TRIBUNWIKI
Stasiun Kereta Api Binjai, Gedung Bersejarah yang Tetap Pertahankan Arsitektur Bangunan
Stasiun Binjai saat ini sudah tidak melayani perjalanan KA menuju Besitang karena jalur ke Besitang sendiri saat ini dinonaktifkan.
Penulis: Satia | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN.COM, BINJAI- Stasiun Kereta Api Kota Binjai yang dibangun pada zaman Kolonial Belanda, merupakan saksi bisu sejarah di kota Rambutan.
Terletak di Jalan Ikan Paus, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai kini masi terus beroperasi.
Dilansir dari Wikipedia, Stasiun Binjai (BIJ), dahulunya bernama Stasiun Timbang Langkat, adalah stasiun kereta api kelas II.
Baca juga: Besok, Lifter Sumut Yolanda Putri Bakal Melawan Peraih Perunggu Olimpiade Tokyo
Stasiun yang terletak pada ketinggian +25,30 meter ini termasuk dalam Divisi Regional I Sumatra Utara dan Aceh.
Tidak seperti kebanyakan stasiun lain di Sumatra Utara yang sudah berganti arsitektur, Stasiun Binjai masih mempertahankan gaya bangunan kolonial semenjak masa pembangunannya dulu.
Stasiun Binjai saat ini sudah tidak melayani perjalanan KA menuju Besitang karena jalur ke Besitang sendiri saat ini dinonaktifkan.
Selain itu, stasiun ini juga tidak lagi melayani angkutan barang.
Pada masa lalu, terdapat empat stasiun antara Medan-Binjai, yakni Sikambing, Sunggal, Sungai Semayang, dan Diski.
Jalur ini sedang dalam progres reaktivasi sebagai bagian dari proyek pembangunan jalur kereta api Trans-Sumatra yang nantinya akan menghubungkan Aceh dengan Sumatra Utara.[3][4]
Dahulu, Stasiun Binjai merupakan persimpangan jalur ke Besitang dan jalur ke Kuala, tetapi saat ini jalur kereta api ke Kuala sudah mati dan yang tersisa hanyalah bekas-bekasnya saja.
Jalur kereta api menuju Kuala dan Besitang terdapat di sebelah utara stasiun Binjai.
Stasiun Binjai dahulu memiliki enam jalur kereta api, tetapi sekarang hanya tersisa tiga saja. Jalur 1 merupakan sepur lurus.
Baca juga: Aktor Ini Tinggalkan Dunia Hiburan, Kini Kerja di Kapal Perang, Padahal Sukses di Sinetron GGS
Di ujung utara stasiun ini juga masih terdapat sisa menara air dan sumurnya, serta corong air untuk lokomotif uap di ujung utara dan selatan emplasemen stasiun ini. Lebih dahulu lagi, stasiun ini memiliki depo lokomotif yang kini sudah dirobohkan.
Pada akhir tahun 2020 sistem persinyalan mekanik di stasiun ini sudah diganti dengan sistem persinyalan mekanik produksi Len Industri.
Hanya satu layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu kereta api Sri Lelawangsa.
(wen/tribun-medan.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/stasiun-kereta-api-binjai_20170104_180841.jpg)