Mengapa Semakin Banyak Negara Arab Jatuh Dalam Pelukan Israel? Ini Analisis Pakar!

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menyatakan keinginannya untuk mendekati Israel.

Haim ZACH / GPO / AFP
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett (tengah) bertemu dengan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al-Zayani (kedua dari kiri), Menteri Pariwisata dan Industri Zayed bin Rashid al-Zayan (ke-2-kanan), Menteri Transportasi dan Telekomunikasi Kamal bin Ahmed Mohammed, dalam rangka kunjungan resminya ke Bahrain, Februari lalu. Bennett tiba di Bahrain untuk kunjungan resmi pertama oleh seorang kepala pemerintahan Israel ke negara Teluk itu, 17 bulan setelah mereka menentang ketegangan selama puluhan tahun untuk menormalkan hubungan diplomatik. 

TRIBUN-MEDAN.com - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menyatakan keinginannya untuk mendekati Israel.

MBS bahkan menyebut Israel sebagai sekutu potensial dalam banyak kepentingan.

"Kami tidak melihat Israel sebagai musuh, kami melihat mereka sebagai sekutu potensial dengan banyak kepentingan yang dapat kami kejar bersama," kata MBS dalam sebuah wawancara kepada The Atlantic.

"Akan tetapi, kami harus menyelesaikan beberapa masalah sebelum mencapai itu," sambungnya.

Kendati demikian, MBS tetap menaruh harapan besar terkait konflik Palestina-Israel agar bisa segera diselesaikan.

Sikap MBS itu menambah daftar panjang negara Arab yang jatuh ke pelukan Israel.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memimpin KTT Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di ibukota Arab Saudi, Riyadh pada 14 Desember 2021.
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memimpin KTT Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di ibukota Arab Saudi, Riyadh pada 14 Desember 2021. (Bandar AL-JALOUD / Istana Kerajaan Saudi / AFP)

Normalisasi hubungan negara Arab dengan Israel dimulai dari Uni Emirat Arab pada 13 Agustus 2020 dan disusul Bahrain pada 15 September 2020.

Bagi Pangeran UEA Muhammed bin Zayed, perjanjian damai itu akan menjadi mercusuar bagi pencinta perdamaian dan memungkinkannya untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Sementara Bahrain memiliki alasan tersendiri terkait normalisasi hubungan dengan Israel.

Satu di antara alasan mereka adalah untuk membeli "jaminan" dari Israel dan AS karena khawatir tentang Iran, menurut catatan Australian Strategic Policy Institute.

Dengan keterlibatan militer AS pada setiap lini konflik Timur Tengah, negara Teluk semakin menganggap Israel sebagai pelindung mereka dari Iran.

Setelah dua negara Teluk tersebut, dua negara Arab lain yang jatuh ke pelukan Israel adalah Sudan dan Maroko.

Sudan secara resmi menandatangani normalisasi hubungan dengan Israel pada Januari 2021. Setelah adanya kesepakatan damai itu, Sudan mendapatkan akses ke lebih dari 1 miliar dollar AS dalam biaya tahunan.

Kedutaan Besar AS di Khartoum mengatakan, perjanjian itu akan membantu Sudan lebih jauh dalam jalur transformasinya menuju stabilitas, keamanan, dan kesempatan perekonomian.

Maroko dan normalisasi dengan Israel

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved