TRIBUNWIKI

SOSOK Horaman Saragih, Pria Berdarah Batak yang Mewariskan Harta Pendidikan Bagi Anak Hingga Cucunya

Dibalik Kesuksesan anaknya, ada pengorbanan Horman Saragih dan istrinya dalam memperjuangkan pendidikan seluruh anaknya.

Penulis: Tria Rizki | Editor: Ayu Prasandi
HO
Horaman Saragih dalam Kick Andy Show di MetroTV 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN – Pasangan Horaman Saragih dan Pinta Uli Sitorus bersepakat untuk mewariskan pendidikan daripada harta.

Demi mewujudkan hal ini, suami-istri yang berasal dari Pematang Siantar, Sumatera Utara mengalokasikan dana dalam pendidikan anak hingga cucunya.

Hal ini berbuah manis, Mereka sukses mengantarkan kelima anaknya untuk meraih gelar Doktor dan para menantu juga melanjutkan pendidikan ke Magister.

Dibalik Kesuksesan anaknya, ada pengorbanan Horman Saragih dan istrinya dalam memperjuangkan pendidikan seluruh anaknya.

Baca juga: SOSOK Aji Pangestu, Pak Guru yang Menjadi Messuer di Klub PSDS Deliserdang

Lantas, Siapakah sosok Horaman Saragih ?

Horaman Saragih merupakan pria berdarah Batak Simalungun yang berusia 78 tahun, dia berkarir di Departemen Tenaga Kerja.

Sedari berumur 1 tahun, dia tinggal bersama bapak dan ibu sambungnya karena ibu kandungnya meninggal dan hingga saat ini dia tak mengetahui wajah ibu kandungnya.

Setelah itu, bapak menikah kembali dan kami tinggal bersamanya yang menganggap kami seperti anaknya sendiri.

Setelah lulus SMA, dia mencoba peruntungan dengan melamar di Akademi Militer hingga lulus dari Kodam II.

Horaman Saragih pun dikirim ke Magelang dan disana menjalani latihan yang benama pantokhir , namun disana di suruh pulang karena kalah.

Namun tidak merta pulang langsung ke Medan atau Siantar, dia bertekat untuk tetap di pulau Jawa.

“Lebih baik saya mati di Jawa daripada Sumatera, karena anggapan saya surga itu dekat dari Jawa dan saya sering lihat keluarga pulang dari Jawa hebat-hebat. Lalu saya ke Bandung dan tidak memiliki keluarga, yang saya lakukan adalah menjual karcis Bandung ke Jakarta, Bandung ke Surabaya, Surabaya ke Semarang,” katanya.

Baca juga: SOSOK Ayah Lesti Kejora: Dulu Kuli Bangunan, 6 Tahun Jadi ART di Rumah Keluarga Tamara Bleszynski

Selama di Jawa, dia mencoba peruntungan dalam bertahan hidup dengan menjual koran hingga berhasil berkarir di Departemen Tenaga Kerja.

“Pagi-pagi saya lihat banyak koran di alun-alun, jadi saya menjual kembali koran seharga 10 sen  tersebut, selama 1 tahun kemudian saya lihat ada pengumuman penerimaan Akademi Industri Militer Pabrik Senjata di Departemen Tenaga Kerja,”ucapnya.

Horaman Saragih segera melamar dan berhasil lulus Departemen Tenaga Kerja dan tahun 1972 pulang kampung.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved