News Video

Sebulan Banjir Sei Rampah Tak Juga Surut, Warga: Diare dan Gatal-gatal Belum Ada

Meski tak separah beberapa pekan yang lalu, banjir yang melanda Kecamatan Sei Rampah, Serdangbedagai (Sergai), Sumatera Utara

TRIBUN-MEDAN.com, SERGAI - Meski tak separah beberapa pekan yang lalu, banjir yang melanda Kecamatan Sei Rampah, Serdangbedagai (Sergai), Sumatera Utara, hingga kini tak kunjung surut dan masih merendam ribuan rumah warga.

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Sei Rampah, sudah terjadi selama sebulan lamanya. Namun ketinggian air yang merendam rumah warga tidak separah beberapa Minggu yang lalu.

Curah hujan yang tinggi, dan meluapnya Sungai Bedagai membuat ribuan rumah warga yang berada di Kecamatan Sei Rampah masih terendam.

Seperti halnya rumah salahseorang warga bernama Saripah (73) yang rumahnya berada tak jauh dari Sungai Bedagai.

Ia mengatakan sudah berada di tenda pengungsian yang ia bangun bersama anaknya selama sebulan karena rumahnya yang masih terendam banjir.

"Kalau saya di sini sudah ada satu bulan. Ini saya berada di tenda yang saya buat sendiri bersama anak," ujar Saripah, Jumat (3/12/2021).

Lanjut Saripah, selama satu bulan ini ia hanya tinggal sendirian di dalam tenda. Sedangkan anaknya berada di dalam rumah yang saat ini kondisinya masih terendam banjir.

Amatan wartawan www.tribun-medan.com, tampak sejumlah peralatan rumah tangga seperti, kompor, panci, dan peralatan dapur lainnya tersedia di dalam tenda milik Saripah.

"Saya tinggal di tenda ini sendirian, sedangkan anak saya berada di dalam rumah. Ya begini lah keadaannya, peralatan dapur di sini semua di dalam tenda," ujar Saripah.

Saripah juga menjelaskan, beberapa Minggu yang lalu, ketinggian air di rumahnya sepinggang orang dewasa, namun saat ini udah jauh menurun.

Saat disinggung apakah tidak ada kecemasan tinggal di tenda yang didirikan di pinggir Sungai Bedagai, Saripah hanya bisa pasrah. Jika balik ke rumah, ia takut banjir akan naik lagi.

"Kalau dibilang was-was mendirikan tenda di pinggiran sungai, ya begitu lah. Karena ini belum habis bulan Desember, biasanya air akan naik lagi. Apalagi curah hujan masih tinggi hingga sampai saat ini," ujar Saripah.

Sementara itu, jika di malam hari apalagi ketika hujan turun membasahi tendanya serta angin yang kencang, Saripah hanya bisa berlindung dibalik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

"Kalau kedinginan mau dibilang bagaimana lagi, mau tidur di mana, mau gak mau bertahan di dalam tenda ini saja," ujar Saripah.

"Dari lahir saya tinggal di Kecamatan Sei Rampah, banjir berulang kali terjadi setiap tahunnya, baru inilah seumur hidup tidur di tenda seperti ini. Karena banjir pada kali ini parah dibandingkan tahun sebelumnya," sambungnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved