Mengenal Strict Parents, Ciri-ciri & Dampaknya ke Anak Serta Cara Mengatasinya

Mengenal strict parents, mulai dari ciri-cirinya, dampaknya ke anak, serta cara mengatasinya.

HO / Tribun Medan
Mengenal strict parents, mulai dari ciri-cirinya, dampaknya ke anak, serta cara mengatasinya. 

TRIBUN-MEDAN.com - Mengenal strict parents, mulai dari ciri-cirinya, dampaknya ke anak, serta cara mengatasinya.

Dalam ilmu psikologi, strict parents diartikan sebagai orangtua yang menempatkan standar tinggi dan suka menuntut anak dengan tuntutan yang tinggi.

Orangtua yang begini cenderung menganut gaya pengasuhan yang bersifat otoritatif atau otoriter.

Ketika orangtua menerapkan standar tinggi kepada anaknya sambil memberikan dukungan dan kasih sayang, itu tandanya mereka bersifat otoritatif.

Umumnya anak yang mendapat pengasuhan yang otoritatif membuat anak menjadi pribadi yang lebih baik.

Sayangnya, sebagian besar strict parents tidak bersifat otoritatif, melainkan otoriter.

Strict parents yang otoriter ditandai dengan perilaku dingin, tidak responsif dan tidak suportif terhadap anaknya.

Mereka cenderung membuat aturan ketat dan sewenang-wenang.

Mereka tidak mengizinkan anaknya menyuarakan opini atau mempertanyakan keputusan yang telah dibuat oleh orangtuanya.

Apa Tanda Orang Tua Yang Ketat

  1. Memiliki banyak aturan ketat dan menuntut
  2. Menuntut anak mereka untuk mematuhi harapan mereka secara membabi buta
  3. Jangan biarkan mempertanyakan otoritas
  4. Menghukum berat karena melanggar aturan apa pun
  5. Dingin, tidak responsif terhadap anak-anak mereka
  6. Gunakan kata-kata yang memalukan dan kasar

Pengaruh Pengasuhan Yang Ketat

Orang tua yang tegas memandang keberhasilan akademis sebagai prioritas dan menilai keefektifan pengasuhan mereka dari kinerja anak-anak mereka di sekolah.

Pola asuh yang ketat seperti ini dapat menghasilkan prestasi akademis yang tinggi di beberapa budaya seperti di banyak negara Asia.

Namun, terlepas dari keberhasilan akademis di beberapa budaya, gaya pengasuhan ini juga mengakibatkan banyak kerusakan pada anak-anak.

Saat anak dididik oleh strict parents, terdapat beberapa dampak buruk yang bisa ia alami:

Tidak bahagia dan depresi

Sebuah studi yang dirilis dalam The Journal of Psychology menyatakan bahwa anak-anak yang diasuh oleh strict parents cenderung tidak bahagia dan bisa menunjukkan gejala-gejala depresi.

Mengundang gangguan perilaku

Pola asuh yang terlalu ketat dianggap bisa mengundang gangguan perilaku pada anak. Sebab, anak dapat mencontoh perilaku orangtuanya yang menganut gaya asuh strict parenting.

Saat orangtua mendisiplinkan anak dengan kekerasan, ancaman, paksaan, serta hukuman, bisa saja anak menjadi menirunya.

Alhasil, sifat membangkang, pemarah, agresif, dan impulsif dapat tertanam di dalam diri anak.

Membuat anak suka berbohong

Saat anak didispilinkan dengan kekerasan, pengekangan, dan tanpa kasih sayang, rasa takut dapat muncul. Untuk menghindari hukuman dari orangtuanya, alhasil anak bisa berbohong.

Misalnya, anak dapat berperilaku baik di depan orangtuanya.

Namun, saat mereka sedang tidak di rumah, anak bisa kembali melakukan perilaku buruk.

Ditambah lagi, orangtua strict parents tidak menyediakan kesempatan bagi anak untuk mengutarakan kejujuran. Hal ini dapat membuat anak jadi suka berbohong dan menyembunyikan sesuatu.

