Temuan Baru Ilmuwan Afrika soal Varian Omicron, Gejala tak Biasa Cepat Menular

Data rumah sakit di Afrika Selatan menunjukkan, pasien Covid-19 meningkat tajam di lebih dari setengah sembilan provinsi.

Editor: Salomo Tarigan
TribunVideo/Radifan Setiawan
ILUSTRASI Virus Corona/Covid-19 

#GejalaOmicron tak Biasa  

#Temuan baru varian omicron

TRIBUN-MEDAN.com - Ilmuwan Afrika Selatan tidak melihat tanda varian Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah, Jumat (10/12/2021).

Afrika Selatan memperingatkan dunia tentang Omicron akhir bulan lalu, memicu alarm bahwa varian yang sangat bermutasi itu bisa memicu lonjakan baru dalam infeksi global.

Data rumah sakit di Afrika Selatan menunjukkan, pasien Covid-19 meningkat tajam di lebih dari setengah sembilan provinsi.

Namun kematian tidak meningkat secara dramatis dan indikator seperti rata-rata lama rawat inap di rumah sakit rendah.

Baca juga: TAJIR MELINTIR Ladyboy Sukses Dinikahi Pengusaha Kaya, Sang Pria Tergila-gila Rela Ceraikan Istri

Meskipun para ilmuwan menyatakan lebih banyak waktu diperlukan untuk sampai pada kesimpulan yang pasti, Menteri Kesehatan Afrika Selatan Joe Phaahla mengatakan tanda-tanda keparahannya minim.

Baca juga: SITUASI Memanas dengan Malaysia, Filipina Siapkan Serangan, Perebutan Sabah di Kalimantan

"Data awal memang menunjukkan, sementara ada peningkatan tingkat rawat inap, tapi sepertinya itu murni karena angkanya dan bukan sebagai akibat dari keparahan varian Omicron," katanya, seperti dikutip Reuters.

Afrika Selatan melaporkan lebih dari 22.000 kasus baru Covid-19 pada Kamis (9/12), rekor selama gelombang keempat infeksi saat ini yang didorong oleh varian Omicron.

Baca juga: Beraninya Gadis Muda Sendiri Terbangkan Pesawat Keliling Dunia Tempuh 51 Ribu Km ke 52 Negara

Tetapi, angka itu masih di bawah puncak tertinggi dengan lebih dari 26.000 kasus harian selama gelombang ketiga yang dipicu oleh varian Delta.

Afrika Selatan telah sepenuhnya memvaksinasi sekitar 38% orang dewasa, lebih banyak dari negara Afrika lainnya tapi jauh dari target akhir tahun pemerintah.

Baru-baru ini, beberapa pengiriman vaksin tertunda karena kelebihan pasokan akibat laju inokulasi melambat.

Sebuah studi kecil dari lembaga penelitian Afrika Selatan minggu ini menunjukkan, varian Omicron sebagian bisa menghindari perlindungan dari dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech.

Glenda Gray, Presiden Dewan Riset Medis Afrika Selatan, mengatakan, ada jauh lebih banyak orang yang tidak divaksinasi di antara pasien yang dirawat di rumah sakit, dan buktinya adalah vaksin Pfizer-BioNTech masih menawarkan perlindungan.

"Kami melihat vaksin ini mempertahankan efektivitasnya. Mungkin sedikit berkurang, tetapi kami melihat efektivitas untuk perawatan di rumahsakit dan itu sangat menggembirakan," ujar dia, seperti dikutip dari Reuters.

Gejala Omicron

Dikutip dari Metro.co.uk, gejala varian Omicron disebutkan "sangat ringan" dan diyakini menunjukkan gejala yang sama seperti varian Covid-19 lainnya.

Berikut ini gejala Omicron, yang dirangkum Tribunnews.com dari Metro.co.uk dan NDTV,

1. Suhu tinggi di bagian dada atau punggung;

2. Kelelahan luar biasa;

3. Tidak ada penurunan signifikan tingkat saturasi oksigen;

4. Tidak mengalami kehilangan rasa atau bau;

5. Tenggorokan gatal;

6. Sebagian besar pasien pulih tanpa rawat inap.

Walaupun gejalanya digambarkan sangat ringan, varian Omicron ini dapat menular dengan cepat.

