Rahmat International Wildlife Museum & Gallery Siap Layani Kunjungan Masyarakat Selama Libur Lebaran
Masyarakat dapat menghabiskan waktu liburan sambil belajar tentang dunia satwa atau hewan liar yang ada di Museum Rahmat Gallery bersama keluarga.
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN – Suasana liburan kali ini, masyarakat dapat menghabiskan waktu liburan tidak hanya berkunjung ke berbagai lokasi wisata yang ada, namun juga dapat menghabiskan waktu sambil belajar dan juga menambah ilmu pengetahuan tentang dunia satwa ataupun hewan-hewan liar yang ada di Museum Rahmat Gallery bersama keluarga tercinta.
Tidak perlu harus pergi ke tengah hutan untuk berburu satwa liar tersebut, di Rahmat International Wildlife Museum and Gallery ini anda dapat belajar banyak tentang satwa liar dan juga berbagai macam habitat satwa yang ada.
Rahmat International Wildlife Museum and Gallery ini merupakan satu-satunya di Asia yang telah masuk Record Book, dimana prestasi yang diraih oleh museum ini selain penghargaan nasional dan internasional dalam bidang konservasi, pelestarian, pencegahan kepunahan satwa liar dan habitatnya dan juga merupakan satu-satunya di antara tempat destinasi wisata edukasi yang sangat direkomendasi untuk dikunjungin selama libur lebaran bersama keluarga.
Ketika memasuki Rahmat International Wildlife Museum and Gallery yang berlokasi di Jalan S. Parman nomor 309 Medan ini, anda bisa menyaksikan sekitar 2600 spesies dengan 5000 lebih spesimen dari penjuru dunia. Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar.
Di tempat ini, anda juga dapat melihat koleksi berbagai jenis binatang yang sudah diawetkan. Binatang ini adalah hasil buruan legal dan hasil sumbangan lembaga, serta rekan Rahmat Shah selaku pemilik galeri.
Selama berkeliling di kawasan seluas kurang lebih 3000 m2, pengunjung akan mendengar backsound aneka suara binatang seperti di hutan pada malam hari. Juga audio visual tentang kekayaan alam hutan dan pembantaian satwa langka yang sangat memprihatinkan, serta contoh perburuan konservasi dengan konsep pemanfaatan yang telah diterapkan di berbagai negara untuk menambah populasi satwa dan melestarikan hutan habitatnya.
Manager Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Nelly R menjelaskan bahwa Rahmat International Wildlife Museum and Gallery ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Juwono Sudarsono pada tanggal 14 Mei 1999.
"Karena besarnya minat masyarakat maka dilakukan perluasan bangunan baru yang megah dan impresif sehingga semakin lengkap. Bangunan ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 13 November 2007," ujarnya.
Nelly menambahkan seluruh satwa yang ada di sini merupakan koleksi selama 30 tahun, namun baru dijadikan museum 20 tahun terakhir. Sebagai lembaga konservasi pada tanggal 28 November 2013 telah dilakukan pengembangan kembali dan diresmikan oleh Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan.
"Meskipun museum ini belum bisa menutupi biaya operasional tetapi museum ini tetap dapat memberi motivasi dan mendidik agar para pengunjungnya bisa lebih mencintai dan peduli terhadap alam," ujarnya.
Pendiri Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Rahmat Shah merupakan penggemar olahraga berburu profesional dunia dan seorang konservasionis serta pencinta alam.
Ia lahir di desa tetapi telah berpetualang di berbagai penjuru dunia untuk mempelajari tentang konsep konservasi dengan pemanfaatan. Konsep SPI ini telah diterapkan oleh berbagai negara diantaranya Amerika, Kanada, Rusia, Jerman, Turki, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Austria, China, Kazakhstan, Romania, Mexico, Mongolia, Iran, Pakistan, Australia, New Zealand, Afrika dan negara lainnya guna mencegah kepunahan satwa liar sekaligus mempertahankan hutan habitatnya.
"Melalui Rahmat International Wildlife Museum and Gallery ini, beliau mengajak kita untuk lebih mengenal keanekaragaman satwa liar yang ada di dunia kepada masyarakat dari berbagai kalangan agar turut peduli dan terpanggil untuk lebih menyayangi dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dan satwa liar. Warisan ini untuk anak cucu kita karena flora dan fauna bukan hanya milik suatu negara tetapi milik dunia," kata Nelly.
Fasilitas lainnya yang tersedia adalah perpustakaan, Hunter's Cafe and Souvenir, dan Legend International Hall.
"Perpustakaan di sini dilengkapi dengan buku mengenai berbagai jenis satwa dan habitat dari beberapa negara. Pengunjung dapat membaca buku tersebut agar dapat menambah pengetahuan serta menyadarkan betapa pentingnya mencegah kepunahan satwa liar," kata Nelly.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rahmatgallery.jpg)