Breaking News:

INILAH Penyebab Hujan Lebat di Kota Medan, Terdampak Siklon Tropis Paddy

Bibit siklon tropis 91S terpantau di Samudra Hindia barat daya Sumatera yang membentuk daerah konvergensi yang memanjang di Samudra Hindia barat daya

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Pengendara melintasi genangan air di kawasan Jalan Letjen Suprapto Medan, beberapa waktu lalu. Hujan lebat mengguyur sejak siang hari membuat sejumlah kawasan di Kota Medan tergenang, dampak buruknya saluran drainase. 

TRIBUN-MEDAN.com - Siklon Tropis Paddy yang telah tumbuh kemarin, Selasa (23/11/2021) berdampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.

Berdasarkan keterangan resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), siklon tropis Paddy terpantau di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah dengan kecepatan angin maksimum mencapai 40 knot dan tekanan terendah 995 mb yang bergerak ke arah barat barat laut.

Sistem ini membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi) yang memanjang dari Samudra Hindia barat daya Banten hingga perairan selatan Jawa Timur dan dari Laut Jawa hingga perairan selatan Bali.

Di mana konvergensi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah siklon tropis dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan, sistem ini juga membentuk low level jet dengan kecepatan angin lebih dari 25 knot yang memanjang dari Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga selatan Jawa Barat yang mampu meningkatkan ketinggian gelombang di sepanjang wilayah low level jet tersebut.

"Low Level Jet merupakan fenomena anomali angin kencang di sekitar lapisan troposfer, yang dampaknya secara tidak langsung terjadi Selasa (23/11/2021) petang kemarin," kata Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/11/2021).

Selain itu, bibit siklon tropis 91S terpantau di Samudra Hindia barat daya Sumatera yang membentuk daerah konvergensi yang memanjang di Samudra Hindia barat daya Sumatera.

"Potensi dalam 24 jam kedepan untuk menjadi siklon tropis yakni rendah," ujarnya.

Sirkulasi siklonik terpantau di Selat Malaka, di Samudra Pasifik utara Papua Barat, dan di Laut Banda bagian selatan yang membentuk daerah konvergensi yang memanjang dari Malaysia hingga Aceh, di Samudra Pasifik utara Papua-Halmahera, di Laut Arafuru.

Daerah konvergensi lainnya terpantau memanjang dari Riau hingga Kepulauan Riau, dari Sumatera Selatan hingga Bangka Belitung, dari Kalimantan bagian tengah hingga Kalimantan Selatan, dan di Laut Sulawesi.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved