Ade Armando Babak Belur
Datang Untuk Memberi Dukungan, Dosen UI Ade Armando Malah Dihajar Pendemo hingga Babak Belur
Sebelumnya Ade Armando datang ke lokasi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (11/4) sekitar pukul 12.
Nama Ade Armando tentunya tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia terlebih bagi yang aktif berselancar di media sosial.
Ade Armando adalah dosen yang telah bergelar doktor lahir pada 24 September 1961. Pada 2022 ini Ade Armando menginjak usia 61 tahun.
Ia juga pernah menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (2004–2007). Pada 1991, Ade Armando menikahi Nina Mutmainnah, adik tingkatnya di kampus.
Mereka sama-sama aktif di Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK) dan Senat Mahasiswa.
Nina adalah seorang akademisi, yang kini menjabat sebagai Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI. Mereka memperoleh dua orang anak bernama Yasmin Rifdaniar dan Feisal Irfansyah.
Ade Armando berdarah Minangkabau dari orangtua. Ia adalah anak dari Mayor Jus Gani dan Juniar Gani. Melansir dari wikipedia, Ade Armando adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.
Ayahnya adalah seorang diplomat yang terpaksa harus turun setelah terkena dampak runtuhnya rezim Soekarno.
Jus Gani pernah menjadi atase di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Maroko dan Filipina.
Setelah dipecat dari militer, ia merantau membawa keluarganya ke Malaysia untuk berdagang.
Saat menuntut ilmu di Malaysia, Ade Armando sempat dipermalukan oleh seorang guru di depan teman-temannya karena tidak lancar berbahasa Inggris.
Hal itu memacunya untuk belajar hingga bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Pada 1968, keluarganya kembali ke Indonesia dan menetap di Bandung.
Ade Armando mengenyam pendidikan di SD Banjarsari I Bandung (tamat 1973), SMP Negeri 2 Bogor (tamat 1976), dan SMA Negeri 2 Bogor (tamat 1980).
Sesuai saran ayahnya, setamat SMA ia mendaftar kuliah di FISIP UI untuk menjadi diplomat.
Namun, karena nilai mata kuliah ilmu pengantar politiknya rendah, ia pindah ke jurusan ilmu komunikasi. Di kampus, ia aktif dalam pers mahasiswa di Warta UI.
Ia mengaku berjualan rempeyek di kampus untuk menutupi uang kuliahnya. Ia belajar menjadi wartawan dari Rosihan Anwar dan Masmimar Mangiang.