SOSOK Pdt J Wismar Saragih, Tokoh di Balik Berdirinya Gereja Kristen Protestan Simalungun
Ia adalah pendeta pertama asal Simalungun dan juga merupakan sosok dibalik berdirinya Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN - Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga melakukan peletakan batu pertama Pembangunan Monumen Pahlawan Simalungun Pdt. J. Wismar Saragih di Jalan Pdt Wismar Saragih Pematang Raya Kabupaten Simalungun, Sumut, Senin (24/1/2022) yang lalu.
Dalam sambutannya Bupati menyampaikan bahwa Pdt J Wismar Saragih adalah tokoh dan pahlawan Simalungun.
Ia adalah pendeta pertama asal Simalungun dan juga merupakan sosok dibalik berdirinya Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
Baca juga: Presiden Jokowi Minta Pasien Covid-19 Tak Bergejala Isoman 5 Hari di Rumah
"Bukan hanya dalam bidang keagaaman khususnya di GKPS, tapi tokoh Simalungun yang dulunya eksis memperjuangkan nilai-nilai Budaya Simalungun,"kata Bupati.
"Sudah sepantasnyalah kita, seluruh elemen masyarakat Simalungun termasuk pemerintah memberi dukungan dalam pembangunan monumen Pdt J Wismar Saragih,"tambah Bupati.
Menurut Bupati, dukungan itu, sebagai bukti bahwa kita selaku generasi saat ini tidak melupakan sejarah perjuangan Pdt J Wismar Saragih.
"Dengan berdirinya monumen ini, saya berharap Raya sebagai Ibukota Kabupaten Simalungun bisa menjadi kota iman yang senantiasa diberkati Tuhan,"ujarnya.
Sekilas tentang Pendeta Jaulung Wismar Saragih. Beliau lahir tahun 1988 di Pamatang Raya, Ibukota Kabupaten Simalungun sekarang.
Jaulung menerima tawaran tuan pendeta Jerman untuk dibaptis sebagai deklarasi diri untuk memeluk agama Kristen.
Ia dibaptis tanggal 11 September 1911 dengan nama baru, Jaulung Wismar Saragih. Nama Wismar adalah nama baptisnya.
Baca juga: Wanita 222 Kg Jual Videonya Terjepit di Pintu dan di Mobil, Dalam Sebulan Bisa Hasilkan Rp 28 Juta
Dengan nama barunya, Jaulung tumbuh dan besar sebagai laki-laki yang visioner.
Ia meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Kweekschool (sekolah guru) di Narumonda, Tapanuli, selama tahun 1911-1915.
Setelah lulus ia sempat mengajar selama 6 tahun. Namun pengangkatannya sebagai pegawai negeri pada tahun 1921 menghentikan kariernya sebagai guru.
Di tahun yang sama itu ia sempat menjabat sebagai Pangulu Balei, satu jabatan Sekretaris Wilayah pada pemerintahan Kerajaan Panei.
Saat terbuka kesempatan untuk menjadi Pendeta pada tahun 1927, ia meninggalkan profesinya sebagai pegawai negeri dan mendaftarkan diri. Ia diterima di sekolah pendeta HKBP di Sipoholon, Tapanuli (1927-1929).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pendeta-J-Wismar-Saragih-dalam-biografinya-JW-Saragih-Rasul-Simalungun.jpg)