Dikutip dari CNBC, Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan, Dr Angelique Coetzee, menggambarkan gejala Omicron "sangat ringan".

Coetzee mengatakan, pada 18 November 2021 ia mulai melihat pasien yang datang dengan "gejala yang tidak biasa", yang sedikit berbeda dari varian Delta.

"Dimulai dengan seorang pasien lelaki berusia 33 tahun, dan dia berkata bahwa dia sangat lelah selama beberapa hari terakhir."

"Dia juga merasakan sakit dan nyeri di tubuhnya, ditambah sedikit sakit kepala," ujar Coetzee pada BBC, Minggu (28/11/2021).

Coetzee menambahkan, pasien itu tidak mengalami sakit tenggorokan, namun terasa gatal.

Tetapi, ia tidak mengalami gejala batuk dan kehilangan rasa atau bau, gejala yang dikaitkan dengan jenis virus sebelumnya.

Coetzee menguji pasien itu dan hasilnya positif.

Tak hanya itu, empat anggota keluarga si pasien juga dinyatakan positif Covid-19 varian Omicron.

Di hari itu, ia juga melihat lebih banyak pasien bergejala sama, yang berbeda dari varian Delta.

Sekitar setengah dari pasien Coetzee diketahui tidak divaksinasi.

Hal tersebut mendorongnya memperingatkan komite penasihat vaksin Afrika Selatan, di mana ia juga menjadi anggotanya.

Pasien varian Omicron lain yang Coetzee lihat sejauh ini, juga mengalami apa yang ia gambarkan sebagai gejala "sangat ringan".

 Terungkap Kronologi Kecelakaan Gaga Muhammad yang Bikin Laura Anna Lumpuh, 12,6 M Dianggap Terlalu

Gejala Varian Delta meski Sudah Divaksin

Gejala pada varian Delta bisa menyebar dengan cepat di antara orang yang belum divaksin.

Namun, varian Delta juga bisa saja menginfeksi orang yang sudah divaksin dua kali.

Diketahui, varian Delta ini pertama kali didokumentasikan di India pada Oktober 2020 dan merupakan varian yang paling dominan.

Diwartakan Tribunnews.com sebelumnya, studi besar menganalisis data yang dikumpulkan menggunakan aplikasi Zoe COVID Study antara 8 Desember 2020 hingga 4 Juli 2021.

Hanya sebagian kecil responden yang divaksinasi lengkap melaporkan infeksi simtomatik (bergejala).

Dari 906 pasien yang termasuk dalam kelompok infeksi simtomatik tersebut, dengan rincian:

- 39 persen melaporkan bersin sebagai gejala;

- 41,6 persen melaporkan sakit kepala;

- 43 persen pilek;

- 43,7 persen mengalami kelelahan;

- 61,9 persen mengalami demam.

Baca juga: Kisah Pilu Nenek Rodiah Usia 72 Tahun Dipolisikan 5 Anaknya Gara-gara Harta Warisan

Meskipun sebagian kecil responden menunjukkan tanda-tanda penyakit, penelitian ini menambah banyak bukti bahwa vaksin sangat efektif melawan penyakit terobosan.

Hanya 0,5 persen dari pasien yang divaksinasi satu kali dan 0,2 persen pasien yang divaksinasi penuh dalam penelitian ini dinyatakan positif Covid-19.

Penelitian ini juga menemukan bahwa infeksi lebih mungkin muncul tanpa gejala pada mereka yang sudah divaksinasi penuh.

Selain itu, mereka yang telah menerima kedua suntikan vaksin juga hanya memiliki setengah kemungkinan untuk memiliki gejala berkepanjangan yang dikenal sebagai Long-Covid.

(*/TRIBUN-MEDAN.com)

Baca juga: Beraninya Gadis Muda Sendiri Terbangkan Pesawat Keliling Dunia Tempuh 51 Ribu Km ke 52 Negara

Baca juga: TAJIR MELINTIR Ladyboy Sukses Dinikahi Pengusaha Kaya, Sang Pria Tergila-gila Rela Ceraikan Istri

Dikutip dari Tribunnews.com/kontan

Baca Selanjutnya: Omicron 

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved