Breaking News:

TRIBUNWIKI

Stasiun Kereta Api Binjai, Gedung Bersejarah yang Tetap Pertahankan Arsitektur Bangunan

Stasiun Binjai saat ini sudah tidak melayani perjalanan KA menuju Besitang karena jalur ke Besitang sendiri saat ini dinonaktifkan.

Penulis: Satia | Editor: Ayu Prasandi
Tribun-Medan.com
Suasana di stasiun kereta api Binjai, Rabu (4/1/2017). (Tribun-Medan.com/ Ayu Prasandi) 

TRIBUN MEDAN.COM, BINJAI- Stasiun Kereta Api Kota Binjai yang dibangun pada zaman Kolonial Belanda, merupakan saksi bisu sejarah di kota Rambutan. 

Terletak di Jalan Ikan Paus, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai kini masi terus beroperasi. 

Dilansir dari Wikipedia, Stasiun Binjai (BIJ), dahulunya bernama Stasiun Timbang Langkat, adalah stasiun kereta api kelas II.

Baca juga: Besok, Lifter Sumut Yolanda Putri Bakal Melawan Peraih Perunggu Olimpiade Tokyo

Stasiun yang terletak pada ketinggian +25,30 meter ini termasuk dalam Divisi Regional I Sumatra Utara dan Aceh.

Tidak seperti kebanyakan stasiun lain di Sumatra Utara yang sudah berganti arsitektur, Stasiun Binjai masih mempertahankan gaya bangunan kolonial semenjak masa pembangunannya dulu.

Stasiun Binjai saat ini sudah tidak melayani perjalanan KA menuju Besitang karena jalur ke Besitang sendiri saat ini dinonaktifkan.

Selain itu, stasiun ini juga tidak lagi melayani angkutan barang.

Pada masa lalu, terdapat empat stasiun antara Medan-Binjai, yakni Sikambing, Sunggal, Sungai Semayang, dan Diski.

Jalur ini sedang dalam progres reaktivasi sebagai bagian dari proyek pembangunan jalur kereta api Trans-Sumatra yang nantinya akan menghubungkan Aceh dengan Sumatra Utara.[3][4]

Dahulu, Stasiun Binjai merupakan persimpangan jalur ke Besitang dan jalur ke Kuala, tetapi saat ini jalur kereta api ke Kuala sudah mati dan yang tersisa hanyalah bekas-bekasnya saja.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved