusnya sekarang sudah ada jawaban," ujar koordinator aksi Anda Rudi Sembiring. 

Meskipun dengan perasaan kecewa, masyarakat kembali memberikan waktu bagi pihak perusahaan untuk membahas tuntutan masyarakat ini. Namun, sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati oleh perwakilan masyarakat dengan perwakilan proyek, jika hari ini tidak mendapatkan hasil maka masyarakat menutup paksa aktivitas di proyek tersebut. 

"Jadi inti dari pertemuan hari ini, kita tidak mendapatkan hasil. Jadi dengan terpaksa, sesuai dengan kesepakatan minggu lalu yang juga disaksikan oleh pihak kepolisian, maka kami akan menutup aktivitas di proyek," ucapnya. 

Mendengar pernyataan keputusan dari warga, perwakilan dari perusahaan proyek yang datang ke musyawarah ini mengaku pasrah. Terlebih, pria yang mengenakan baju berwarna putih ini mengaku dirinya tidak mengetahui sebelumnya jika ada kesepakatan antara warga dengan pihak pekerja proyek.

"Ya, kami minta waktunya seminggu untuk membahas ini. Kalau memang masyarakat sudah ada keputusan perjanjian sebelumnya, saya bisa apa?" katanya. 

Setelah adanya kesepakatan jika penutupan ini akan dilakukan karena tidak adanya hasil yang didapat, warga bersama-sama lansung menuju ke lokasi proyek. Dengan berbondong-bondong, warga baik kaum pria dan wanita serta muda dan tua ikut dalam aksi memperjuangkan haknya ini.

Setibanya di lokasi proyek, masyarakat lansung bergerak ke lokasi pengerjaan terowongan dua. Di sana, masyarakat tampak mengambil tanda informasi yang sebelumnya sempat terpasang namun telah lepas. Selain itu, masyarakat juga meminta para pekerja yang ada untuk menghentikan aktivitas pekerjaannya. 

Secara beramai-ramai, warga memindahkan tanda yang terbuat dari bahan terpal ini ke bagian pintu masuk ke lokasi proyek. Di dalam baliho ini, bertuliskan "lokasi ini disegel warga Kandibata". 

Warga Desa Kandibata ini menuntut agar pihak proyek menghentikan aktivitas peledakan dinamit untuk pembuatan terowongan. Selain itu, masyarakat juga menuntut kepada pihak proyek agar merealisasikan ganti rugi akan dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas peledakan dinamit ini. (cr4/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved