Breaking News:

Kasus Korupsi Pengadaan Sapi Pemkab Asahan, Pemeriksaan Sapi Cuma Lihat-Lihat

Saksi mengaku tidak mengenal pemenang tender pengadaan sapi tersebut, yakni CV. Bangkit Sah Perkasa.

TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Sidang dugaan korupsi pengadaan ternak sapi senilai ratusan juta di Kecamatan Sei Dadap Kabupaten Asahan, dengan terdakwa PNS Nina Syahraini dan Direktur CV. Bangkit Sah Perkasa Muhammad Sahlan di Pengadilan Tipikor Medan, Jumat (29/10/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Terungkap fakta baru dalam sidang dugaan korupsi pengadaan ternak sapi senilai ratusan juta di Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan, dengan terdakwa PNS Nina Syahraini dan Direktur CV Bangkit Sah Perkasa Muhammad Sahlan di Pengadilan Tipikor Medan, Jumat (29/10/2021).

Dalam sidang yang digelar secara daring tersebut, salah seorang saksi yakni Ali Muqhofar mengungkapkan, bahwa ia ditunjuk oleh Kepala Dinas sebagai Ketua Tim Teknis menggantikan ketua sebelumnya yang telah meninggal dunia. 

Ali yang juga menjabat sebagai Pejabat/Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan pengadaan sapi tersebut mengatakan bahwa ia tidak punya ilmu pengetahuan yang cukup di bidang tersebut.

"Ketua sebelumnya meninggal dunia dan saya ditunjuk kadis mengisi kekosongan, walaupun saat itu saya sampaikan tidak punya ilmu pengetahuan dalam hal itu," katanya menjawab Pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roi Baringin Tambunan.

Baca juga: Sidang Kasus Pengadaan Sapi Pemkab Asahan, Sapi yang Dibeli Tidak Sesuai Spesifikasi

Dalam sidang tersebut, saksi juga mengaku tidak mengenal pemenang lelang pengadaan sapi tersebut, yakni CV. Bangkit Sah Perkasa. Dikatakannya saat sampai di lokasi pemilihan sapi, pihaknya bertemu dengan  Muhammad Arif Efendi Alias Toyib.

"Waktu itu kami berangkat ke kandang pengumpulan ternak di Kampung Bunga/Pondok Kucingan di kecamatan Asahan. Ada ratusan sapi di situ, dan langsung melakukan pemeriksaan," katanya.

Ia menuturkan, pemeriksaan sapi tersebut dilakukan oleh Dr Efendi yang merupakan bagian dari Tim Teknis. Adapun proses pemeriksaan kondisi kesehatan ternak dilakukan secara visual atau dengan hanya melihat-lihat.

Sementara itu, saksi lainnya yang dihadirkan ke persidangan, yakni dr Efendi membenarkan hal tersebut, bahwa pemeriksaan sapi tersebut dicek berdasarkan tinggi, umur, dan jenis kelamin.

"80 ekor sapi peranakan Ongol itu diperiksa sesuai spesifikasi. Pemeriksaannya meliputi umur, tinggi, dan jenis kelamin," katanya.

Namun saat dicecar Jaksa apakah pihaknya ada melakukan pencatatan terkait hasil pemeriksaan tersebut, saksi menjawab tidak ada catatan.

"Berarti laporannya tidak ada ya? Tidak ada pencatatan," cetus jaksa.

Selain itu, jaksa juga mencecar terkait sertifikasi maupun uji reproduksi sapi yang diharapkan dapat bereproduksi. Namun saksi menjawab tidak ada, sebab pemeriksaan dilakukan dengan hanya melihat-lihat.

"Apakah dengan mencek secara visual bapak sudah yakin sapinya sesuai spesifikasi? Bisa berkembang biak?" kata jaksa.

"Kita lihat secara visual, kalau soal berkembang biak itu tergantung pemeliharaan kelompok, kalau pakan dan perawatannya cukup diyakni berkembang biak dengan baik," jawabnya.

Usai mendengar keterangan para saksi, majelis hakim yang diketuai Bambang Joko menunda sidang pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi lanjutan. (cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved