Breaking News:

Alissa Wahid Minta Kapolda Bebaskan Warga Wadas Ditahan, Gubernur Ganjar Diminta Tunda Ukur Tanah

Kasus kericuhan Wadas jadi sorotan. Pemerintah dan aparat sasaran kritik sejumlah pihak. Komnas HAM, DPR, LBH, amnesty internasional hingga Kontr

Editor: Salomo Tarigan
DOK/TRIBUN MEDAN/ FATAH BAGINDA GORBY
Puteri Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid 

TRIBUN-MEDAN.com - Kasus kericuhan Wadas jadi sorotan. Pemerintah dan aparat sasaran kritik sejumlah pihak.

Dari Komnas HAM, DPR, LBH, amnesty internasional hingga Kontras.

Tak ketinggalan Jaringan Gusdurian angkat bicara. 

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid atau Alissa Wahid, meminta Kapolda Jateng untuk membebaskan warga Wadas yang ditahan oleh pihak kepolisian.

Warga Desa Wadas, Purworejo yang menolak tambang menjadi bagian dari proyek bendungan
Warga Desa Wadas, Purworejo yang menolak tambang menjadi bagian dari proyek bendungan (tangkap layar akun Instagram, @wadas_melawan)

Alissa Wahid juga meminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menunda pengukuran lahan untuk pertambangan batuan andesit di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Dia menilai, tindakan pengukuran lahan perlu dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan masyarakat setempat.

"Atas nama Gusdurian, kami meminta Kapolda Jateng untuk membebaskan warga Wadas yang ditahan. Juga meminta kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk menunda pengukuran tanah, dan lain-lain sampai kita selesai bermusyawarah, dan menghindarkan clash antara rakyat dengan aparat negara," kata Alissa, seperti dikutip Tribun dari akun twitternya, Rabu (9/2/2022).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo konferensi pers terkait kericuhan di Desa Wadas, Rabu (9/2/2022).
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo konferensi pers terkait kericuhan di Desa Wadas, Rabu (9/2/2022). (Tribun Medan)

Ketua PBNU itu mengatakan, setiap rencana pembangunan dengan tujuan lebih besar seharusnya rakyat dilibatkan dan diajak untuk berdialog.

Dengan cara tersbeut agar tidak ada yang merasa dikorbankan.

"Berapa banyak rakyat kecil yang sudah dikorbankan atas nama pembangunan?," ucapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden penyerbuan aparat kepolisian tersebut dalam rangka pembebasan dan pengukuran lahan penambangan material andesit untuk Bendungan Bener.

Pembebasan lahan mendapat penolakan dari warga. Konon, mereka menganggap lahan itu adalah sumber kehidupan dan apabila ditambang berarti sama dengan menghilangkan penghidupan warga Wadas.

Perjuangan warga Wadas mempertahankan tanahnya dari rencana tambang ini telah dilakukan beberapa tahun belakangan, hingga akhirnya terjadi bentrok antara polisi dan warga pada hari ini.

Polda Jawa Tengah juga telah membenarkan bahwa ada sekitar 23 orang yang diamankan atas dugaan anarkis. Mereka langsung digelandang ke Polsek Bener untuk dilakukan interogasi.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved