Loper Jadi Jenderal
Sepak Terjang Dudung Abdurachman di TNI, Dari Loper Koran Jadi Jenderal!
"Setiap peringatan 17 Agustusan di asrama, habis setiap nomor olahraga, dari bulutangkis, sepak bola sampai tenis meja, disapu bersih oleh Dudung dan
TRIBUN-MEDAN.COM - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman telah menjabat sejak 17 November 2021.
Dalam era militer Indonesia modern, karier Jenderal Dudung disebut banyak pengamat sebagai "rising star". Dudung menjalani pangkat bintang dua - bintang tiga - bintang empat hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun.
Dikutip dari tulisan Imelda Bachtiar dalam buku biografi berjudul: "Loper Koran Jadi Jenderal, Seni Kepemimpinan" yang diterbitkan Kompas.com pada 26 Mei 2021, dipaparkan bahwa dalam catatan perjalanan karier setiap prajurit, Dudung dinilai utuh setelah terbukti mampu menjalankan tugas staf, menjadi pendidik, bertugas di teritorial, sekaligus meraih sukses diuji di lapangan pertempuran.
Penugasan Jendral Dudung sangat beragam, mulai dari pengalaman operasi di Timor Timur, pengalaman teritorial terbanyak di bawah Kodam II Sriwijaya, sampai pengalaman memimpin institusi pendidikan Akademi Militer sebagai Wakil Gubernur (2015-2016), dan sebagai Gubernur Akmil (2018-2020).
Kemudian menjadi Panglima Komando Daerah Militer Jaya/Jayakarta (Kodam Jaya/Jayakarta) (2020). Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (KOSTRAD) (2021). Kini, menduduki Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sejak 17 November 2021 setelah dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
Jenderal Dudung merupakan salah satu jejak aplikasi kepemimpinan militer yang jujur dan terbuka, sehingga bisa ditiru oleh siapapun yang tertarik, baik itu sipil maupun militer.
Loper Koran Jadi Jenderal
Dudung Abdurachman merupakan anak ke-6 dari delapan bersaudara dari pasangan almarhum Bapak Achmad Nasuha, PNS-TNI yang orang Cirebon dan almarhumah Ibu Hajah Nasiyati, ibu rumah tangga, putri kelahiran Serang-Banten.
Almarhumah Ibu Hajah Nasiyati dengan sendirian menafkahi Dudung bersama tujuh kakak adiknya setelah sang suami berpulang pada tahun 1981.
Diceritakan Erny, adik bungsu Dudung, yang biasa dipanggil Eneng sejak mereka kanak-kanak. Saat Dudung bertugas sebagai Gubernur Akademi Militer, Erny pernah bertanya, apa yang membuatnya begitu mudah dan lancar dalam karier militernya? Dudung lantas menjawab, "doa ibu saya".
“Doa ibu, restu ibu, dukungan ibu, selalu bertanya pada ibu” adalah kata-kata yang sering diulang Dudung dalam berbagai kesempatan ketika ditanyakan pertanyaan yang sama. Kutipan kata-katanya yang tepat menjadi motivasi, khususnya untuk kaum muda, adalah: “Bila punya cita-cita, luruslah pada cita-cita itu, selalu mohon restu Ibu dan selalu berdoa pada Yang Maha Pemberi.”
Doa ibunda, menurut Dudung, tertuang dalam masakan. Semua masakan yang sampai hari ini jadi kegemaran utama Dudung adalah selera kampung ibundanya, masakan Banten.
Ibunda Dudung dan Erny bersaudara, Hajah Nasiyati, lahir di Kota Serang Banten, 25 Oktober 1935; meninggal dunia di Bandung 13 Desember 2012.
Hajah Nasiyati merupakan Putri Banten asli dengan kedua orang tuanya juga berasal dari Serang-Banten yaitu pasangan Haji Abdul Halim dan Ibu Hajah Sama’iah.
Kegemaran memasak ibunda Nasiyati inilah yang kemudian menjadi penopang nafkah sekeluarga dengan delapan putra-putri.