Menjadikan anak tukang bully

Orangtua yang menggunakan kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka mau dari anaknya dapat mengundang sifat bully atau perundungan pada si kecil.

Anak-anak nantinya belajar bahwa mereka bisa menggunakan paksaan dan kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka mau dari teman-temannya.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam American Psychological Association mengungkapkan, pola asuh otoriter dapat membuat anak menjadi tukang bully atau berteman dengan orang-orang yang suka bully.

Menjadikan anak tidak percaya diri

Dikutip dari sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Adolescence, remaja perempuan yang dididik oleh orangtua otoriter tidak mampu membuat keputusan sendiri saat diberikan kesempatan.

Hal ini terjadi karena mereka kurang percaya diri.

Memiliki orangtua dengan gaya asuh strict parents membuat anak-anak terbiasa didikte. Mereka merasa tidak percaya diri untuk membuat keputusan sendiri karena takut keputusan yang dibuat nantinya salah.

Tips Menghadapi Strict Parents

Menghadapi strict parents tidaklah mudah. Diperlukan kesabaran agar tidak menyinggung dan tetap menghargai orang tua.

Berikut tips yang bisa Anda lakukan ketika sedang menghadapi strict parents.

  1. Berikan waktu untuk me time
  2. Mencari moodbooster
  3. Mengalihkan pembicaraan yang bersifat positif
  4. Memaafkan dan menerima orang tua bagaimanapun keadaanya

1. Berikan waktu untuk me time

Anda bisa luangkan waktu untuk menyendiri mengisi ulang energi fisik dan mental Anda.

Anda bisa melakukan me time dengan berbagai cara yang menurutmu sangat menyenangkan bagimu.

Banyak orang melakukan jalan-jalan, shopping, mendaki gunung, pergi ke pantai, staycation di hotel atau sekedar menyendiri di tempat yang tidak ramai membuat dia bisa menikmati dirinya.

Tak hanya itu, me time membuat pikiran Anda lebih rileks, sehingga lebih sabar dalam menghadapi orang tua yang ketat.

Me time juga bisa menjadi cara untuk mencintai dirimu sendiri.

Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri Anda yang rendah karena memiliki strict parents.

2. Mencari moodbooster

Adanya moodbooster ini akan melupakan masalah-masalah yang Anda sedang alami, karena Anda bisa dihibur oleh dirinya. 

Moodbooster bisa saja seorang teman, sahabat, serta apapun itu yang membuat Anda bahagia.

Ketika Anda terpuruk karena toxic parents, Anda akan mencari sesuatu yang bisa membuat Anda kembali senang.

Dengan adanya moodbooster ini penting untuk meminimalisir efek dari strict parents.

Anda akan dihibur, bahkan bisa jadi moodbooster Anda lah yang memahami keaadan Anda.

3. Mengalihkan pembicaraan yang bersifat positif

Saat orang tua sedang membicarakan kemauan dan keinginannya tanpa memberikan dukungan, anda bisa mendengarkannya namun Anda jangan terbawa emosi dan berdebat dengan orang tua.

Bukannya menyelesaikan masalah, berdebat justru akan memperburuk hubungan Anda dengan orangtua.

Lebih baik lagi jika, dialihkan ke pembicaraan yang positif agar orangtua lupa dengan pembahasan yang tidak enak tersebut.

Seperti, Anda memberikan pilihan lain yang lebih baik dari pilihan orang tya atau menanyakan hal apa saja yang menyenangkan.

4. Memaafkan dan menerima orang tua bagaimanapun keadaanya

Anda hanya perlu bersyukur bahwa masih diberikan orang tua, banyak diluaran sana yang orang tuanya sudah tidak ada.

Anda memang tidak pernah bisa memilih lahir dari keluarga yang mana dan dibesarkan dengan cara bagaimana.

Tapi Anda bisa memilih sikap terbaik Anda yang akan dilakukan pada orang tua. 

Terlepas dari segala hal buruk yang pernah Anda alami bersama mereka.

Walaupun memaafkan dan menerima orangtua apa adanya bukanlah hal yang mudah. Tapi, Anda harus belajar menerima semuanya.

(*/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved