Breaking News:

Kejari Simalungun Tahan Kepsek SMP Negeri 1 Dolok Silau, Diduga Gelapkan Dana BOS Afirmasi

Kajari menjelaskan, Harles Sianturi mengelola dana bantuan BOS Afirmasi senilai Rp 214 juta dari dana bantuan APBN.

Penulis: Alija Magribi | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Kejari Simalungun tetapkan tersangka Kepala Sekolah SMP Negeri I Negeri 1 Dolok Silau, Harles Sianturi (tengah) ke penjara atas dugaan korupsi penggunaan dana BOS Afirmasi Tahun 2019 yang merugikan keuangan negara sebanyak Rp 214 juta, Selasa (5/10/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN - Kejaksaan Negeri Simalungun menahan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Dolok Silau, Harles Sianturi (56) untuk diperiksa atas atas dugaan korupsi penggunaan dana BOS Afirmasi Tahun 2019 yang merugikan keuangan negara sebanyak Rp 214 juta. 

Dana BOS Afirmasi adalah program pemerintah pusat yang dialokasikan bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang berada di daerah khusus yang ditetapkan oleh Kemdikbud.

"Hari ini kami menahan untuk 20 hari ke depan terhadap tersangka Harles Sianturi selaku kepala Sekolah SMP Negeri 1 Dolok Silau, Kabupaten Simalungun," ungkap Kepala Kejaksaan Negeri Simalungun Bobbi Sandri, Selasa (5/10/21) sore.

Kajari menjelaskan, Harles Sianturi mengelola dana bantuan BOS Afirmasi senilai Rp 214 juta yang bersumber dari dana bantuan APBN dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk kebutuhan pribadinya. Hal ini juga sudah dan telah dihitung oleh inspektorat sebagai pengawas Internal Pemerintah (APIP).

Lebih lanjut, Bobbi menjelaskan bahwa Harles Sianturi tidak koperatif selama diminta mengikut tahapan penyelidikan hingga penyidikan. 

Bobbi mengatakan, sejauh ini pihaknya masih menetapkan satu tersangka dan kemungkinan akan didalami lagi oleh tim jaksa penyidik. Kemungkinan akan ada tersangka lainnya.

"Soal penahanan tersangka tersebut masih dalam tahap penyidikan dan belum pada tahap dua. Karena beliau kurang kooperatif dan beberapakali dipanggil tidak dapat memenuhi panggilan (mangkir). Ia beralasan sakit, namun setelah kami periksa, beliau sehat dan bisa dilakukan penahanan," ungkapnya.

Selama mengikuti penyidikan, Bobbi pun memberi kesempatan tersangka menggunakan hak-haknya dengan didampingi pengacara. Namun, saat dipanggil sampai tiga kali tidak juga datang.

"Uang hasil korupsi, digunakan tersangka untuk kebutuhan pribadinya. Tersangka kita persangkaan dengan  Pasal 2 dan 3 UU No 20 Tahun 2021 junto Pasal 31 Tahun 1999 dengan ancam hukuman penjara maksimal seumur hidup," pungkas Kejari Simalungun. (alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved